Migrain Pengaruhi Siklus Tidur

(Ilustrasi)

KBRN, Minneapolis: Orang dewasa dan anak-anak yang memiliki migrain kemungkinan mengalami waktu tidur REM kurang berkualitas daripada orang yang tidak menderita migrain. Analisis tersebut menurut meta-analisis yang diterbitkan dalam Neurology edisi online 22 September 2021, jurnal medis American Academy of Neurology. Anak-anak dengan migrain juga ditemukan mendapatkan waktu tidur total yang lebih sedikit daripada rekan-rekan mereka yang sehat tetapi membutuhkan waktu lebih sedikit agar tertidur.

Tidur Rapid Eye Movement (REM) adalah tahap tidur yang melibatkan sebagian besar aktivitas otak dan mimpi yang hidup. Hal ini penting untuk belajar dan fungsi memori.

"Kami ingin menganalisis penelitian terbaru untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana migrain memengaruhi pola tidur orang dan tingkat keparahan sakit kepala mereka. Dengan begitu, dokter dapat lebih mendukung orang dengan migrain dan memberikan perawatan tidur yang lebih efektif," kata penulis meta-analisis Jan Hoffmann, MD, Ph.D., dari King's College London di Inggris dan anggota American Academy of Neurology. 

Pada meta-analisis ini, peneliti memasukkan 32 studi, yang melibatkan 10.243 orang. Peserta menyelesaikan kuesioner untuk menilai kualitas tidur mereka masing-masing. Di dalamnya menanyakan tentang kebiasaan tidur, termasuk berapa lama untuk tertidur, total waktu tidur dan penggunaan alat bantu tidur. Skor yang lebih tinggi menunjukkan kualitas tidur yang lebih buruk, seperti dilansir dari situs American Academy of Neurology, Jumat (24/9/2021).

Para peneliti menemukan bahwa orang dewasa dengan migrain secara keseluruhan memiliki skor rata-rata yang lebih tinggi pada kuesioner daripada orang tanpa migrain, dengan jumlah perbedaan yang moderat karena migrain. Perbedaannya bahkan lebih besar pada orang dengan migrain kronis.

Ketika peneliti melihat studi tidur, mereka menemukan orang dewasa dan anak-anak dengan migrain memiliki lebih sedikit tidur REM sebagai persentase dari total waktu tidur mereka daripada rekan-rekan mereka yang sehat.

Ketika mengamati anak-anak dengan migrain, para peneliti menemukan bahwa mereka memiliki waktu tidur total yang lebih sedikit, waktu bangun yang lebih banyak, dan waktu onset tidur yang lebih pendek daripada anak-anak tanpa migrain. Hoffmann mengatakan ada kemungkinan anak-anak dengan migrain tertidur lebih cepat daripada rekan-rekan mereka karena mereka mungkin kurang tidur.

"Analisis kami memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang migrain dan bagaimana mereka memengaruhi pola tidur dan menggambarkan dampak pola ini pada kemampuan seseorang untuk mendapatkan tidur malam yang baik," kata Hoffmann.

Meta-analisis ini tidak membuktikan hubungan sebab akibat antara tidur dan migrain.

Keterbatasan meta-analisis adalah bahwa obat-obatan yang memengaruhi siklus tidur tidak diperhitungkan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00