Bulan-bulan Awal Pandemi Bunuh Diri Tidak Meningkat

(Ilustrasi)

KBRN, Oslo: Peneliti menggunakan data dari 21 negara dan tidak menemukan bukti peningkatan bunuh diri selama 4 bulan pertama pandemi. Di beberapa lokasi ditemukan bukti penurunan.

Studi yang dipublikasikan di Lancet Psychiatry sejauh ini merupakan studi terbesar yang mendokumentasikan perubahan tingkat bunuh diri selama pandemi di banyak negara. Temuan tersebut sejalan dengan observasi tidak ada peningkatan atau sedikit penurunan kasus bunuh diri dalam 3 bulan pertama di Norwegia.

“Efek pandemi pada kesejahteraan mental masyarakat sangatlah kompleks. Ini telah mengubah cara kita hidup dan menyebabkan kesulitan besar dari ketakutan dan ketidakpastian masyarakat, gangguan kegiatan rutin hingga potensi kesulitan ekonomi pada banyak individu," kata Ping Qin, rekan penulis dan profesor kedokteran di Pusat Nasional untuk Penelitian dan Pencegahan Bunuh Diri, bagian dari Universitas Oslo, Norwegia.

Di sisi lain, pandemi mungkin telah menyebabkan peningkatan tingkat kesatuan dan kohesi, setidaknya dalam jangka pendek. Ini mungkin juga meningkatkan keprihatinan dan kepedulian terhadap anggota keluarga dan orang lain di komunitas lokal, tambahnya, seperti dikutip dari Alpha Galileo, Jumat (16/4/2021).

Namun, saat pandemi berlanjut, dampaknya pada kesehatan mental mungkin akan memburuk.

“Ada jarak fisik yang berkepanjangan dan tekanan ekonomi yang berkepanjangan. Misalnya, di Jepang telah terjadi peningkatan yang signifikan dalam tingkat bunuh diri baru-baru ini meskipun ada penurunan awal selama 3 bulan pertama,” kata Qin.

Sejak pandemi dimulai, tingkat pengangguran di Norwegia telah meningkat dari level rendah menjadi lebih dari 7 persen saat ini.

"Ini adalah perkembangan besar dan mungkin berdampak pada kesehatan mental dan mungkin tingkat bunuh diri pada populasi pekerja selama berbulan-bulan atau tahun-tahun mendatang."

Ada juga kekhawatiran tentang peningkatan perilaku bunuh diri pada orang muda, wanita, dan etnis minoritas.

“Karena langkah-langkah kesehatan masyarakat yang berkepanjangan untuk mengurangi penyebaran virus, kaum muda mungkin menjadi frustrasi karena tidak dapat kembali ke kehidupan sosial mereka. Konflik keluarga dan kekerasan dalam rumah tangga juga bisa muncul, dan beberapa imigran mungkin merasa lebih terisolasi,” kata Qin.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00