Kalimantan Tunggu Investor Baru

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Lain Sulawesi, beda pula Kalimantan. Konsep membangun jaringan kereta rel di Kalimantan sejak lama dianggap mustahil. Jarak antarkota di Kalimantan umumnya berjauhan. Putaran ekonomi daerahnya dinilai belum ‘feasible’ untuk membiayai infrastruktur kereta api. Sifatnya lebih banyak investasi jangka panjang, yang entah kapan baru balik modal.

Potensi muatan yang bisa diraih adalah angkutan barang, barang tambang (batubara), bukan manusia. Itu sebabnya projek KA Kalimantan harus di-bundling dengan aspek ekonomis lainnya. Tidak mungkin juga seluruh biayanya dibebankan kepada negara sepenuhnya. 

Pemerintah Rusia pernah meminati proyek besar ini. Mereka akan membangun jaringan rel, berikut lokomotif dan gerbong-gerbong barang buatan Rusia.  Mereka membidik batu bara sebagai muatannya sekaligus diimpor untuk negaranya. Namun belakangan harga batu bara dunia merosot ke titik rendah,   sehingga Rusia kehilangan momentum dan nilai ekonomis proyek KA ini. 

Pertimbangan lainnya, rencana pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur (Kaltim) telah ditunda. Namun persiapannya tetap dilaksanakan salah satunya proyek kereta api di Kalimantan Timur yang menghubungkan ke lokasi IKN. Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri mengungkapkan,  persiapan proyek itu tercantum dalam rencana kerja pada 2021 dan termasuk dalam prioritas Ditjen Perkeretaapian.

Kemenhub belum menanggalkan rencana membangun jalur KA di Provinsi Kalimantan Timur yang dilakukan melalui skema KPBU. Jalur ini yang menghubungkan Tabang Muara Wahau – Maloy (Utara) sepanjang 305 Km dan Batas Kalimantan Tengah – Bulumuning sejauh 196 Km.

Ditjen Perkeretaapian c.q Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan KA akan menindaklanjuti dan berkoordinasi dengan PT Kereta Api Borneo (anak usaha Russian Railways) untuk dapat menyampaikan kajian pra-feasibility study (FS) pengembangan perkeretaapian (KA Khusus atau KA Umum). Sejauh ini  PT Kereta Api Borneo belum menyampaikan dokumennya untuk dilakukan pembahasan lebih lanjut dengan Ditjen Perkeretaapian.

Kemenhub juga merencanakan dukungan terhadap pengerjaan feasibility study (FS) atau studi kelayakan pada 2021. Studi Kelayakan Penyelenggaraan Perkeretaapian Segmen Balikpapan-Samarinda dalam Rangka Mendukung Ibu Kota Negara menjadi salah satu yang disiapkan. Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas Suharso Monoarfa memastikan rencana pembangunan Ibu Kota Negara baru ditunda untuk tahun depan. Penundaan dilakukan karena pemerintah masih fokus menyelesaikan dampak pandemi Covid-19.

Proyek Senilai Rp 53 Triliun

Pemprov Kaltim juga terus berupaya mencari mitra strategis baru mewujudkan proyek pembangunan kereta api batu bara setelah investor Rusia mundur.  Berdasarkan informasi yang dirilis Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), Proyek kereta api ini membutuhkan Rp 53,3 triliun dengan skema pendanaan swasta.  Status proyek tersebut hingga saat ini masih dalam tahap penyiapan, sedangkan penanggung jawab proyek adalah PT Kereta Api Borneo. Saat ini proyek tersebut sudah tak lagi berstatus sebagai Proyek Strategis Nasional.

Kereta Api Kalimantan Timur merupakan proyek pembangunan kereta api single track sepanjang 203 kilometer yang didukung dengan infrastruktur meliputi stasiun jetty batubara, pelabuhan dan PLTU dengan kapasitas 15 MW. PT Kareta Api Bornei (KAB) akan mengoperasikan proyek ini. Kereta tersebut rencananya akan melintasi Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Paser, Kabupaten Penajam Paser dan Kota Balikpapan.  Proyek KA ini bertujuan mengurangi biaya distribusi dan waktu tempuh sehingga dapat meningkatkan kapasitas produksi perusahaan pertambangan.

Untuk meningkatkan nilai kelayakan proyek, pihak investor mengajukan permohonan perubahan status dari kereta api khusus menjadi kereta api umum, sehingga memungkinkan untuk mengangkut penumpang dan barang non-afiliasi seperti minyak kelapa sawit dan kayu. Kepala Dinas Perhubungan Kalimantan Timur Arih Frananta Filipus Sembiring menyebutkan pihaknya akan bergerak secepat mungkin agar proyek yang mandek ini kembali dapat dimulai. 

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan karena keterbatasan dana APBN, diharapkan daerah bisa mendapatkan investor dengan sistem B2B atau business to business.

