Kenali Perbedaan Varian Delta dan Varian Delta Plus

Ilustrasi (foto:istimewa)

KBRN, Jakarta: Virus Covid-19 varian delta saat ini memang sedang menyerang dunia dan dianggap lebih parah dari virus Covid-19 sebelumnya. 

Namun, baru-baru ini varian Delta Plus juga mulai mengancam dan teridentifikasi di Indonesia. Bahkan, varian ini juga tengah diwaspadai karena memiliki mutasi yang juga ditemukan dalam varian baru corona yang lebih ganas lainnya yakni Gamma dan Beta. 

Lalu apa bedanya virus Covid-19 varian delta dengan varian delta plus, ini penjelasannya yang dirangkum berdasarkan penjelasan WHO, diantaranya:

Dalam sebuah video yang diunggah di Twitter, baru-baru ini Kepala Ilmuwan WHO dr Soumya Swaminathan memberikan penjelasan mengenai varian Delta. 

Ia menerangkan, bahwa varian Delta (B.1617) adalah varian yang pertama kali teridentifikasi di India yang punya kombinasi mutasi sehingga varian ini lebih menular.

Menurut Soumnya, varian ini setidaknya dua kali lebih menular dari SARS-CoV-2. Artinya apabila seseorang terpapar varian ini, mereka mungkin punya lebih banyak muatan virus sehingga bisa lebih mudah menularkan ke orang lain.

“Virus bisa keluar dan masuk sel dan masuk saluran pernapasan dengan cepat. Sehingga yang tadinya virus ini dapat menyebar ke 2 orang bisa menjadi ke 4, 6, hingga 8 orang. Kabar baiknya, vaksin yang kita pakai di dunia hingga saat ini efektif setidaknya dalam mencegah perburukan akibat varian Delta,” terang dia.

Sementara itu, untuk Delta Plus dijelaskan lebih berbahaya lagi karena varian ini punya mutasi lain yang juga teridentifikasi di varian Gamma (P1 asal Brasil) dan Beta (B.1.351 asal Afrika Selatan). Kedua mutasi ini berpotensi mempengaruhi antibodi yang membunuh virus.

“Dan ada sedikit kekhawatiran bahwa strain ini jadi lebih mematikan karena akan kebal dari obat-obatan dan vaksin. Kabar baiknya masih sedikit kasus varian ini yang ditemukan di dunia,” lanjutnya.

Menurutnya, negara-negara di dunia kini harus lebih masif melakukan Whole Genome Sequencing untuk memetakan varian baru. 

Sehingga varian Delta Plus bisa dikarantina lebih awal agar tidak semakin meluas penyebarannya.

“Jadi apa yang perlu kita lakukan? Kita harus mengawasi varian ini dengan ketat, meningkatkan whole genome sequencing di negara-negara di dunia untuk memantau penyebarannya. Dan kita perlu lebih banyak studi untuk menemukan apakah mutasi ini punya ciri khas, jadi kita perlu pantau dan mengawasinya,” tutup Soumnya. (AL)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00