Kompetisi Beralih ke Mobil Otonom

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono
Sudah lebih tiga abad energi fosil menggerakkan dunia. Kini fosil yang tidak terbarukan dan sarat polutan itu semakin habis.  Sebagai gantinya, penggerak otomotif diambil alih tenaga baterai yang di dalamnya terkandung nikel. Kini tibalah waktunya nikel akan menggantikan energi fosil. Industri otomotif pun berubah. Banyak merk mobil berlomba mencuri keberuntungan dan beradu cepat masuk ke baterai. Tesla paling banyak disebut sebagai yang paling serius merespon tantangan ini. Medan pertarungan mereka yang terbaru bukan hanya menciptakan mobil baterai, tetapi sudah menginjak ke mobil-mobil otonom (self driving) yang berpenggerak baterai. Toyota misalnya yang merasa ‘dipecundangi’ Tesla dalam pengembangan mobil baterai, semakin serius mengembangkan mobil-mobil otonom (self-driving) atau bergerak tanpa bantuan manusia. Keseriusan perusahaan otomotif asal Jepang itu ditunjukkan dengan membeli divisi mobil otonom Lyft seharga US$550 juta atau setara Rp7,9 triliun (US$1 = Rp14,494). Dikabarkan Lyft setuju menjual divisi self-driving ke anak perusahaan Toyota Motor Corp. Sebaliknya Toyota juga telah setuju untuk menggunakan data dan platform armada Lyft untuk layanan komersial apa pun. Dari sisi teknologi, Lyft telah meluncurkan level 5 mobil otonom pada 2017 yang diklaim paling canggih untuk saat ini. Level 5 merupakan sistem terbaru untuk mobil otonom. Mobil mampu bergerak sendiri tanpa bantuan manusia melainkan cuma mengandalkan sistem yang saling terhubung.Untuk bisa melakukan itu mobil dilengkapi sejumlah sensor dan semacam radar sebagai mata ketiga dalam perjalanan. Dilansir The Verge, Toyota telah mengembangkan perangkat lunak mobil otonom yang disebut "Chauffeur". Toyota juga memiliki produk kedua yang disebut "Guardian," sistem bantuan pengemudi mirip dengan Autopilot Tesla. Tahun lalu, Toyota membangun "Woven City" di Jepang. Perusahaan berharap dapat mengubahnya menjadi "kota prototipe masa depan" untuk bisa menguji kendaraan otonom, desain jalan yang inovatif, teknologi rumah pintar, robotika, dan produk-produk canggih lain.

Strategi VW

Di Eropa Volkswagen atau VW tak mau dibilang ‘anak bawang’ dibandingkan raksasa Jerman lainnya, Mercedes Benz, BMW, Audi, dan Porsche.  VW meyakini mampu mencapai target penjualan mobil listrik mayoritas di pasar Eropa pada 2030. Cara ini ditempuh untuk memenangi persaingan produksi mobil listrik dunia. "Dari semua pabrikan besar, Volkswagen memiliki peluang terbaik untuk memenangi perlombaan," ujar Ralf Brandstaetter, yang mengepalai merek VW sekaligus duduk di Dewan Manajemen Grup VW.

Seperti dikutip Reuters, pabrikan otomotif Jerman tersebut menyatakan ingin mempercepat peralihan ke model mobil listrik. Brandstaetter menjelaskan kendaraan listrik sepenuhnya buatan Grup VW diharapkan menyumbang lebih dari 70 persen total penjualan di Eropa pada 2030. Target sebelumnya hanya 35 persen.

Volkswagen mengatakan telah mengalokasikan sekitar 16 miliar euro (19 miliar dolar AS) untuk investasi dalam tren masa depan mobilitas elektronik, hibridisasi, dan digitalisasi hingga 2025.

Perusahaan mengakui adanya kecurangan dalam tes emisi diesel AS dan harus berurusan dengan kuota baru Cina untuk kendaraan listrik. Maka perlu dilakukan peralihan strategis ke teknologi tanpa emisi dan self-driving.

VW ikut berlomba mengembangkan kendaraan listrik untuk memenuhi target emisi yang lebih ketat di Eropa. Apalagi minggu ini Volvo, dan banyak produsen mobil lainnya, menargetkan line-up kendaraan full-electric pada 2030.

Stellantis, perusahaan merger antara Fiat Chrysler dan PSA Peugeot, pun berencana memiliki mobil listrik versi full-electric atau hybrid pada semua mobilnya di Eropa pada 2025.

Di Cina dan Amerika Serikat, VW mengharapkan pangsa mobil listrik akan meningkat hingga 50 persen pada tahun untuk mengalahkan pesaing, termasuk Tesla, untuk menjadi pemimpin dunia dalam produksi mobil listrik. Dengan merk andalannya, ‘Accelerate’ VW meningkatkan kecepatan dalam perjalanan menuju masa depan digital.

