Dinamika Psikologis Pelaku Kekerasan Seksual

KBRN, Jakarta: Di masa pandemi ini mengharuskan masyarakat untuk tidak banyak keluar rumah. Namun,tidak membuat para pelaku pelecehan seksual tinggal diam. Bahkan di masa pandemi ini kekerasan seksual terutama lewat media internet meningkat secara signifikan.

Pelecehan seksual ini dapat menimbulkan dampak negatif terhadap korban baik secara psikologis dan sosial korban serta pihak yang terlibat. Akhir - akhir ini pelecehan seksual terjadi di daerah Sukoharjo, Jawa Tengah. Yakni seorang ayah mencabuli anak kandungnya sendiri.

Begitu kompleks nya dampak atau efek yang ditimbulkan oleh para pelaku kejahatan seksual pada korban, membuktikan betapa serius nya perilaku tersebut. Fakta tersebut sangat mengkhawatirkan, bagaimana bisa seorang ayah kandung mampu melakukan tidakan kejahatan seksual kepada anak kandungnya sendiri.

Dilihat dari kapasitas anaknya sangat berbeda jauh dengan milik orang dewasa, hal tersebut dilihat dalam segi kematangan seksual, kognitif, dan emosi mereka pun masih belum stabil dibandingkan dengan orang dewasa yang dikatakan sudah matang baik secara seksual, kognitif, dan emosinya.

Oleh sebab itu, fakta tersebut sangat menarik dilihat dari bagaimana dinamika psikologis ayah pelaku kejahatan seksual terhadap anak kandungnya yang masih dibawah umur. Menurut Hopper (2005) data statistik hanya menunjukkan “tip of iceberg” ujung dari batu es karena dalam kenyataannya banyak korban kekerasan seksual yang belum terdata dengan baik.

Sulitnya memperoleh data yang akurat karena : ( a ) batasan pengertian seksual pada anak cukup beragam dan dipengaruhi oleh sudut pandang, ( b ) data yang diperoleh juga mencakup data pengalaman orang dewasa di masa kecil mereka, sementara kemampuan mengingat relative terbatas, dan ( c ) data yang diperoleh hanya berdasarkan laporan kasus, padahal masih banyak yang tidak dilaporkan

1 . Kekerasan seksual adalah setiap bentuk perilaku yang memiliki muatan seksual yang dilakukan seseorang atau sejumlah orang namun tidak disukai dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan akibat negatif, seperti : rasa malu, tersinggung, terhina, marah, kehilangan harga diri, kehilangan kesucian, dan sebagainya, pada diri orang yang menjadi korban. Menurut Wahid dan Irfan ( dalam Abu Hurairah,2011) kekerasan seksual merupakan istilah yang menunjuk pada perilaku seksual deviatif atau hubungan seksual yang menyimpang, merugikan pihak korban dan merusak kedamaian ditengah masyarakat.

2 . Hingga kini hukum positif belum mampu memberikan perlindungan komprehensif korban. Termasuk di dalamnya menjamin kerugian fisik dan psikis korban, rehabilitas korban dan juga pelaku, belum mampu melindungi hak – hak korban, menangani kasus secara komprehensif, dan mencegah keberulangan kejahatan seksual. Pendekatan Pendidikan masyarakat juga tidak kalah pentingnya untuk memberikan penyadaran moral dan teologis bahwa kekerasan seksual tidak saja mencederai harkat dan martabat kemanusiaan, melainkan lebih dari itu. Kekerasan seksual melanggar moral dan nilai – nilai agama yang tidak hanya dipertanggungjawabkan di dunia, melainkan juga diakhirat kelak.

Salah satu upaya membangun kesadaran itu adalah dengan terus menerus mensosialisasikan, bahwa kekerasan seksual adalah kejahatan besar yang menjadi musuh utama agama, disamping penuhanan kepada selain Tuhan Yang Maha Esa.

Lepas dari kontroversi tersebut, penulis ini mengemukakan satu hal yang menurut penulis menarik untuk didiskusikan. Yaitu bagaimana Islam memandang Pelecehan seksual yang terjadi pada anak dibawah umur.

Sebagai agama yang anti kekerasan, tidak terlalu sulit untuk menyimpulkan bahwa Islam adalah salah satu agama yang turut menyerukan penghapusan kekerasan seksual, mulai dari pelecehan seksual sampai pada perbudakan dan eksploitasi seksual. Puluhan ayat – ayat Al-Qur’an yang menggugah dan membangun kesadaran masyarakat patriarki bahwa kekerasan terhadap perempuan terutama anak dibawah umur adalah bertentangan dengan nilai – nilai tauhid dan al-karamah al-insaniyah.

Pada kasus di atas, tampak bahwa pelecehan seksual masih marak terjadi dengan korban anak dibawah umur. Seringkali pelaku hanya mengutamakan hawa nafsu. Sehingga perilaku tersebut melakukan hal tersebut tanpa memikirkan dampaknya, baik dampak psikologis maupun dampak sosial.

Strategi Prevensi Individual Prevensi merupakan usaha yang bertujuan untuk mengurangi atau mencegah resiko dampak perubahan sosial. Program prevensi pada kelompok sasaran jenis kelamin perempuan dilaksanakan berdasarkan alasan bahwa Sebagian besar korban kekerasan seksual sejauh ini adalah kelompok perempuan.

Tujuan utama program prevensi pada kelompok sasaran jenis kelamin perempuan ini adalah untuk mereduksi resiko terjadinya kekerasan seksual pada korban perempuan melalui memberi pemahaman kepada perempuan tentang sinyal – sinyal dini kondisi yang memungkinkan terjadinya kekerasan seksual, perilaku yang mengarah pada kekerasan seksual, dan perilaku resistensi perempuan terhadap kemungkinan terjadinya perilaku kekerasan seksual.

Dalam hal ini meskipun tanggung jawab terhadap terjadinya perilaku kekerasan seksual Sebagian besar di bebankan pada pelaku yang umumnya laki – laki, namun sebaiknya perempuan juga di berdayakan untuk lebih aktif melakukan peran perlindungan mandiri (Self Protective)3 . Informasi tentang tentang faktor – faktor resiko terkait terjadinya kekerasan seksual antara lain adalah : aktivitas seksual pada tingkat yang tinggi, konsumsi alkohol dalam interaksi interpersonal antar lawan jenis ( Ottens & Black, 2000 ), dan komunikasi yang ambigu dama hubungan interpersonal lawan jenis.

Melalui pemberian informasi tersebut, anak perempuan dibawah umur disadarkan tentang kemungkinan serangan seksual pada kondisi – kondisi tersebut, sehingga apabila mereka dalam kondisi tersebut mereka harus melakukan Tindakan seperlunya dan sesegera mungkin4 . Saran dan pelatihan tentang metode untuk melawan kekerasan seksual.

Saran dan pelatihan ini mencakup ketrampilan pertahanan diri apabila menghadapi situasi yang memiliki potensi bagi terjadinya kekerasan seksual, pelatihan perilaku asertif, dan pelatihan kepercayaan diri dalam menghadapi situasi yang memiliki potensi bagi terjadinya kekerasan seksual.

1 M. Major, T. Hopper / Management Accounting Research 16 (2005) 205–229 2 Abdul Wahid dan Muhammad Irfan, Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual (Advokasi atas Hak Asasi Perempuan), Refika Aditama, Bandung: 2011 3 Centers for Disease Control and Prevention National Center for Injury Prevention and Control (NCIPC). 2014. Sexual Violence: Prevention Strategies. NCIPC: Atlanta, GA. 4 Ottens, A.J. & Black, L.L. 2000. Crisis Intervention at College Counseling Centers. A.R. Roberts (Ed.) Crisis Intervention Handbook. Assesment. Treatment, and Research (pp. 152- 173). Oxford: Oxford University Press.

Oleh : Prilia Zulfatur Rohmah

( Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta )

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00