KA Sulawesi Akan Lebih Cepat

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Kini Nusantara memasuki babak baru dalam moda transportasi bebasis rel. Dalam waktu hanya lima tahun, Presiden Jokowi membangun bukan hanya ribuan kilometer jalan tol, melainkan juga jalur-jalur baru kereta rel. Pulau Kalimantan dan Sulawesi yang belum pernah memiliki jalur kereta rel, kini sudah bisa menikmatinya.

Pulau Sumatra yang sudah lama berkereta api pun, semakin beroleh fasilitas baru yang lebih modern. Untuk menghela gerbong-gerbong batubara di Sumatra, didatangkan lokomotif baru seri CC terbaru dari pabriknya di Amerika. Loko ini berkekuatan besar dan mampu menarik hingga 40 gerbong bermuatan batu bara.

Di Jakarta, sebuah jaringan ‘subway’ yang berkelas dunia sudah siap dioperasikan. Meski sekarang jalurnya terbatas, namun sudah ditetapkan pengembangannya hingga mencakup seluruh wilayah Jakarta. Mobilitas warga megapolitan sekelas Jakarta membutuhkan ‘’mass rapid transportation’’ yang memadai, agar pengguna mobil/motor pribadi berpindah ke angkutan massal.

Kereta cepat sekelas Shinkansen juga sedang disiapkan antara Jakarta-Bandung. Sementara Jawa terhubung rel ganda yang akan dilalui kereta cepat medium hingga 120 km perjam.   

Apa yang istimewa pada jalur utama perlintasan Kereta Api (KA) Makassar-Parepare.  Berbeda dengan umumnya jalur KA yang sudah beroperasi, rel KA Sulawesi  menggunakan standard gauge (lebar rel, atau wheel track) berukuran 1.435 milimeter. Direktur Strategi Bisnis dan Portofolio PT Len Industri (Persero) Linus Andor Mulana Sijabat menjelaskan, ukuran lebar rel itu pertama kali digunakan di Indonesia.  Ini adalah jalur utama KA pertama di Indonesia yang menggunakan standard gauge 1.435 milimeter. Trek lebar dan rel tinggi lazim digunakan kereta cepat di luar negeri seperti Shinkansen (Jepang),  Amtrak (Amerika Serikat), Kereta Cepat Cina, Jerman, Prancis, dan sebagainya.

Ukuran rel (trek = track) lebar ini berbeda dengan yang digunakan di sebagian besar jalur Jawa dan Sumatera, yang hanya selebar 1.067 milimeter. Di Jawa rel ukuran ini mengikuti warisan sejak zaman Belanda.  Bahkan trek ganda yang baru dibangun di pantura Jawa dan Solo-Jogja pun masih menggunakan trek kecil ini. Karena treknya sempit, kecepatan maksimal kereta hanya sebatas  90-100 kilometer per jam. Di Sulawesi KA bisa dipacu hingga maksimal 160 km perjam atau berkecepatan jelajah rata-rata 120 km perjam. Ini sudah lebih cepat dibandingkan KA Argo Bromo yang melaju di jalur rel kembar pantai utara Pulau Jawa.

Untuk itu Kementerian Keuangan terus berupaya mengakselerasi pembangunan infrastruktur di Indonesia melalui skema pembiayaan kreatif. Pekan lalu, PT Indonesia Infrastructure Finance (PII), PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk melakukan penandatanganan Perjanjian Fasilitas Sindikasi Pinjaman Berjangka Senior dan Pembiayaan Musyaraqah Mutanaqisah (MMq) untuk Penyelenggaraan Prasarana Proyek Perkeretaapian Makassar-Parepare dengan PT Celebes Railway Indonesia. Dengan perjanjian ini, maka Proyek Perkeretaapian Makassar-Parepare telah mencapai salah satu jejak pentingnya, yaitu ’financial close’ artinya pinjaman untuk pembiayaan proyek telah tersedia.

Studinya Berbeda

Dalam menerapkan desain baru ini, PT Len Industri (Persero) harus membuat studi dan perancangan berbeda,  faktor keselamatan menjadi hal utama. Selain itu, perusahaan juga harus memastikan agar kualitasnya tidak kalah saing dengan perkeretaapian di Jawa dan Sumatera. Perlintasan KA Makassar-Parepare langsung dibangun dua jalur yakni, Tanete Rilau-Palanro sepanjang 42,8 kilometer dan Mandai-Mandalle membentang 102,4 kilometer. Khusus jalur Tanete Rialau-Palanro, telah dilakukan proses pengetesan pertama sistem persinyalan di Stasiun Tanete Rilau-Palanro.

Sejak Februari 2021, konstruksi Jalur Tanete Rilau-Palanro sudah mencapai 96,21 persen. Tinggal  menyisakan pekerjaan akses jalan dan penataan track. Selanjutnya  akhir tahun terdapat penambahan pekerjaan dari Kementerian Perhubungan untuk memastikan beroperasinya sistem perkereta-apian Makassar-Parepare secara optimal.

