Pembebasan Baasyir Dikhawatirkan Keluarga Korban Bom Bali

Istimewa

KBRN, Jakarta: Kabar mengenai pembebasan Abu Bakar Baasyir dari penjara pada hari ini Jumat (8/1/2021) mengkhawatirkan sebagian pihak.

Salah satunya sejumlah anggota keluarga korban tewas dalam peristiwa bom Bali tahun 2002 yang berada di Australia. 

"Dia tidak membunuh satu orang, dia membunuh 202. Dia akan kembali mengajarkan apa yang diajarkannya sebelumnya," kata Sandra Thompson, orang tua dari korban ledakan bon Bali dikutip dari ABC News, Jumat (8/1/2021).

Menurut Sandra, Baasyir adalah salah orang yang harus bertanggung jawab atas ledakan di kawasan Kuta yang terjadi 18 tahun lalu dan ia tetap berbahaya.

"Dia tidak pernah mengatakan menyesal, dia tidak pernah meminta maaf. Dia masih berpikir dia melakukan hal yang benar. Jadi bukankah dia bisa saja kembali mengajarkan anak-anak muda Muslim mengenai kebencian lagi?" lanjutnya.

Sisi lain, Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne juga mengatakan jika Australia selalu menyerukan agar mereka yang terlibat mendapatkan hukuman yang berat, adil, dan proporsional namun menghormati kedaulatan dan sistem hukum di Indonesia.

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict Sydney Jones mengatakan, Baasyir secara fisik mungkin akan bebas namun polisi akan terus memantau seluruh pergerakannya.

"Saya yakin mereka akan mengawasi rumah dan pondok pesantrennya," katanya.

"Pengawasan itu tidak akan berakhir dalam waktu dekat, dan juga pihak berwenang bisa menggunakan protokol kesehatan COVID-19 untuk mencegah kumpulan massa dalam jumlah besar," imbuhnya.

Sydney meyakini, jika  pengaruh pemahaman pembebasan Baasyir saat ini sudah semakin berkurang.

Namun, lanjutnya, saat ini masi  ada orang-orang lain  lebih ekstrem dibanding Baasyir lebih berbahaya sehingga lebih berbahaya.

"Saya kira pembebasan Baasyir tidak akan membuat perbedaan besar dalam soal risiko serangan teroris atau bahaya ekstremisme di Indonesia," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00