FOKUS: #VAKSIN COVID-19

Begini Kata Epidemiolog Soal Vaksin Nusantara

Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/3/2021). Rapat tersebut membahas tentang dukungan pemerintah terhadap pengembangan vaksin Merah Putih dan vaksin Nusantara. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

KBRN, Jakarta: Epidemiolog Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, menyebutkan, vaksin nusantara bukanlah vaksin, lantaran menggunakan sel dendritik yang menghasilkan antigen secara spesifik.

Padahal menurut Pandu, vaksin harus dapat digunakan secara massal, kemudian mudah diberikan dan tidak bersifat individual.

"Untuk mengatasi pandemi ini,  kita butuh vaksin yang mudah diberikan,  karena kita membutuhkan kecepatan untuk mencapai kekebalan sehingga kalau ada yang mengembangkan vaksin mudah dan cepat itu sangat bagus sekali. Tapi kalau ada pengembangan vaksin yang rumit, yang tidak mungkin dilakukan secara massal dan bersifat personal, itu tidak pas untuk suasana pandemi," kata Pandu kepada RRI.co.id di Jakarta, Kamis (15/4/2021).

Pandu menilai vaksin Nusantara yang digagas Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto ini juga tak logis digunakan untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Pasalnya, pengembangannya pun hanya bersifat pengobatan kanker. 

"Jika sifatnya untuk pengobatan boleh,  tapi kalau untuk mengatasi pandemi itu tidak logis sama sekali. Dan orang akan kaget, koq ada pengembangan vaksin yang tadinya hanya untuk pengobatan kanker, tapi dipakai untuk mengatasi pandemi. Itu sudah tidak logis," ujar Pandu.

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat 71.4 persen relawan uji klinis tahap I vaksin Nusantara mengalami apa yang disebut Kejadian Tak Diinginkan (KTD), berupa nyeri otot hingga gatal-gatal.

Laporan ini dikeluarkan di tengah langkah sejumlah politikus menjalani pengambilan darah untuk uji vaksin Nusantara, yang mereka anggap sebagai langkah nasionalisme.

Di sisi lain, sejumlah ahli menyatakan, metode vaksin nusantara lebih cocok digunakan untuk pengobatan kanker dibandingkan penggunaan secara massal melawan Covid-19, bahkan tak layak disebut sebagai vaksin. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00