Selamat Datang Bank Digital

(Ilustrasi | Unsplash.com)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Era digital sedang melanda apapun, termasuk layanan perbankan.  Digitalisasi bukan hanya mempermudah dan mempercepat layanan, tetapi juga menampilkan akurasi data lebih baik, menghemat waktu dan hemat biaya pula. Bank-bank digital tak perlu ribet pengadaan kantor, fasilitas layanan seperti karyawan dan alat-alat transportasi seperti halnya bank konvensional. Terlebih pandemi covid-19 membuat layanan tatap muka berkurang, begitu pula layanan perbankan.

 Tak heran kini sejumlah bank ramai-ramai bermigrasi atau membangun entitas anak usaha dalam bentuk bank digital. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat setidaknya ada tujuh bank yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi bank digital. Selain itu ada pula lima bank yang sudah resmi jadi bank digital.

Tujuh bank itu dalam proses menuju digital sedangkan yang lima bank yang sudah menyatakan diri menjadi bank digital. Tujuh bank tersebut adalah Bank BCA Digital, PT BRI Agroniaga Tbk, PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Bank Capital Tbk, PT Bank Harda Internasional Tbk, PT Bank QNB Indonesia Tbk.  Sementara lima bank yang sudah menjadi bank digital, yaitu Jenius dari Bank BTPN, Wokee dari Bank Bukopin, Digibank dari Bank DBS, TMRW dari Bank UOB, LINE Bank dari KEB Hana Bank dan Jago dari Bank Jago.  

Forbes mendefinisikan bank digital sebagai bank yang menggabungkan layanan online dan seluler (mobile banking) dalam satu payung. Layanan perbankan online berarti nasabah dapat mengakses fitur dan layanan perbankan melalui situs website bank dari layar komputer atau laptop.

Misalnya, nasabah mengakses fitur perbankan tambahan seperti mengajukan pinjaman dan kartu kredit dari website resmi bank. Layanan mobile banking memungkinkan nasabah menggunakan aplikasi dari bank untuk mengakses banyak fitur perbankan melalui perangkat seluler. Biasanya nasabah menggunakan informasi login yang sama dengan portal perbankan online.

Sejumlah layanan yang ditawarkan oleh mobile banking antara lain transfer antar rekening dan antar bank, pembayaran bersifat komersial, pulsa, listrik, kartu kredit, asuransi, internet, dan sebagainya, hingga layanan gaya hidup seperti membeli tiket, belanja, dan lainnya. Bank digital memberikan nasabah lebih banyak akses pada layanan keuangan dibandingkan bank konvensional. Terlebih pandemi covid-19 membuat layanan tatap muka berkurang, begitu pula layanan perbankan.

Layanan Mandiri

OJK mendefinisikan layanan perbankan digital sebagai layanan perbankan elektronik yang dikembangkan dengan mengoptimalkan pemanfaatan data nasabah dalam rangka melayani nasabah secara lebih cepat, mudah, dan sesuai dengan kebutuhan (customer experience). Selain itu, layanan perbankan digital dapat dilakukan secara mandiri oleh nasabah, dengan memperhatikan aspek keamanan.

Jenis layanan antara lain administrasi rekening, otorisasi transaksi, pengelolaan keuangan, layanan informatif, layanan transaksional, dan sebagainya.

Ada layanan informatif  yang hanya terbatas pada penyediaan informasi kepada nasabah bank tanpa ada interaksi lebih lanjut.  Sedangkan, layanan transaksional diawali dengan penyediaan informasi kepada nasabah dapat disertai dengan fasilitas untuk berinteraksi dengan bank dalam rangka membantu pengambilan keputusan transaksi keuangan.

OJK sedang memfinalkan aturan terkait bank digital namun belum terwujud. Salah satu hal yang akan masuk dalam peraturan OJK adalah modal awal untuk mendirikan bank digital sebesar Rp 10 triliun. Menurut  Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto, modal awal Rp10 triliun berlaku bagi perusahaan yang benar-benar baru berdiri sebagai bank digital. OJK menetapkan modal awal Rp3 triliun untuk bank konvensional yang dikonversi menjadi bank digital. Sedangkan bank yang menjadi bagian dari kelompok usaha bank dan ingin menjadi bank digital harus memiliki modal awal Rp1 triliun. Misalnya PT Bank Central Asia Tbk (BCA) punya PT Bank Royal Indonesia, itu karena sudah ada cangkang modal bisa Rp1 triliun.

