IDI: Strain Baru Virus Corona Berbahaya

KBRN, Jakarta: Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban memperkirakan strain baru virus corona B.1.1.7 amat berbahaya dan dapat membebani kapasitas rumah sakit. 

"Iya. Bisa jadi jumlah kasus harian kita bertambah lagi dan rumah sakit juga terkena imbasnya—jika varian ini dominan. Tapi tidak benar akan menyebabkan kematian yang lebih banyak," kata Zubairi di akun Twitternya @ProfesorZubairi yang dilihat rri.co.id, Kamis (4/3/2021). 

"Banyak yang mengira dengan turunnya kasus, pandemi hampir berakhir. Belum. Jenis corona lama memang berkurang. Tapi strain B.1.1.7 bertambah dan telah ditemukan di Indonesia," jelasnya Zubairi yang juga Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialisasi⁣  Hematologi Onkologi Medik⁣.

Diketahui, strain B.1.1.7 bertambah dan telah ditemukan di Indonesia. "Yang beredar di sini dan banyak negara lain adalah D614G. Mutan yang ditemukan pada awal 2020," terangnya. 

"Pertama kan virus ini dari Wuhan, kemudian bermutasi jadi D614G, lalu muncul B.1.1.7 dan varian yang ada di Afsel," tambahnya.

Zubairi menjelaskan, mutan baru ini menyebabkan shedding virus lebih intens dan ini bedanya B.1.1.7 dengan virus asli sebelumnya. "Artinya produksi jumlah virusnya jauh lebih banyak di saluran napas," sebut Zubairi.

"Jadi, istilah buat B.1.1.7 itu sebagai super spreader tidak tepat. Lebih tepat super shedder, karena virus itu bisa lebih menularkan ke banyak orang," terangnya.

Zubairi lantas menyebut kasus yang terjadi di Inggris dimana B.1.1.7 menular lebih cepat. "Lihat Inggris. Beberapa bulan terakhir penularannya lebih cepat 70 persen. Tapi, ketika sudah banyak yang divaksinasi, maka angka kasus di sana menurun cukup signifikan. Bisa dicek," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan vaksin terbukti efektif menangkal varian itu seperti yang terjadi di Inggris. "Mereka memakai Pfizer. Bagaimana Indonesia? Belum ada bukti Sinovac bisa menangkal B.1.1.7. Kita tunggu saja bukti ilmiahnya," tandasnya.

Ia mengingatkan kekhatiwarn terhadap B.1.1.7 perlu dimiliki masyarakat. "Perlu, tapi jangan panik. Saya yakin kesadaran masyarakat kita terhadap prokes makin tinggi," ujarnya. 

"Saya optimistis dan tidak bermaksud menebar ketakutan. Saya menyampaikan ini agar kita waspada. Tidak bermaksud bikin takut," lanjutnya.

Lebih lanjut, Zubairi menambahkan, strain B.1.1.7 ini masih bisa terdeteksi di swab test PCR. "Tetap bisa. Tapi kalau tes-tes Covid-19 yang belum ada bukti ilmiahnya, ya saya tidak tahu," pungkasnya. (foto: kompas.com)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00