Hyundai Ioniq

Sesuatu yang menarik juga terjadi di Asia. Korea Selatan tak ingin jadi penonton kompetisi. Hyundai Motors Indonesia (HMI) sudah mendahului meluncurkan dua mobil listrik secara bersamaan, yakni Ioniq dan Kona Electric. Hyundai Ioniq dibanderol dengan harga mulai dari Rp 624,8 juta membuatnya sebagai mobil listrik murni baterai termurah di Indonesia saat ini.

Spesifikasi yang ditawarkan mobil listrik asal negeri gingseng ini?

Desain

Dari segi eksterior, Hyundai Ioniq Electric ini sudah pancarkan aura futuristik, berkat grill tanpa lubang, dengan lampu khas unik yang berasal dari lampu depan LED ke Day Running Light (DRL).

Trim abu-abu anthracite yang terlihat pada bemper belakang dan bezel pada lampu siang hari di bagian depan menciptakan tampilan yang lebih halus dan dinamis.

Tampilan dari samping juga terlihat modern berkat penggunaan pelek palang berukuran ring 16 dengan sentuhan dual tone.

Dari sisi interior, Ioniq menampilkan kesan modern dengan kursi berbalut kulit. Ioniq juga memiliki dua layar LCD yang menampilkan berbagai informasi untuk pengemudi. Cluster Supervision dengan layar LCD TFT 7" memberikan informasi penting dari kendaraan pada posisi yang mudah terlihat oleh pengemudi.

Layar audio 8 inci menjadi titik pusat dari Ioniq untuk konektivitas Smartphone dan Bluetooth melalui interface layar sentuh. Iiniq telah menerapkan sistem Shift-by-wire, yang menghilangkan proses mekanis dan memungkinkan perpindahan gigi hanya dengan menyentuh sebuah tombol dan rem parkir, juga melalui sebuah tombol.

Powertrain dari Hyundai Ioniq menggunakan motor listrik bermagnet permanen dan berefisiensi tinggi sebesar 100 kW (136 PS) yang dipasok oleh baterai lithium ion 38,3 kWh. Motor memiliki torsi 295 Nm yang didistribusikan ke roda depan, dan ber akselerasi 0-100 m dalam 9,9 detik.

Jarak tempuh Hyundai Ioniq mencapai 373 km (berdasarkan NEDC) dan 311 km (berdasarkan WLTP) dalam sekali pengisian daya. Pengisian daya penuh dapat dicapai dalam 54 menit untuk pengisian nol hingga 80 persen dengan menggunakan stasiun pengisian kendaraan listrik berkapasitas 100 kW (DC).

Hyundai Ioniq ini juga bisa dicas di rumah (standar) dari titik nol hingga 100 persen memakan waktu 17 jam 30 menit, AC Charging 6 jam 5 menit.

Selain itu fitur keselamatan juga menjadi perhatian lebih Hyundai dengan dihadirkannya tujuh titik airbags, parking distance warning (PDW), tire pressure monitoring system dan electric parking brake dengan autohold. Ada juga tiga pilihan mode berkendara: eco, sport, normal; dan transmisi single speed reduction gear.

Tombol dengan tipe Shift-by-Wire meningkatkan kenyamanan pengoperasian. Konsol tengah juga dilengkapi baki pengisian daya telepon tanpa kabel. Untuk mengisi daya perangkat, cukup letakkan smartphone yang kompatibel pada antarmuka pengisian daya nirkabel.

IONIQ Electric hadir dalam dua tipe, Prime dengan harga Rp 624.800.000 dan Signature Rp 664.800.000 (OTR Jakarta)

Tim Arjuna UGM

Di dalam negeri tim Mobil Listrik Arjuna Universitas Gajah Mada Jogja berhasil meraih dua penghargaan dari kompetisi 5th Annual FSEV Concept Challenge (FSEV 2021) yang diselenggarakan oleh Formula Bharat India secara daring. Kompetisi diikuti 31 tim dari India, Turki, dan Indonesia.

Tim Arjuna mendapatkan predikat Best Battery Design dan 3rd Place Team Management Report. Selain itu juga menjadi finalis di kategori Software and Intelligence Integration.

Ketua Tim Mobil Arjuna, Muhammad Raihan Hilmy mengatakan penghargaan desain baterai terbaik merupakan pengakuan atas hasil kerja keras tim. Pada kompetisi itu, timnya harus memberikan tujuan yang jelas untuk kebutuhan tenaga dan energi kendaraan yang dicapai dengan penyusunan baterai yang ringkas serta keamanannya.

Keikutsertaan Tim Arjuna pada kompetisi merupakan kedua kalinya. Sebelumnya, tim telah mengikuti kompetisi pada tahun 2020 dan berhasil memboyong sejumlah penghargaan.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00