Selain itu, bank digital juga harus memiliki minimal satu kantor pusat di Indonesia. Beberapa syarat penting lainnya, bank itu harus memiliki kemampuan bisnis yang prudent, berkesinambungan, paham mitigasi, memiliki manajemen risiko, antisipasi risiko digital, dan sistem perlindungan data nasabah.

Top of Form

ATM Ditinggalkan

 Perubahan yang segera terjadi, perbankan  mulai mengurangi jumlah kantor cabang dan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM).  Jika bank konvensional tak beradaptasi, akan tertinggal di tengah ketatnya persaingan. "Kemajuan teknologi, perubahan perilakukonsumen, persaingan yang ketat antarbank dan ancaman baru dari 'bank-bank baru'," kata pengamat pasar modal, Rovandi kepada CNBC Indonesia.

Ia tren munculnya bank digital memang tak terelakkan, apalagi dengan adanya kerja sama dengan platform pembayaran (perusahaan fintech), seperti Gopay, OVO, PayPal dan lainnya ini. Di sini banyak transaksi dilakukan secara online, sehingga tidak lagi diperlukan banyakkantor cabang dan gerai ATM. 

OJK mencatat, jumlah kantor cabang bank telah berkurang lebih dari 3.000 dalam waktu enam tahun terakhir. Transaksi perbankan secara digital mendorong bank-bank tidak membuka kantor cabang baru karena dinilai tidak efisien. Nasabah semakin jarang ke kantor cabang bank sehingga mereka mulai menutup kantor cabang dan beralih ke layanan elektronik.

Jumlah kantor cabang perbankan per Maret 2021 sebanyak 29.889 unit,  turun dari posisi Desember 2020 yang sebanyak 30.733 kantor cabang. Penurunan ini juga sejalan dengan berkurangnya jumlah bank umum dari sebelumnya 109 bank di akhir tahun lalu menjadi 107 bank di akhir kuartal I-2021 lalu. Padahal di akhir 2015, tercatat yang masih beroperasi sebanyak 32.963 kantor cabang dari 118 bank umum yang beroperasi di Indonesia.

Transaksi nasabah pun mulai meninggalkan ATM dan beralih menggunakan aplikasi yang disediakan masing-masing bank. Ini sudah terjadi di Bank Mandiri, kata Direktur Treasury & International Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), Panji Irawan.

Bank Mandiri mencatat pada kuartal pertama 2021, transaksi di ATM Rp 200 triliun lebih kecil dari transaksi di aplikasi yang mencapai Rp 341 triliun. Ini adalah salah satu tren yang dipercepat karena adanya pandemi. Masyarakat yang tetap di rumah memiliki pola yang berubah.

Meski begitu, sebagai upaya terus meningkatkan kenyamanan nasabah, Bank Mandiri telah menarik  5.000 ATM  berusia tua.

Sebelumnya OJK sudah merilis roadmap (peta jalan) pengembangan perbankan nasional 2020-2025, yang mengatur soal digitalisasi perbankan. Pandemi telah mendorong transaksi dan layanan keuangan secara digital dan virtual. Ini mendorong OJK mempercepat  transformasi digitalisasi perbankan Indonesia, menempatkannya sebagai prioritas terpenting kedua yang harus dijalankan dalam peta pengembangan industri.

Fenomena tersebut tidak terjadi di Indonesia, tetapi hampir seluruh negara di dunia. Muncul konsep digital bank, neo bank, maupun challenger bank. Pada intinya ini adalah bank-bank yang memanfaatkan digital teknologi untuk memberikan layanan kepada masyarakat. Secara kelembagaan hanya terdapat Bank Umum dan BPR (Bank Perkreditan Rakyat). Kehadiran bank digital merupakan bagian dari bisnis model bank tersebut.  Tidak benar ada lisensi tersendiri terhadap bank digital, dan tidak akan mengubah perizinan bank umum atau BPR.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00