Pandemi Usai, Masyarakat Cenderung Pilih Kolaborasi WFH-WFO

Ilustrasi / Aktivitas pekerja di PT INTI, yang menerapkan pembatasan kegiatan di perkantoran di Bandung, Jawa Barat (Ant/Raisan Al Farisi)

KBRN, Jakarta:  Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak gedung, utamanya perkantoran menjadi kosong, karena sebagian besar pekerjanya bekerja dari rumah. 

Menurut Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute (JPI), Wendy Haryanto, saat ini di Jakarta saja, terdapat sekitar dua juta meter persegi ruang kantor kosong.

Dan hal ini ternyata berpengaruh pada kecenderungan masyarakat pekerja maupun pengusaha yang ingin diteruskan kolaborasi antara work from home (WFH) dan work from office (WFO) jika nanti pandemi usai. 

Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute (JPI), Wendy Haryanto

“Sebelum pandemi saja, ruang kantor yang kosong jumlahnya satu juta (meter) sekian. Saat pandemi, jumlahnya bertambah satu juta meter, jadi dua juta meter persegi,” kata Wendy saat pemaparan hasil survei JPI bertajuk ‘City After Pandemic: How We Live, Work and Play?’ secara daring di Jakarta, Selasa (26/1/2021).

Dengan banyaknya ruang kantor yang kosong ini, pemilik gedung harus mengambil langkah penyesuaian, apakah mengubah tata ruangnya atau mengubah fungsinya.

Jika mengubah fungsinya, berkaitan dengan regulasi yang juga harus disesuaikan, karena ini berhubungan pula dengan izin fungsi gedung yang selama ini berlaku.

Kalau gedung perkantoran, peruntukkannya hanya boleh untuk perkantoran.

“Kalau sudah ada dua juta ruang kantor yang kosong di satu kota saja, yang harus diubah itu adalah public policy dari peraturan fungsi gedung tersebut. Apakah itu kantor, mal, atau hotel. Yang dibutuhkan sekarang adalah fleksibilitas dari pemerintah untuk dapat memberikan keringanan, kegunaan multifungsi dari bangunan yang sudah ada,” papar Wendy.

Sementara itu, terkait hasil survei yang dilakukan JPI, dari 408 responden, sebanyak 55.6 persen memilih kombinasi kantor dan rumah untuk bekerja setelah pandemi berakhir. 

“Pilihan ini popular di kalangan responden, karena mereka berharap dapat kembali menghadiri rapat atau pertemuan secara tatap muka. Hasil temuan ini, lanjutnya akan membuat perusahaan menerapkan efisiensi ruang kantor,” ujar Wendy.

Sedangkan dari sisi kegiatan sehari-hari, sebanyak 67.9 persen responden tetap memilih kombinasi berbelanja langsung dan daring setelah pandemi berakhir.

Alasannya, beberapa barang kebutuhan perlu dibeli dalam kondisi segar.

Selain itu, sebanyak 89.2 persen responden menyatakan ingin bisa kembali bisa bersosialisasi setelah pandemi, seperti di kafe, restoran, pusat perbelanjaan dan ruang terbuka lainnya, termasuk berwisata.

Sebanyak 97.3 persen responden menyatakan ingin berlibur setelah pandemi berakhir, terutama wisata alam.

“Untuk kebutuhan rekreasi, pemerintah nampaknya perlu menambah taman dan hutan kota serta ruang terbuka hijau lainnya. Karena pola rekreasi masyarakat, cenderung ingin kembali beraktivitas di ruang terbuka setelah pandemi berakhir,” pungkas Wendy.

Survei JPI bertajuk ‘City After Pandemic: How We Live, Work and Play?’ dilaksanakan pada bulan November 2020 melalui daring, pada 408 responde dari dan luar Jabodetabek.

Survei bertujuan untuk melihat pola perubahan penggunaan ruang selama dan setelah pandemi, saat bekerja dan berkegiatan sehari-hari.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00