FOKUS: #G20

Normalisasi Kebijakan Pastikan Ekonomi Dapat Pulih Bersama

Ilustrasi / Logo Bank Indonesia / Bagaimana negara-negara pulih bersama dari dampak pandemi Covid-19 menjadi prioritas Indonesia dalam Presidensi G20. Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo, untuk pulih bersama, exit strategy atau normalisasi kebijakan paska pelonggaran moneter (Quantitative  Easing) harus dilakukan secara well calibrated, well communicated dan well planned untuk menjaga stabilitas dan pemulihan ekonomi dapat tetap terjaga, terutama di negara-negara berkembang. (Foto: Dok. Antara)

KBRN, Jakarta: Bagaimana negara-negara pulih bersama dari dampak pandemi Covid-19 menjadi prioritas Indonesia dalam Presidensi G20. 

Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo, untuk pulih bersama, exit strategy atau normalisasi kebijakan paska pelonggaran moneter (Quantitative  Easing) harus dilakukan secara well calibrated, well communicated dan well planned untuk menjaga stabilitas dan pemulihan ekonomi dapat tetap terjaga, terutama di negara-negara berkembang.

"Setiap kebijakan harus dikalibrasi dan dikomunikasikan dengan baik, bagaimana dampak normalisasi bagi masing-masing negara. Terutama kebijakan negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang," kata Dody dalam Seminar Internasional G20 yang mengangkat tema “Safeguarding Growth Momentum", seperti dikutip RRI.co.id, Rabu (26/1/ 2022).

Seminar Internasional G20 Safeguarding Growth Momentum menjadi rangkaian acara peluncuran laporan transparansi dan akuntabilitas Bank Indonesia 2021 pada hari ini yang digelar secara hybrid.

Lebih lanjut Dody menyampaikan Indonesia menempuh kebijakan untuk bersinergi dan melakukan bauran ekonomi untuk menjaga stabilitas dan pemulihan ekonomi di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.

Langkah itu menunjukkan hasil positif bagi perekonomian Indonesia yang terus berkembang.

"Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 diperkirakan pada kisaran 3,2-4,0 persen  dan meningkat pada kisaran 4,7-5,5 persen pada 2022 ditopang oleh konsumsi swasta, investasi  dan ekspor di tengah risiko terkait pandemi Covid-19 yang tetap perlu diwaspadai," jelas Dody.

Ia menambahkan, di tahun ini Bank Indonesia akan fokus pada kebijakan moneter yang diarahkan untuk menjaga stabilitas dengan memitigasi dampak dari normalisasi di negara maju.

Sementara itu, dari sisi kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar uang serta ekonomi keuangan inklusif dan ekonomi hijau akan diarahkan untuk mendukung pemulihan ekonomi. 

Pada kesempatan yang sama, Deputy Director General, Ministry of Economy and Finance South Korea, Byungsik Jung menyampaikan pentingnya pengelolaan utang dan aliran modal dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi global.

"Normalisasi di negara maju akan meningkatkan tekanan terkait dengan utang dan aliran modal sehingga diperlukan dukungan dan kerja sama global dalam mengatasi tantangan tersebut," kata Byungsik Jung.

Hal serupa disampaikan Chief Economist Citibank Indonesia Helmi Arman.

"Normalisasi akan berdampak pada aliran modal, meskipun beberapa negara emerging market diperkirakan tetap mendapat persepsi yang positif dari investor," tandas Helmi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar