Sejarah Hari Buku Nasional di Indonesia

Sejumlah pengunjung memilih buku bacaan saat pameran buku murah di Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (18-7-2019). (Foto: Dok. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/hp)

KBRN, Jakarta: Setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional (Harbuknas). 

Adapun, hari nasional itu ditetapkan sebagai momen untuk memperingati pentingnya budaya membaca.

Berikut sejarah Hari Buku Nasional, dikutip dari Donasi Buku Kemendikbud, Selasa (17/5/2022): 

Harbuknas telah dirayakan selama lebih dari dua dekade, tepatnya sejak 2002.

Harbuknas dicetuskan oleh Abdul Malik Fadjar, yaitu Menteri Pendidikan yang menjabat di era Kabinet Gotong Royong (2001-2004). 

Harbuknas awalnya ditetapkan untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan menaikkan penjualan buku.

Saat itu, jumlah rata-rata buku yang dicetak setiap tahun hanya mencapai 18 ribu judul.

Jumlah tersebut sangat rendah dibanding negara Asia lainnya, seperti Jepang dan Cina yang mencapai 40 ribu hingga 140 ribu judul buku.

Selain itu, angka melek huruf di dalam negeri juga rendah.

Di tahun 2002, UNESCO mengungkapkan bahwa angka melek huruf di Indonesia pada orang dewasa berusia 15 tahun ke atas hanya 87.9 persen. 

Angka tersebut lebih rendah dibanding Malaysia, Vietnam, dan Thailand pada tahun yang sama.

Kondisi ini sangat memprihatinkan, mengingat kemampuan literasi dasar adalah modal utama yang harus dimiliki agar bangsa dapat berkembang. 

Berkaca dari hal tersebut, sejumlah elemen masyarakat khususnya kelompok pecinta buku mendorong untuk disahkannya gerakan meningkatkan budaya membaca. 

Kemudian di tahun 2002 ditetapkanlah tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional.

Tanggal 17 Mei dipilih karena bertepatan dengan momen berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, pada 17 Mei 1980.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar