DBD di Dompu Meningkat, Permintaan Fogging Ditunda

Petugas melakukan "fogging" atau pengasapan di Lingkungan Peresak Tempit, Kelurahan Ampenan Tengah, Mataram, NTB, Rabu (10/2/2021). (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/aww)

KBRN, Dompu: Serangan Demam Berdarah Dengeu (DBD) di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) meningkat.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, tercatat sebanyak 170 kasus periode Januari hingga Februari 2021, dengan dua kasus meninggal dunia.

"Justru pada perkiraan siklus 10 tahunan yang seharusnya terjadi pada tahun 2020, minim kasus," kata Kepala Bodang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Rahmat, Kamis (4/3/2021).

Sikap antisipasi juga tidak dilakukan Pemerintah Kabupaten Dompu. Terbukti, alokasi anggaran untuk mengatasi serangan DBD, hanya dialokasikan Rp20 juta.

Idealnya, lanjut Rahmat, dengan luasan wilayah Kabupaten Dompu serta beberapa wilayah di Kabupaten Dompu merupakan endemis DBD, anggaran yang di butuhkan sebesar Rp200 juta. 

Akibatnya, permintaan fogging atau pengasapan sering kali tidak dipenuhi, untuk mencukupkan anggaran yang tersedia. 

“Sebenarnya banyak permintaan dari kelurahan, tapi mau bagaimana kita tunda dulu karena prioritaskan pengasapan sekarang untuk wilayah dengan temuan kasus berat, seperti inikan pasien sampai masuk tranfusi darah 10 kantung,” katanya. 

Fogging, lanjut Rahmat, dengan kondisi seperti ini hanya dilakukan sebagai langkah terakhir. Apalagi, bencana banjir bandang menyisahkan persoalan baru. 

"Kita intensifkan bagi penanganan korban banjir dan endemis DBD. Untuk kasus lainnya, diluar endemis dan korban banjir, cukup dengan abatesasi saja," tambahnya. 

Terjadinya 170 kasus dengan 2 kematian akibat DBD, menempatkan Dompu pada urutan pertama di NTB dan diproyeksikan akan meningkat di tahun 2021. (Ccp)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00