Mengenal Rumah Adat Aceh

Foto : Antara

KBRN, Banda Aceh: Rumah adat Aceh disebut dengan rumoh Aceh merupakan rumah adat kebanggan daerah berjuluk tanah rencong, salah satunya rumah adat di Kabupaten Aceh Besar. 

Rumah adat kabupaten Aceh besar memiliki bentuk rumah panggung. Pada zaman dulu, masyarkaat masih banyak tinggal di rumah adat tersebut. Namun seiring perkembangan zaman, rumah panggung berkontruksi kayu itu perlahan mulai ditinggalkan, kini masyarakat memilih untuk membuat bangunan rumah beton. 

Jika ingin melihat rumah adat Aceh, bisa dijumpai di desa Lampisang Kecamatan Peukan Bada kabupaten Aceh Besar, yaitu rumah peninggalan pahlawan Aceh Cut Nyak Dhien. Ada satu lagi replika rumah adat aceh berada di museum Aceh di Banda Aceh. 

Rumah adat Aceh ini memiliki makna dan arti tersendiri pada setiap bangunan. Rumah adat aceh ini disebut-sebut rumah yang paling kokoh dan tahan gempa. bentuknya pun seragam, berupa persegi empat yang memanjang dari timur ke barat dengan tinggi tiang mencapai 2 hingga tiga meter. Konon, bentuk memanjang itu dipilih untuk memudahkan penentuan arah kiblat shalat. Rumah adat aceh besar ini beratap rumbia. 

"Ada beberapa bagian terpenting yang harus diketahui pada bangunan rumah adat aceh besar yiatu bagian serambidepan, serambi belakang, rumah induk atau rumoh inong, dapur, teras, terdapat juga lumbung padi, gerbang, tiang. Atap rumah berfungsi sebagai tempat penyimpanan pusaka keluarga," kata Pengurus Majelis Adat Aceh Besar Hasyim Yakob mengenai arti di setiap bagian rumah Aceh Besar kepada rri.co.id, Minggu (19/9/2021). 

Bagi suku bangsa Aceh, segala sesuatu yang dilakukan, selalu berlandaskan kitab adat. Kitab adat tersebut, dikenal dengan Meukeuta Alam. Salah satu isi di dalamnya terdapat tentang pendirian rumah. Di dalam adat menyebutkan ”Tiap tiap rakyat mendirikan rumah atau masjid atau balai-balai atau meunasah pada tiap-tiap tihang harus dipakai kain mereh putih.  Kain merah putih yang dibuat khusus di saat memulai pekerjaan itu dililitkan di atas tiang utama yang di sebut tamèh raja dan tamèh putroë”. 

Karenanya, menurut Hasyim, terlihat bahwa Suku Aceh bukanlah suatu suku yang melupakan apa yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka. 

Dalam kitab tersebut juga dipaparkan bahwa; dalam Rumoh Aceh, bagian rumah dan pekarangannya menjadi milik anak-anak perempuan atau ibunya. Menurut adat Aceh, rumah dan pekarangannya tidak boleh dibelokkan dari hukum waris. Jika seorang suami meninggal dunia. 

Maka Rumoh Aceh itu menjadi milik anak-anak perempuan atau menjadi milik isterinya bila mereka tidak mempunyai anak perempuan. 

"Untuk itu, dalam Rumah Adat Aceh, istrilah yang dinamakan peurumoh, atau jiak diartikan dalam bahasa Indonesia adalah orang yang memiliki rumah," ungkapnya. 

Biasanya warga Aceh Besar saat membangun rumah, terlebih dahulu dilakukan musyawarah baik dengan pihak keluarga maupun dengan tengku imam gampong. Musyawarah tersebut untuk merancang pembangunan dan disitu juga memiliki makna saling tolong menolong antar sesame warga. 

Sementara itu, Kepala dinas pendidikan dan kebudayaan aceh besar salahuddin mengatakan, pihaknya akan memasukan kedalam kurikulum muatan lokal di sekolah agar tentang adat dan budaya aceh, khususnya tentang rumah adat Aceh. 

Kini rumoh adat Aceh Besar telah menjadi ikon pariwisata di daerah ini. Banyak wisatawan yang berkunjung untuk melihat sejarah aceh salah satunya rumah adat yang berada di museum Aceh dan rumah peninggalan pahlawan Aceh Cut Nyak Dhien. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00