Jemaah Haji Diminta Waspadai Peningkatan Suhu Tubuh

Dokumentasi: Umat Muslim melaksanakan salat Jumat di bulan suci Ramadan di Masjidil Haram kota suci Makkah, Arab Saudi, Jumat (29/4/2022). ANTARA FOTO/Saudi Press Agency/Handout via REUTERS/WSJ/djo

KBRN, Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta para calon jemaah haji 1443 Hijriah/2022 untuk mewaspadai penyakit Heatstroke saat menjalankan ibadah haji.

Heatstroke adalah kondisi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu secara drastis, mencapai 41 derajat Celcius atau lebih.

“Jangan sampai mereka tidak menyadari bahwa sudah masuk dalam tahapan heat exhausted. Mereka harus mengenali gejala heat exhausted. Seperti pusing, mual terutama pada saat aktifitas di luar ruangan,” kata Kepala kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah Muhammad Imran, dalam siaran pers yang diterima, Minggu (29/5/2022).

Menurut Imran, terdapat kondisi sebelum orang dinyatakan mengalami Heatstroke

Kondisi pertama adalah heat exhausted. Kondisi ini ditandai dengan rasa sakit kepala, keringat berlebihan, kulit terlihat pucat, lembab, dan terasa dingin, nafas cepat, mual, dan nyeri otot.

Kondisi yang lebih parah, kata Imran, saat orang mengalami Heatstroke atau serangan panas, tubuh tidak dapat mengontrol suhu badan. 

Hal itu dikarenakan terjadi peningkatan suhu badan dengan cepat hingga mencapai 41 derajat celcius dalam kurun waktu 10-15 menit, dan tubuh sudah tidak dapat mengeluarkan keringat.

Imran juga mengungkapkan, Heatstroke atau serangan panas juga dapat memperberat kondisi orang yang sedang sakit dan menyebabkan kematian.

“Untuk itu upaya-upaya pencegahan harus gencar dilakukan, untuk petugas mulai dari edukasi cara menyemprot air, bagaimana cara melarutkan dan waktu yang tepat untuk minum cairan elektrolit. Sementara untuk jemaah, selalu melengkapi diri dengan APD dan jangan tunggu haus untuk minum,” sebutnya.

Cara mencegah Heat Stroke

Koordinator Promosi Kesehatan PPIH Bidang Kesehatan Edi Supriyatna mengatakan, salah satu cara mencegah terkena Heatstroke adalah dengan asupan mineral yang cukup.

“Kunci Dehidrasi adalah mineral loss, jadi harus minum air yang dicampur elektrolit, jangan tunggu haus” ujar Edi

Fungsi elektrolit di sini, kata Edi, bukan sebagai obat diare. Melainkan sebagai pengganti mineral yang hilang selama menjalankan aktivitas di tengah cuaca yang sangat terik dan minim kelembaban.

Konsumsi elektrolit dapat dilakukan setelah jemaah haji melakukan aktifitas di luar hotel, dengan mencampurkan 1 sachet oralit dengan 600 ml air. 

Selain itu, jemaah juga diminta untuk minum air 5-6 botol sehari dengan takaran 600 ml air setiap botolnya.

Lebih lanjut, Edi menyampaikan, para jemaah haji diminta menghindari pajanan sinar matahari langsung dengan lengkapi diri dengan Alat Pelindung Diri (APD). Salah satunya dengan menggunakan topi dengan bibir (pinggiran) yang lebar, sehingga kepala bisa terhindar dari sengatan langsung.

Selain itu, jemaah juga diminta untuk sering menyemprot bagian tubuh yang terpapar pajanan matahari langsung, terutama muka dan tangan. Jemaah juga diminta untuk menggunakan pakaian yang longgar dan mudah menyerap keringat, serta selalu menggunakan alas kaki saat bepergian.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar