"Borneo Jazz" Berkumpulnya Musisi Pasca Pandemi

Q Sound musisi jazz Amerika yang tampil pada malam terakhir "Borneo Jazz" 2022, Minggu (26/06). (Foto:RetnoMandasari/RRI)
Gecko&Tokage asal Jepang, tampil pertama kali di festival jazz internasional,
Mark Hartsuch berkolaborasi dengan musisi Amerika-Italia, Nikkollective. (Foto:RetnoMandasari/RRI)
Penampilan memukau Rio Sidik Quintet di "Borneo Jazz" 2022, di Miri, Sarawak, Malaysia. (Foto:RetnoMandasari/RRI)

KBRN, Jakarta: Lantunan lirik demi lirik yang dinyanyikan oleh Q Sound, seorang penyanyi jazz asal Amerika Serikat, menjadi daya tarik tersendiri pada malam terakhir festival "Borneo Jazz" 2022, di Aula Mulu, Coco Cabana, Miri, Malaysia, Minggu (26/06/2022)

Q Sound memberikan warna baru dalam festival yang dihelat oleh Badan Pariwisata Sarawak (STB) yang ke-17 ini. Tidak hanya itu, permainan terompet dan sentuhan reggae Q Sound dan band, juga berhasil membuat para penonton terpukau. 

Festival "Borneo Jazz" 2022 menjadi wadah berkumpulnya para musisi dari berbagai negara untuk pertama kalinya di bumi Borneo, setelah dua tahun diterpa pandemi Covid-19. 

Gecko&Tokage Parade dari Jepang juga menjadi salah satu band yang jauh-jauh datang dari negeri Sakura, untuk memberikan penampilan terbaik mereka di hadapan para penikmat musik jazz. 

Personil Gecko&Tokage Parade, Wataru Sato mengatakan, ia terkesan dengan konsep yang diusung selama festival berlangsung, dimana memberikan kesempatan bagi banyak aliran musik untuk terhubung satu sama lain.

"Event ini sangat bagus dan saya tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya di Jepang. Event ini menghubungkan dengan banyak aliran musik seperti jazz, klub musik seperti adanya DJ, lokakarya untuk anak-anak. Jadi, semua orang dilihat dari usia maupun jenis kelamin dan mereka sangat menikmati," ungkap Wataru saat ditemui usai penampilan, Minggu (26/06/2022) malam. 

Sedangkan, "Borneo Jazz" sendiri merupakan event internasional pertama yang diikuti oleh band yang beranggotakan empat personil ini. Gecko&Tokage Parade dikenal memiliki aliran "Nu Jazz" atau "Jazz Baru".

"Ini sebenarnya adalah pengalaman pertama kami tampil di luar negari dan sangat sulit untuk datang kemari sebab memakan waktu yang lama. Merupakan suatu kehormatan untuk hadir di sini di tengah situasi seperti saat ini (pandemi Covid-19)," tambahnya. 

Sementara itu, musisi jazz asal Amerika yang kini berdomisili di India, Mark Hartsuch menyebut, "Borneo Jazz" sebagai sebuah festival musik yang memberikan kesempatan kepada para musisi untuk berkobalorasi dan membawa keragaman budaya.

"Berpartisipasi dalam sebuah festival jazz memberikan kesempatan untuk bereksperimen dan saya sendiri memiliki kesempatan untuk mengatur dan booked band Nikkollective. Dan, saya sangat merasa terhormat dengan bisa bekerja sama dengan mereka. Pada akhirnya ini adalah soal musik. Menakjubkan kami melakukan perjalanan ke negara lain dan memberikan pengalaman satu jam kepada para penonton untuk menyaksikan penampilan kami. Tapi, itu merupakan satu hal yang indah juga sebab kami membawa keragaman budaya," ucap Mark.

Hal senada turut disampaikan pemain terompet kelahiran Illinois yang berkolaborasi dengan musisi Amerika-Italia, Nikkollective. Ia menyebut festival ini sangat menakjubkan.

"Festival ini sangat menakjubkan, saya dan istri baru saja tampil di sebuah festival musik di Polandia. Menakjubkan dengan tempat seperti Miri, Malaysia, ada sebuah festival musik pada level produksi di sebuah tempat yang lebih jauh seperti Kuala Lumpur ataupun Polandia," papar Mark.

"Kualitas suara serta perhatian terhadap detail yang ada. Jadi, mereka yang hadir malam ini mereka tidak hanya melihat festival jazz pada umumnya. Melainkan, mereka mendapatkan pengalaman internasional yang sangat-sangat akurat," tambahnya. 

Disisi lain, Musisi jazz Indonesia yang juga tampil di "Borneo Jazz", Rio Sidik mengatakan, dirinya sangat takjub dengan semangat para penonton yang ikut hanyut dalam setiap lagu yang ia tampilkan bersama band.

Terlebih, Borneo Jazz merupakan even musik pertama baginya, pasca dua tahun pandemi Covid-19. 

"Menakjubkan dan keren sekali, banyak kejutan sebelum saya naik ke panggung. Para penonton benar-benar terhanyut ke dalamnya. Maksud saya, hal itu benar-benar membuat saya merinding ketika saya memainkan nada demi nada. Mereka mendengarkan seluruh pesan yang ada. Saya seperti, 'kalian sangat baik'. Itu fantastis!'," kata Rio Sidik yang juga dikenal sebagai pemain terompet jazz handal. 

"Borneo Jazz" 2022 yang mengusung "Jazz di Hutan" diselenggarakan pada 24-26 Juni. Festival ini pertama kalinya dilaksanakan secara hybrid atau campuran pasca pandemi Covid-19. 

"Borneo Jazz" merupakan salah satu upaya pemerintah Sarawak untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata di negara bagian itu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar