Hari UMKM Internasional, Tips Jadi "Go Digital"

Bentuk UMKM yang sudah Go Digital (Foto: ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/aww.)

KBRN, Jakarta: 27 Juni setiap tahunnya, selalu diperingati sebagai Hari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Internasional.

Melansir dari laman International Council for Small Business (ICSB), Hari UMKM Internasional ini pertama kali dicetuskan melalui Resolusi PBB tahun 2017, yang merupakan salah satu perjuangan ICSB sebagai organisasi dunia yang fokus dalam pemberdayaan UMKM sejak tahun 1955.

Adapun maksud diadakannya Hari UMKM, untuk menunjukkan dukungan global terhadap kontribusi sektor usaha kecil dan menengah. Karena meski UMKM berperan dalam roda perekonomian suatu negara, keberadaan mereka sering "dilupakan".

Sementara itu, berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menunjukkan ada 17,25 pelaku UMKM yang masuk ekosistem digital per Februari 2022. 

Selain berjualan online, adalah penting bagi pelaku usaha memahami pemasaran digital agar bisnis mereka terus bertumbuh. Maka dari itu berikut tips bagi UMKM yang ingin "go digital" yang juga dikutip Antaranews, Senin (27/6/2022).

1. Tujuan "go digital"

Pelaku usaha sebaiknya memahami apa tujuan mereka masuk ke platform online. 

Secara garis besar, "go digital" bukan sekedar mendaftarkan nama bisnis ke lokapasar online, namun, untuk menemukan pelanggan baru, meningkatkan efektivitas kerja dan mengembangkan peluang bisnis.

2. Gunakan peralatan digital

Tujuan masuk ke ekosistem digital bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi, misalnya mengoptimalkan alat (tool) yang diberikan platform.

Misalnya, gunakan Google Bisnisku untuk mendaftarkan usaha, lalu, untuk meningkatkan efektivitas kerja, gunakan email, kalendar, penyimpanan awan dan aplikasi panggilan video.

Manfaatkan juga Google Analytics dan Google Trend untuk melihat keinginan konsumen dan mengembangkan peluang bisnis.

3. Pahami perilaku pelanggan

Memahami perilaku dan keinginan pelanggan dinilai penting untuk mulai masuk ke platform digital. Bagi pelanggan, belanja online perlu disikapi secara hati-hati apalagi jika mereka belum pernah belanja di toko online tersebut. 

Mereka akan melihat situs dan testimoni konsumen lain sebelum membeli produk.

Pelaku usaha bisa menyalakan fitur obrolan (chat) supaya pelanggan bisa menjangkau mereka. Bagi pelaku usaha, fitur obrolan ini bisa membuka peluang menghasilkan penjualan.

4. Perkuat kemampuan digital

Google mengutip data Deloitte, baru 9 persen UKM Indonesia yang memiliki kemampuan tingkat lanjutan seperti bisnis e-commerce, sementara 18 persen menggunakan media sosial (menengah).

Sebanyak 37 persen sudah punya perangkat digital, namun, belum digunakan untuk transaksi (kemampuan dasar). Deloitte juga menemukan ada 36 persen yang belum memiliki perangkat digital.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar