Raih Doktor, Ibas Singgung UMKM dalam Disertasinya

Edhie Baskoro Yudhoyono dalam Paparan Sidang Doktoral yang Disiarkan Secara Daring (Dok Tangkap Layar YouTube Edhie Baskoro Yudhoyono)

KBRN, Jakarta: Politisi dari Partai Demokrat (PD), Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang akrab disapa Ibas, resmi mendapatkan gelar Doktor Manajemen Bisnis dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada Kamis, 10 Juni 2021. 

Uniknya, dalam pemaparan sidang Doktoral itu, putra bungsu dari Presiden ke-5 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut menyinggung sejumlah kendala dalam perputaran ekonomi kecil dari para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). 

Dalam disertasinya yang berjudul "Strategi Pembiayaan dan Investasi untuk Pengembangan Pariwisata Terpadu yang Berkelanjutan dan Inklusif", ibas membeberkan bahwa kendala pengembangan kawasan pariwisata terpadu itu disebabkan karena adanya berbagai langkah kongkrit dalam pengembangan destinasi pariwisata secara matang bagi para oelaku UMKM. 

"Belum ada studi yang secara khusus mengkaji strategi pembiayaan dan investasi untuk pengembangan pariwisata terpadu, inklusif, dan berkelanjutan, terutama strategi yang berbasis pada data-data empiris dan pemodelan statistik," kata Ibas dalam sidang Doktoralnya yang disiarkan secara daring, Jakarta (10/6/2021). 

Lebih lanjut, dalam disertasinya Ibas menerangkan lima tujuan dari hasil penelitiannya. 

Bahkan, untuk meyakinkan para penguji disertasinya itu, Ibas mengaku bahwa Ia telah melakukan survey terhadap ratusan para pelaku UMKM serta para pakar dalam pemangku kebijakan. 

"Wawancara menggunakan kuesioner terhadap 221 pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Juga melibatkan 12 narasumber pakar yang terdiri dari pemangku kebijakan, perbankan, akademisi dan asosiasi tingkat nasional," ujarnya. 

Lebih lanjut, Wakil Ketua Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono menerangkan bahwa terdapat lima tujuannya dalam menjadikan Pariwisata Terpadu sebagai kajian ilmiahnya untuk mendapatkan gelar Doktoral. 

Dalam tayangan yang sama, lebih lanjut Ibas menerangkan bahwa penyertaan aspek inklusi keuangan, kemitraan, dan organisasi, serta adopsi teknologi dilakukan sebagai upaya meningkatkan pendapatan usaha di Kawasan Pariwisata Labuan Bajo. 

"Tujuan pertama, mengidentifikasi jenis-jenis usaha dan memetakan kendala yang dihadapi jenis usaha. Kedua, menganalisis kinerja keuangan para pelaku usaha. Ketiga, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan pelaku usaha. Keempat, menganalisis estimasi dampak pariwisata terhadap perekonomian dan kesejahteraan. Kelima, merumuskan strategi pembiayaan dan investasi yang sesuai untuk pariwisata terpadu yang berkelanjutan dan inklusif di Kawasan Pariwisata Labuan Bajo," jelas Ibas. 

"Kawasan Pariwisata Labuan Bajo yang inklusif dapat dicapai melalui peningkatan investasi, tidak hanya mengandalkan pembiayaan pemerintah melalui APBN dan APBD. Kemudian, strategi pembiayaan dan investasi yang sesuai untuk pengembangan pariwisata terpadu yang berkelanjutan dan inklusif di Kawasan Pariwisata Labuan Bajo disusun dengan melibatkan pendapat para pakar dan pemangku kebijakan,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00