Di Jakarta, Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva mengatakan bahwa Russian Railways (RZD) yang merupakan badan usaha milik negara di negaranya telah menginvestasikan sekitar 18 juta dolar rubel dalam pengembangan proyek. “Sayangnya itu telah berhenti dan salah satu alasannya adalah bahwa rencana ini sebenarnya bertabrakan dengan rencana pemerintah Indonesia untuk memindahkan ibu kota ke Kalimantan,” ungkapnya.

Proyek Nasional

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Zulfikri menyatakan, proyek perkeretaapian yang digagas pemerintah akan terus berlangsung meski pandemi Covid-19 masih melanda tanah air.

Pihaknya fokus untuk merampungkan jalur KA  di Sulawesi, meski konsentrasi terbesarnya masih di Pulau Jawa dan sebagian Sumatera. Diharapkan, jalur KA di Sulawesi bisa beroperasi akhir tahun 2021 atau awal tahun 2022.

Zulfikri menjelaskan pencapaian Kemenhub. Di Sumatera misalnya, telah dibangun jalur KA Bandar Tinggi - Kuala Tanjung dengan panjang 21,5 km, KA Prabumulih - Kertapati, KA Martapura - Baturaja dengan panjang 32 km, dan KA Kotabumi - Cempaka sepanjang 9 km.

Berikutnya, proyek KA Bandara Kualanamu, termasuk jalur ganda dan jalan layang, KA Bandara Internasional Minangkabau, dan LRT Sumatera Selatan juga sudah terealisasi. Pihaknya juga akan meneruskan rencana pembangunan kereta api Bandara YIA (Kedundang-YIA). Dalam rangka mendukung destinasi wisata super prioritas, akan dibangun konektivitas, salah satunya jalur KA baru akses menuju Borobudur.

Tentang perjalanan kereta api terdapat peningkatan di tahun 2019 menjadi 2.079 perjalanan dibandingkan tahun 2015 sebanyak 1.599 perjalanan. Yang terbanyak adalah KA jarak jauh yang memberikan dukungan konektifitas antar wilayah atau antar kota. Dari sisi jumlah penumpang pada 2019 meningkat jadi 453,4 juta dari 327,8 juta di tahun 2015. Perjalanan masyarakat di hari besar maupun perjalanan di kota-kota Jabodetabek menjadi kontributor terbesar peningkatan ini.

Angkutan barang juga meningkat 12,7 persen ton per tahun. Tahun 2015 baru sekitar 29,7 ton per tahun, namun tahun 2019 menjadi sekitar 47,6 juta ton per tahun.

Dukungan Finansial

Menhub menargetkan pembangunan jalur KA Trans Sulawesi untuk lintas Kabupaten Pangkep-Barru akan tuntas pada akhir 2020. Diharapkan jalur KA dari Pelabuhan Garongkong (Barru) ke Tonasa (Pangkep) sepanjang 30 km bisa selesai akhir tahun ini, diharapkan terkoneksi sampai Bosowa (Marros) akhir tahun depan. Setelah itu dikerjakan jalur Makassar-Parepare.

Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah menyampaikan apresiasinya kepada Kemenhub yang telah memberi dukungan bagi percepatan pembangunan KA jalur Makassar-Parepare, khususnya terkait penyelesaian pembebasan lahan. "Ada (warga) yang setuju ada yang tidak setuju. Untuk yang tidak setuju itu kita sudah siapkan metode konsinyasi," sambung Nurdin.

Pembangunan jalur dari Makassar ke Kabupaten Barru, Pangkep, dan Marros dibutuhkan luas tanah sekitar 3.321 bidang dan belum semuanya dibebaskan karena masih dalam tahap konsinyasi, pembahasan BPKP, dan sebagainya.

Dalam pelaksanaan proyek KPBU Kereta Api Makassar-Parepare ini, Kementerian Perhubungan mendapatkan dukungan dari Kementerian Keuangan melalui fasilitas Project Development Facility (PDF), di mana PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) ditugaskan sebagai pelaksana fasilitas.

Fasilitas PDF ini dimulai dari penyusunan Final Business Case (FBC), pendampingan dalam pengadaan Badan Usaha Pelaksana, sampai dengan tahapan pemenuhan pembiayaan (Financial Close).

Selain itu, dia juga mengajak investor untuk melaksanakan proyek transportasi lainnya melalui pendanaan kreatif seperti KPBU supaya tidak membebani APBN, sebagaimana arahan dari Presiden Joko Widodo.

Menhub mengajak investor untuk melaksanakan proyek-proyek transportasi lainnya melalui pendanaan kreatif seperti KPBU. Akan dibangun Pelabuhan Ambon Baru, Pelabuhan Tanjung Carat, Pelabuhan Anggrek, Pelabuhan Garongkong, dan yang sudah berjalan adalah Pelabuhan Patimban. Ada pula proyek di Palembang, Lampung dan Kereta Api di Kalimantan Tengah. Bila swasta punya minat untuk berinvestasi,  akan didukung oleh Kemenhub dan Kementerian Keuangan

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00