Saat Garam Naik Gunung

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Pepatah ‘’garam di laut, asam di gunung, bertemu di belanga...’’ dipatahkan di dua daerah.  Yang pertama di desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Yang kedua di dataran tinggi  Tanah Krayan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.  Garam yang muncul di Kuwu dan Krayan berada di dataran sedang dan tinggi. Rasanya memang sama-sama asin dengan garam laut biasa, hanya sedikit berbeda kandungan kimiawinya.  Hebatnya, produksi ‘’garam  gunung’’ ini bebas dari gangguan dan distorsi harga garam impor. Harganya senantiasa kokoh di atas garam biasa. Produksinya pun stabil, bahkan cenderung terus meningkat. Pasarnya bahkan menembus loka-pasar sekelas Shoope.

Pernah dilakukan penelitian mengenai kualitas garam Bledug Kuwu menggunakan metode rekristalisasi, agar menjadi garam konsumsi. Peningkatan kualitas dilakukan melalui pemurnian menggunakan metode rekristalisasi,  dengan bantuan bahan pengikat pengotor yaitu CaO, Ba(OH)2, dan (NH­4)2CO3. Garam Bledug Kuwu dilarutkan air panas kemudian ditambahkan bahan pengikat pengotor yang terakhir diuapkan pelarutnya sehingga berbentuk kristal.

Terbentuk kristal garam sebanyak 4,3175 g dan didapatkan rendemen sebesar 86,35 %. Kadar kemurnian garam ditentukan melalui metode titrasi menggunakan AgNO3. Didapatkan hasil kadar kemurnian garam sebelum dan setelah rekristalisasi berturut-turut 78,92% dan 89,44 %. Garam mengalami peningkatan kemurnian sebesar 10,52 % namun masih belum memenuhi standar mutu garam SNI.

Sedangkan garam Krayan dihasilkan di pedalaman hutan Kalimantan Utara, di dataran tinggi alias pegunungan. Tanah Krayan dikenal dengan beras organiknya hingga diekspor ke Brunei.

Garam Krayan dihasilkan di pedalaman hutan Kalimantan, di dataran tinggi alias pegunungan. Tanah Krayan dikenal dengan beras organiknya hingga diekspor ke Brunei. Menurut hasil penelitian Universitas Padjajaran tahun 2018 lalu, garam Krayan sangat unik, mulai dari letak dan potensinya sangat tinggi. Air asinnya terjebak karena proses geologi yang terbentuk jutaan tahun lalu, di saat dataran Krayan berada di dasar samudra. Camat Krayan Induk, Helmi Huda Asfikar menjelaskan bahwa proses geologi air asin terjebak di dalam terowongan yang sangat panjang, dan  menjadi sumber air asin. Terowongan panjang itu disebut jaringan sabuk Pegunungan Kuching. Sumur-sumur garam itu terdapat di perbatasan Indonesia memanjang sepanjang sampai ke Malaysia. Salah satu rumah produksi garam ini berada di Long Midang, dan tak jauh dari posko TNI penjaga perbatasan Indonesia-Malaysia.

Warga setempat umumnya mengambil air asin di sumur belakang rumah. Air di masukan dalam drum dan direbus selama 12 jam hingga terlihat bulir-bulir garam. Ini harus dijemur hingga kering dan barulah dibungkus.

Gunung Lumpur

Yang terjadi di kawasan wisata alam Bledug Kuwu di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, adalah semacam gunung lumpur atau ‘mud vulcano’ seperti yang terjadi di Lapindo, Porong, Kabupaten Sidoarjo.  Bedanya Kuwu terjadi karena proses alam, sedangkan lumpur Porong akibat pengeboran migas yang jebol.

Letupan gelembung lumpur Kuwu di musim kemarau ini rata-rata lebih kecil di banding ketika musim hujan. Namun produksi ‘’garam bleng’’ dari hasil pengolahan lumpur ini justru mencapai puncaknya.

Gelembung lumpur timbul. Mula-mula gelembung kecil, kemudian membesar, dan pecah menimbulkan ledakan disertai muncratnya lumpur bercampur air dan gas. Pemandangan mengasyikkan itu bisa dilihat saban hari berselang 5-10 menit sekali.

Sudah ribuan tahun semburan lumpur ini muncul. Tidak ada catatan sejarah tentang Bledug Kuwu, kecuali cerita dari mulut ke mulut tentang legenda Joko Linglung dan Prabu Dewata Cengkar dari Kerajaan Medang Kamulan. Secara ilmiah kegeologian, fenomena Bledug Kuwu diduga dasar/lantai lautan yang naik ke daratan. (Hal serupa dasar/palung  laut yang naik ke daratan juga terjadi di Karang Sambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah). Proses pengangkatan kerak bumi menjadikan Kuwu dan wilayah sekitarnya kini jadi dataran luas diselingi perbukitan bergelombang di ketinggian mulai 50 mdpl.

Gelembung dan ledakan lumpur itu terdiri solfatara (H2S) dan mofet (CO2) yang muncul akibat proses kimawi mineral yang menerima panas. Timbul gas mirip proses terjadinya gunung berapi. Meletusya lumpur menunjukkan gas mencari jalan keluar dari perut bumi, mendesak bagian paling mudah diterobos yaitu tanah lunak yang mengandung air dan lempung gampingan.

Musim kemarau saat ini membawa berkah bagi masyarakat pembuat garam di Kuwu ini karena  produksinya bisa semakin baik.   Bila kemaraunya terik seperti sekarang ini, warga bisa memproduksi garam dan harganya lumayan baik  sehingga bisa untuk menambah kebutuhan hidup sehari-hari. Pembuatan garam pada musim kemarau prosesnya bisa lebih singkat, hanya lima hari. Namun bila musim hujan bisa 10 hari.

Di musim kemarau seperti saat ini, produksi garam bisa mencapai 150-170 kilogram per produksi  lima hari. Tetapi jika musim hujan hanya sekitar 100 kilogram per 10 hari," katanya.  Harga garam saat ini cukup baik yakni Rp1.500,00 per kilogram. Apabila kualitas produksinya baik harganya bisa Rp1.600,00 per kilogram.  Bandingkan dengan harga garam biasa yang bisa menukik ke Rp 300,00 per kilogram.

Sebenarnya spot semburan lumpur dan gas di Grobogan tak hanya Bledug Kuwu, tapi ada juga Kesongo di Kecamatan Sulursari, Buran Banjarejo di Desa Banjarejo. Kemudian Desa Jono, Tawangharjo, sumur Crewek dan Banjarsari, serta Ngaringan.Secara kasat mata, di Bledug Kuwu ada sekurangnya tiga titik semburan, dengan titik di tengah yang disebut masyarakat setempat sebagai Jaka Tuwa, mengeluarkan letupan paling besar dan terus menerus.

Sejak Mataram

Garam Bledug Kuwu terkenal sejak dulu kala. Di zaman keemasan Kasunanan Surakarta, garam bleng dari Kuwu jadi konsumsi pelengkap masyarakat Mataram. Proses produksi garam dilakukan di sisi timur luat pusat semburan, masih di kawasan yang sama yang tanahnya sudah memadat. Air yang disuling jadi garam adalah hasil penyaringan dari lumpur air yang menyembur dari dalam perut bumi.

Setelah sekurangnya dua kali diendapkan di penampungan, air mengandung garam dikeringkan di bilah-bilah bambu. "Ini baru saja panen, langsung habis diborong bakul,"  kata Sumiyarti dan tiga temannya memang baru saja mengisi bilah-bilah bambu dengan air bening, dan menjemurnya di bawah terik matahari. Dua minggu lagi ia baru panen.

Daya tarik Bledug Kuwu memang ada pada fenomena letupan gelembung lumpur yang seolah tiada habis material dan energinya. Kadang gelembungnya besar dan memuncrat tinggi, kadang sedang dan kecil-kecil saja. Di musim kemarau seperti sekarang ini, pengunjung bisa mendekati pusat semburan dalam jarak antara 50 hingga 100 meter saja. Namun jika musim hujan, hampir seluruh areal Bledug Kuwu bisa berubah jadi kolam lumpur raksasa yang sangat labil.

Di musim kemarau saja, beberapa bagian di radius 100 meter dari pusat semburan, terkadang tanah yang diinjak pengunjung goyang-goyang. Lapisan padatnya kemungkinan masih tipis dan di bawah permukaan benar-benar berbentuk lumpur setengah padat atau kental.

Tiket masuk Bledug Kuwu hanya Rp 3.000 per kepala, dan tarif parkir motor Rp 2.000. Pengunjung harus berpanas ria di area semburan. Kalau tak ingin berpanas-panasan, ada penyewaan payung yang sangat terjangkau ongkosnya. Di Tanah Krayan dalam sehari petani garam di rumah produksi Pa' Nado hanya menghasilkan 26 Kg. Semua itu selalu ludes terjual dalam sehari. Paling banyak 26 Kg sehari bergantung cuaca. Kalau musim hujan bahkan hanya produksi 10-15 kg saja. Tetapi jangan kaget, garam Krayan puluhan kali lipat garam laut, yaitu berkisar Rp 40-50 ribu. Biasanya sudah ada yang memesan perharinya atau ada juga yang datang langsung. Biasanya juga dijual hingga Malaysia. "Kalau garam gunung harganya mahal, dan garam laut murah. Juga garam gunung bagus untuk membuat sayur karena dia tidak mengubah warna sayur dan juga tidak cepat basi," kata warga setempat.

Senyawa Kimianya

Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Timur, garam  yang kita kenal sehari-hari dapat didefinisikan sebagai sesuatu kumpulan senyawa kimia yang bagian utamanya adalah Natrium Klorida (NaCl) dengan zat-zat pengotor terdiri dari CaSo4, MgSo, MgCl dan lain-lain (Marihati &Muryati, 2008). Garam dapat diperoleh dari tiga cara, yaitu penguapan air laut dengan sinar matahari, penambangan batuan garam (Rock salt), dan dari sumur air garam (Brine). Bila dilihat dari asal dan pembentukan garam secara komersial diperoleh dari lima sumber : (1) pelapisan batu sedimen, (2) air asin, (3) air laut, (4) permukaan endapan playa, dan (5) kubah garam (Wilarso,D. Dkk.1995).

Menurut Wilarso, D.1996 mutu hasil produksi garam konsumsi yang dihasilkan pabrik masih banyak yang belum memenuhi standar dilihat dari kadar NaCl nya. Hal ini disebabkan oleh kondisi bahan baku yang sangat rendah mutunya, proses refining yang tidak memenuhi syarat serta sistem pengelolaan pabrik yang kurang profesional hal ini dapat dimaklumi karena industri garam ini masih dalam skala kecil. Kualitas garam yang dikelola secara tradisional pada umumnya harus diolah kembali untuk dijadikan garam konsumsi maupun untuk garam industri.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhi Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00