Pekerjaan tambahannya berupa penataan jalur dan stasiun serta penambahan pengadaan dan pemasangan ‘point machine’ di jalur kereta api. Dengan adanya pekerjaan tambahan itu, target adendum diperpanjang yang awalnya tuntas 31 Desember 2020 menjadi 31 Maret 2021. Untuk diketahui, jalur KA Tanete Rilau-Palanro dan Mandai-Mandalle merupakan bagian dari lintas Makassar-Parepare. Lintasan ini merupakan tahap pertama pembangunan jaringan KA pertama Trans-Sulawesi.

Pembangunan Trans-Sulawesi dapat menghubungkan perkotaan atau wilayah yang memiliki potensi angkutan penumpang, logistik, atau komoditas berskala besar, berkecepatan tinggi dan konsumsi energi tetap rendah. Trans-Sulawesi juga mendukung perkembangan perkotaan terpadu melalui integrasi perkotaan di wilayah pesisir, baik industri maupun pariwisata, serta agropolitan yaitu kehutanan, pertanian, maupun perkebunan.

Kurangi Beban APBN

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan Risiko, Luky Alfirman, menyampaikan bahwa sebagian besar jalur kereta api atau prasarana pada proyek ini didanai dari APBN yang bersumber dari instrumen pembiayaan syariah, yaitu SBSN/sukuk. Sementara skema KPBU pada proyek ini fokus pada pengoperasian dan pemeliharaan jalur kereta api dan pembangunan side track menuju PT Semen Tonasa, yang pengembalian investasinya dilakukan melalui Pembayaran Ketersediaan Layanan atau Availability Payment.

Menteri Perhubungan Budi Karya juga menyampaikan bahwa skema pembiayaan tersebut telah sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meminta adanya pemikiran kreatif agar proyek bisa tetap berjalan di tengah keterbatasan anggaran pemerintah. Pembiayaan ini diharapkan dapat mengurangi beban keuangan negara dalam merampungkan pembangunan infrastruktur khususnya infrastruktur transportasi.

Proyek Perkeretaapian Makassar-Parepare merupakan pengembangan tahap pertama Jaringan Kereta Api Nasional Trans Sulawesi yang juga tercantum dalam RPJMN 2020-2024, yang pembangunannya dimulai dari Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi ini mempunyai perkiraan pola perjalanan penumpang dan barang terbesar dari provinsi lainnya berdasarkan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional 2011.

Mencapai Bantimurung

Jalur KA Makassar-Parepare dibangun sejauh 142 kilometer dengan 16 unit stasiun. Terdapat dua jenis KA yang dioperasikan pada rute ini, yakni kereta api penumpang (perintis) dan kereta api barang. KA Penumpang akan menjadi pilihan moda transportasi bagi masyarakat yang juga mendukung pengembangan potensi wisata di daerah Rammang-Rammang dan Bantimurung.

Kedua, KA Barang sebagai alternatif baru untuk menunjang angkutan logistik dan kawasan industri di sepanjang koridor jalur KA, serta mengintegrasikan dengan pelabuhan laut.

Pembangunan Segmen 3 meliputi wilayah Pangkep dan Maros, yakni sekitar 60 kilometer. Di Pangkep, progres konstruksinya sudah 67,74 persen, sedangkan di Maros 48,01%. Ditargetkan pada Agustus 2021, pembangunan jalur KA di Pangkep sudah selesai dan pembangunan jalur KA di Maros selesai pada November 2021. Setelah itu, akan dilakukan pengujian pada jalur KA Makassar-Parepare hingga akhirnya dapat digunakan oleh publik.

Segmen 1 dan 2 akan mulai dioperasikan pada bulan Mei. “Bulan April nanti akan ada satu ruas yang selesai pengujian. Oleh karena itu, kita perlu percepatan ketersediaan lahan di Segmen 3 karena anggarannya sudah ada dan pembangunan ruas selanjutnya dapat cepat terselesaikan,” ungkap Kepala Bidang Balkis.

Pembangunan jalur KA Makassar-Parepare ini diharapkan mampu memberikan peningkatan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp2,51 triliun, dengan internal rate of return (IRR) sebesar 22,98% bagi perekonomian di Sulawesi Selatan. Kedua, proyek ini diperkirakan akan memberdayakan 6.164 tenaga kerja. Ketiga, waktu tempuh antarkedua kota dapat dipersingkat dari 3 jam bermobil menjadi hanya 1,5 jam.

Keempat, kereta api ini memiliki potensi angkutan yang besar, baik angkutan penumpang maupun barang. Potensi angkutan barang berupa semen, klinker, dan bahan pangan sebanyak 60-70 juta ton. Kelima, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang beroperasi di sejumlah stasiun pun diharapkan dapat memperoleh dampak positif.

Sebagai informasi, pada 2019 telah diselesaikan pembangunan jalur KA Makassar-Parepare Segmen 2 lintas Barru-Palanro sepanjang 40 km, serta pembangunan 5 stasiun baru yakni Stasiun Tanete Rilau, Stasiun Barru, Stasiun Takalasi, Stasiun Mangkoso, dan Stasiun Palanro.

Pembangunan Proyek KA Makassar - Parepare sepanjang 144 km (melalui Makassar-Maros-Pangkep-Barru-Parepare) ini merupakan bagian dari rencana pembangunan jalur KA Trans Sulawesi. Selain itu pembangunan jalur KA ini, nantinya akan terintegrasi dengan Bandara Internasional Hasanuddin di Maros serta Pelabuhan Garongkong di Barru.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00