Pengusaha Air Isi Ulang Tolak Pelabelan Galon 

KBRN, Jakarta: Para pengusaha melalui Asosiasi Pemasok dan Distributor Depot Air Minum Indonesia (Apdampindo) menolak pelabelan galon PC jika diduga motifnya karena persaingan usaha.

Lantaran, adanya risiko Bisphenol – A (BPA) pada galon guna ulang tidak lebih dari sekedar persaingan usaha karena sejatinya kemasan ini telah mendapat izin edar selama lebih dari 30 tahun dan banyak digunakan oleh pengusaha kecil di depo air isi ulang.

“Galon guna ulang telah menjadi air minum yang dikonsumsi masyarakat Indonesia sejak puluhan tahun yang lalu,” ucap Ketua Umum Apdampindo Budi Dharmawan, dalam keterangan, Rabu (8/12/2021).

Isu BPA pada galon guna ulang dan dorongan terhadap pelabelan galon disebut sebagai persaingan usaha. Hal tersebut dianggap sangat menyesalkan mengingat hal itu sangat mempengaruhi para pengusaha depot air minum yang notabene adalah masyarakat kecil. Usaha depot air minum telah dilindungi oleh UU. 

"Berdasarkan Permenkes No 43 Tahun 2014 Tentang Higienis dan Sanitasi Depot Air Minum. Kami menjalankan usaha dengan aturan kesehatan yang ketat. Juga ada aturan yang diterbitkan Kemenperin dan Perdagangan No 651/MPP/KEP/10-2004 tentang Persyaratan Teknis Air Minum dan Perdagangan Menteri Perindustrian dan Perdagangan, termasuk penggunaan kemasan galon berbahan polycarbonate (PC)," jelas Ketua Asosiasi di Bidang Pengawasan dan Perlindungan terhadap Para Pengusaha Depot Air Minum (Asdamindo), Erik Garnadi.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan fakta terkait plastik berbahan Policarbonat (PC) yang berpotensi mengandung Bisfenol A (BPA).  BPA dapat berkontribusi pada perkembangan sel kanker pada manusia.

BPOM siap turun tangan dalam kebijakan pelabelan makanan minuman yang berpotensi terdapat migrasi BPA dari kemasan. Hal itu sebagai bentuk perhatian berkaitan dengan BPA free ini. 

“Kami sudah sampai pada kesimpulan bahwa nanti kami akan melakukan intervensi pada labelingnya. Jadi nanti ada upaya untuk pelabelan dari kemasan-kemasan tersebut, bisa jadi nanti ada label bebas BPA,” ujar Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Dr. Ir. Penny K. Lukito, MCP dalam keterangan, Selasa (9/11/2021).

Merujuk dalam Peraturan Badan POM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan dijelaskan bahwa tidak ada kemasan pangan yang free dari zat kontak pangan. Namun, di sana diatur mengenai batas aman maksimum dari zat kontak itu yang diijinkan bermigrasi ke pangannya.  

BPOM akan mengambil sikap terkait pemahaman konsumen yang dikaitkan dengan sumber bahan bakunya, apakah jenis ini memang mengandung BPA atau tidak.  

“Karena, saya juga baru paham, belajar bahwa plastik yang PC, yang policarbonat bahwa itulah yang ada potensi mengandung BPA,” ucapnya. 

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), Franciscus Welirang, mengatakan isu BPA ini lebih mengarah kepada persaingan usaha.  Karenanya, dia sangat menyayangkannya karena bisa merusak iklim investasi di Indonesia.  

“Ini semua masalah persaingan yang menjatuhkan perusahaan yang memproduksi galon guna ulang yang saat ini begitu banyak di Indonesia,” ujar Franky, sapaan Franciscus. 

Seperti diketahui, Indofood melalui anak usahanya juga memproduksi air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang bermerk Club. 

“Saya kira galon guna ulang bukan hanya Club, tapi banyak lainnya. Bisa dibayangkan berapa banyak galon guna ulang yang ada di pasar saat ini, dan berapa besar cost ekonominya jika produk ini dihilangkan,” ucap Franky. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar