Jakarta Harus Luaskan MRT

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Transportasi publik berbasis rel juga menjadi kebutuhan mendesak DKI Jakarta. Ibukota ini sudah bukan metropolitan lagi, melainkan megapolitan. Sebagai metropolitan,  jumlah warga Jakarta sudah lebih 11 juta orang. Lebih pantas disebut megapolitan karena penduduk  Jakarta dan kota-kota penyangga (hinterland) di sekitarnya sudah mencapai 37 juta orang.

Wilayah sebesar ini sudah memerlukan angkutan massal yang cepat dan kolosal atau MRT (Mass Rapid Transportation) bertenaga listrik.  Setiap moda angkutan juga harus saling terintegrasi dan tersambung, agar tercapai efisiensi dan efektivitas pergerakan warga. Kendaraan pribadi dan sepeda motor telanjur membludak tak terkendali, karena setiap orang menginginkan mobilitas yang termudah. Akibatnya bukan kemudahan yang dinikmati warga, melainkan macet parah.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengakui diperlukan integrasi sistem transportasi di Jakarta agar bisa mengurai kemacetan yang menjadi masalah Ibu Kota selama ini. Menurut Anies, dampak 

yang kelihatan mata adalah kemacetan. Karena transportasi umum massal belum tersistem dengan baik.  Jenis transportasi publik di Jakarta cukup banyak mulai dari kereta api, MRT, LRT, Transjakarta, angkot dan bus. Namun selama ini berjalan sendiri-sendiri yang membuat Jakarta macet dan masyarakat masih memilih mobil pribadi.

Integrasi  ini menyangkut kepaduan rute, integrasi tiket, serta pengelolaannya agar  transportasi  tersambung satu sama lain. Kabar baiknya dengan integrasi ini, Jakarta bisa keluar dari 10 kota termacet di dunia Tahun 2020 versi riset TomTom Traffic Index.  Jakarta menempati posisi 31 dari 416 kota yang diukur lembaga tersebut.

Peringkat DKI semakin membaik. Pada tahun 2017, Jakarta berada di peringkat 4 kota termacet di dunia dengan tingkat kemacetan 61 persen. Posisi ini kemudian turun di tahun 2018, yakni di peringkat ke-7 dengan tingkat tingkat kemacetan 53 persen. Tahun 2019 posisinya turun ke posisi 10 dengan tingkat kemacetan 53 persen. Akhirnya, tahun 2020, Jakarta keluar dari 10 kota termacet di dunia, yakni berada di posisi 31 dengan tingkat kemacetan 36 persen. Sepanjang 2020, tingkat kemacetan Jakarta yang terendah terjadi pada April 2020 sebesar 11 persen, tertinggi pada Februari sebesar 61 persen.

Progres MRT

Kini  Jakarta harus membangun jaringan MRT (Moda Raya Terpadu) untuk menjawab kebutuhan sebuah megapolitan. Tulang punggungnya adalah kereta listrik dengan daya angkut besar, seperti Subway di Jepang atau U-bahn di Jerman. Proyek ini sangat mahal karena harus dibangun di bawah tanah.

Direktur Utama PT MRT Jakarta (Persero) William Sabandar mengatakan, konstruksi proyek tersebut tetap berjalan dengan baik meski dalam situasi Pandemi Covid-19. Fase 2A Paket Kontrak 201 (CP201) tersebut telah mencapai 19,59 persen per 25 Juli 2021. Masih sesuai target, MRT Jakarta akan menyelesaikan jalur dari Bundaran HI-Monas pada Maret 2025. Saat ini, pekerjaan konstruksi yang dilakukan adalah pembangunan d-wall, kingspot, dan penggalian concourse level pada shaft selatan di Stasiun Monas. Kemudian di Stasiun Thamrin sedang ada pekerjaan d-wall di area Tunnel Boring Machines (TBM) shaft selatan dan utara.

Selanjutnya, juga ada pekerjaan traffic deck pada shaft selatan, serta sheetpile removal dan pekerjaan retaining wall untuk persiapan pembukaan TBM di area utara Bundaran HI. William mengatakan, konstruksi proyek ini dilakukan dengan kecepatan tinggi namun tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat. Untuk konstruksi Paket Kontrak dari Harmoni-Mangga Besar dan Bundaran HI-Mangga Besar, sedang dalam proses penunjukkan langsung. Dengan proses ini, MRT Jakarta tengah melakukan negosiasi dengan kontraktor yang dipilih yakni, Shimizu-Adhi Karya Joint Venture (SAJV). Bulan Agustus ini finalisasi proposal. Sementara progres terkini Paket CP 208 yaitu Mangga Besar-Kota sedang dalam pengadaan railway system (sistem kereta api). Diharapkan  pada Januari-Februari 2022 akan dilaksanakan penandatanganan kontraknya.

