Jubir Wapres Tegas Bantah Pengakuan Djoko Tjandra

Masduki Baidlowi, Juru Bicara Wapres RI (Dok. Istimewa/republika)

KBRN, Jakarta: Dalam persidangan, terpidana Djoko Tjandra menyebutkan bahwa ada pihak bernama Rahmat, yang ingin mempertemukan dirinya dengan Ma'ruf Amin, di Kuala Lumpur, Malaysia tapi tidak jadi.

Sebelum menjadi isu liar, Juru Bicara Wakil Presiden RI, Masduki Baidlowi membantah keras keterangan tersebut.

"Tidak ada itu. Wapres tidak ada urusan hal-hal seperti itu dan tidak pernah ada hal yang cerita seperti itu. Itu saya tidak mengerti kenapa sampai ada cerita seperti itu. Saya kira tidak ada hubungannya," tegas Baidlowi kepada rri.co.id di Jakarta, Kamis (25/2/2021) malam.

Penjelasan Djoko Tjandra, rencana pertemuan pada akhir 2019 ketika Ma'ruf Amin ada agenda ke Kuala Lumpur, Malaysia, tapi dibatalkan karena sakit.

Namun sekali lagi, Baidlowi menekankan, dirinya meyakini 100 persen, isu seperti ini hanya mencatut nama Wapres RI, Ma'ruf Amin saja dan tidak lebih dari itu.

"Iya bisa jadi begitu (mencatut nama), karena kita tidak ada urusan begitu. Ya bisa saja Wapres mau ke mana dikaitkan dengan cerita apa. Kan bisa saja. Pokoknya tidak ada cerita, Wapres tidak tahu menahu dengan cerita itu. Begitu saja ya," tandas Baidlowi.

Seperti dilansir liputan6, terdakwa Djoko Tjandra mengaku sempat diajak untuk bertemu dengan Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Kuala Lumpur, Malaysia. 

Djoko mengatakan, yang mengajaknya adalah rekannya, yakni pengusaha Rahmat.

Pernyataan itu disampaikan Djoko Tjandra saat diperiksa sebagai terdakwa perkara dugaan suap pengurusan fatwa Mahkamah Agung (MA) melalui Kejaksaan Agung (Kejagung).

Awalnya, Jaksa mempertanyakan apakah dirinya pernah menceritakan soal permasalahan hukumnya kepada Rahmat. 

Rahmat merupakan sosok yang mengenalkan Djoko Tjandra kepada Jaksa Pinangki Sirna Malasari.

"Apakah saudara menceritakan ke Rahmat terkait permasalahan hukum?" tanya jaksa dalam pemeriksaan terdakwa Djoko Tjandra di Pengadilan Tipikor, Jakarta, seperti dilansir liputan6, Kamis (25/2/2021).

Di hadapan majelis hakim, Djoko Tjandra mengaku tak pernah menceritakan permasalahan hukumnya kepada Rahmat. 

Sebab, Djoko Tjandra beranggapan jika Rahmat sudah mengetahuinya.

"Saya tidak pernah menyampaikan, tapi mereka tahu," kata Djoko.

Kemudian, Djoko Tjandra tiba-tiba menceritakan soal ajakan Rahmat bertemu dengan Ma'ruf Amin. 

Djoko menyebut, Rahmat mengajak dirinya bertemu orang nomor dua di Indonesia ini melalui sambungan telepon.

"Dia (Rahmat) telepon saya, 'Pak Djoko kita mau ke Malaysia karena ada kunjungan kerja'. Beliau bilang pak kyai, panggilannya abah mau ke Kuala Lumpur, yaitu yang sekarang jadi Wapres kita, mau ke Kuala Lumpur," kata dia.

Namun, menurut Djoko Tjandra, pertemuan tersebut batal. 

Sebab, Djoko Tjandra mendengar jika kunjungan kerja Ma'ruf Amin dibatalkan. 

Alasannya, kondisi fisik Ma'ruf Amin saat itu tidak baik.

"Saya bilang 'oh dengan senang hati', (untuk) waktu tidak ditentukan kapan. Itu saya dengar lagi, badannya kurang enak badan, jadi enggak jadi datang," kata Djoko Tjandra.

Djoko Tjandra didakwa menyuap Pinangki Sirna Malasari sejumlah SGD 500 ribu untuk mengurus fatwa MA. 

Pengurusan fatwa ini agar Djoko Tjandra terbebas dari hukuman dua tahun penjara kasus hak tagih Bank Bali.

Selain itu, Djoko Tjandra juga didakwa bersama Tommy Sumardi memberikan suap ke dua jenderal polisi, yaitu mantan Kadiv Hubinter Polri Irjen Pol Napoleon Bonaparte senilai SGD200 ribu dan USD370 ribu. 

Sementara itu kepada mantan Karo Korwas PPNS Bareskrim, Brigjen Pol Prasetijo Utomo, senilai USD150 ribu.

Reportase: Retno Mandasari - RRI PRO3

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00