FOKUS: #PPKM MIKRO

Restoran Turun Omzet Miliaran Selama Pandemi

Batavia Café, kawasan wisata Kota Tua, Jakarta, terus berjuang untuk bertahan di tengah keadaan sulit saat Jakarta dilanda wabah Corona hingga saat ini (Retno Mandasari/RRI)

KBRN, Jakarta: Suasana kawasan wisata Kota Tua Jakarta, tidak lagi sama seperti sebelum pandemi COVID-19 melanda tanah air.

Jajaran bangunan kuno peninggalan Batavia, kini berdiri sendiri tanpa kerumunan warga maupun turis asing.

Di tengah sepinya kawasan yang menyimpan banyak cerita sejarah itu, sejumlah restoran maupun café masih diberikan izin untuk beroperasi.

Namun, tentunya tidak mudah bagi sektor jasa kuliner untuk bisa bertahan saat pandemi yang melanda dunia hampir dua tahun.

Senior Marketing Communication Batavia Café, Chatarina Widi mengatakan, meski tetap beroperasi selama pandemi sejak tahun lalu, namun pihak café harus putar otak untuk dapat bertahan seperti melakukan penjualan dengan pelayanan online.

Kawasan Wisata Kota Tua, Jakarta, sepi dari kunjungan selama wabah Corona melanda Jakarta (Retno Mandasari/RRI)

“Kalau pun pemerintah bilang tidak boleh “dine in”, kita buka layanan “delivery”. Jadi, kita buka tujuh hari “full”. Untuk yang delivery pun tujuh hari “full”, tapi “by online”,” ungkap Chatarina Widi ketika ditemui RRI.co.id di Batavia Café, Kawasan Wisata Kota Tua, Jakarta, Selasa (14/09/2021).

Adanya pandemi COVID-19 yang diikuti dengan belum dibukanya kawasan wisata Kota Tua untuk warga, turut berdampak pada sepinya pelanggan.

“Tamu-tamu yang datang ke sini adalah mereka yang sudah tahu Batavia Café,” tambah Chatarina.

Walau pun kerap dikunjungi konsumen, namun menurut Chatarina Widi dengan jumlah konsumen yang terbatas juga berdampak pada anjloknya omzet bahkan mencapai miliaran rupiah.

“Sebelum pandemi kita capai Rp 3 miliar perbulan. Setelah pandemi terjadi penurunan, karena berkurangnya jumlah tamu, area yang ditutup. Kurang lebih kita di angka (penurunan omzet) di bawah satu miliar, ya cukup besar,” jelasnya.

Chatarina Widi memastikan operasional café yang dilakukan di tengah pandemi COVID-19, tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Jarak antar meja kami atur 1,5 meter. Dulu itu jumlah pengunjung kalau “full” sekitar 600 orang. Perhari ini kami sudah di acc untuk penggunaan aplikasi PeduliLindungi,” papar Chatarina Widi.

Kedai Seni DJakarte, memilih tetap bertahan walau kawasan wisata Kota Tua sepi pengunjung selama wabah Corona melanda Jakarta (Retno Mandasari/RRI)

Tidak jauh dari Batavia Café, Kedai Seni Djakarte juga terlihat sepi pengunjung di hari pertama perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3.

Pengelola Kafe, Monic, menyatakan, sejak terjadi pandemi COVID-19, omzet yang mampu diperoleh perbulan hanya sekitar 10% dari perolehan normal sebelum pandemi.

“Omzet dari sekitar Rp 100 juta perbulan, menurun hingga 90 persen,” ujar Monic yang juga merangkap sebagai kasir.

Akibat merosotnya omzet, memaksa pemilik kafe melakukan pengurangan karyawan dalam jumlah besar.

“Akibat pendemi terjadi pengurangan karyawan dari 18 orang menjadi empat orang. Bagaimana ya, karena pemasukan juga sangat kurang,” jelas Monic.

Meski mengalami kerugian besar akibat pandemi, namun dikatakan Monic, pemilik tetap konsisten agar kafe terus beroperasi.

“Pemiliknya gak mau menutup restauran, karena telah berdiri sejak 2013. Jadi, ya sayang ajakan kalau tutup. Bahkan, kadang “owner” nya itu pakai uang pribadi untuk memenuhi kebutuhan operasional. Kalau sehari-hari yang berkunjung juga paling karyawan kantor-kantor di sekitaran kawasan ini,” pungkasnya.

Sejak PPKM di DKI Jakarta, kawasan wisata Kota Tua menutup aktivitas bagi warga maupun turis untuk berekreasi.

Namun, kunjungan ke restoran maupun kafe tetap diperbolehkan dengan mengikuti berbagai kebijakan terkait protokol kesehatan hingga jumlah pengunjung yang diizinkan. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00