Sempat Terhenti

Proyek MRT Jakarta fase II sudah dibangun sejak 24 Maret 2019, sempat berhenti karena pandemi.

Menurut laporan Direktur Konstruksi MRT Jakarta Silvia Halim sampai 25 April 2021, progres fisik pembangunan jalur Bundaran HI ke Harmoni sudah mencapai 15,36%. " Ini sesuai juga dengan target kita sampai hari ini," ujar Silvia . Pembangunan proyek CP201 Bundaran HI-Harmoni ini mencakup pembangunan terowongan bawah tanah sepanjang 2.677 meter dan pembangunan dua stasiun, yakni Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas.

Yang sudah dikerjakan pihak MRT Jakarta meliputi pengerjaan kedua stasiun tersebut. Untuk Stasiun Thamrin yang sudah dikerjakan adalah pekerjaan power blender dan pekerjaan guide wall di shaft selatan, relokasi drainase shaft selatan, dan pekerjaan jet grout di area Bundaran HI. Selain itu, juga sudah ada pemasangan Silo berisi material Bentonite untuk membantu proses galian di Kawasan Thamrin. Sedangkan, untuk Stasiun Monas yang sudah dilakukan adalah pembangunan atau relokasi Pos Polisi Medan Merdeka, membangun D-wall dan Kingpost Stasiun monas, dan pekerjaan Jet Group di RSS (Bundaran HI).

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar telah menyampaikan target pembangunan Proyek MRT Fase II. Targetnya, tahun ini MRT Jakarta bisa menyelesaikan Fase IIA sampai 23,07% dari total proses konstruksinya. Baru setelah itu, MRT Jakarta lanjut ke proyek fase IIB yang menghubungkan Kota dan Ancol Barat. Secara keseluruhan, Proyek MRT Fase II terutama untuk kontrak CP201 ditarget selesai Maret 2025.

Kini telah dibuka program kunjungan publik untuk melihat progres pembangunan MRT fase 2 mulai minggu ke-4 bulan Mei 2021. Masyarakat tetap bisa memperbarui informasi terkait progres pembangunam MRT Jakarta lewat fasilitas Command Data Enviromental & Building Information Modelling. Selain itu, PT MRT Jakarta juga akan membangun Visitor Center Galeri MRT Jakarta di dua tempat yaitu di Monumen Nasional, yang kini sudah terbangun dan di kawasan Kota. Di dalam fasilitas Visitor Center tersebut disajikan informasi terkait temuan cagar budaya CP201, rekam jejak pembangunan MRT Jakarta, hingga progres pembangunannya saat ini.

Lewati Cagar Budaya

PT MRT Jakarta (Perseroda) dan kontraktor Sumitomo Mitsui Construction Company Jakarta-Hutama Karya Joint Operation (SMCC–HK JO) menandatangani paket kontrak 203 Fase 2A yang membentang dari Bundaran HI-Kota. Paket kontrak CP203 merupakan bagian dari pembangunan Fase 2A MRT Jakarta dari Bundaran HI hingga Kota. CP203 akan mengerjakan dua stasiun bawah tanah, yaitu Stasiun Glodok sepanjang 240 meter dan Stasiun Kota sepanjang 411,2 meter serta terowongan bawah tanah mulai dari Mangga Besar sampai Kota Tua sepanjang 1,4 kilometer.  "Total nilai kontrak sekitar Rp 4,6 triliun dengan masa konstruksi selama 72 bulan [September 2021–Agustus 2027],"

Disebutkan paket  CP203 ini akan terintegrasi dengan penataan kota tua, mengedepankan penataan area pejalan kaki dan rekayasa lalu lintas.  Fase 2A (Bundaran HI-Kota Tua) ini akan melewati sejumlah cagar budaya di antaranya Gedung Sarinah, Museum Bank Indonesia, Gedung Chandranaya, Pantjoran Tea House, Museum Bank Mandiri, Tugu Jam Thamrin, dan Stasiun Jakarta Kota .  Konstruksinya mengusung desain dengan konsep ‘’Sunken Entrance’’, yaitu tinggi  pintu  masuk  lebih rendah dari entrance pada umumnya dengan tujuan untuk menjaga visual bangunan cagar budaya.  Akan terdorong pengembangan Kawasan Berorientasi Transit (TOD) di kawasan Thamrin, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok dan Kota melalui kemitraan dan kolaborasi dengan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.

Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kanasugi Kenji menyambut baik kerja sama yang terjalin. Menurutnya MRT Jakarta merupakan simbol persahabatan antara Jepang dan Indonesia.  Kerja sama ini sebagai bentuk bahwa Jepang turut berkontribusi dalam pembangunan nasional Indonesia yang menekankan pada pengembangan sumber daya manusia serta transfer teknologi dan pengetahuan.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor: Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00