Saat Pengungsi Membakar Diri

Sejumlah imigran memegang poster ketika berunjuk rasa di depan kantor DPRD Kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu (1/12/2021). Unjuk rasa yang kembali digelar imigran asal Afghanistan tersebut meminta kejelasan status dan kepastian dari UNHCR karena sudah tinggal selama lebih dari sembilan tahun di pengungsian. (ANTARA)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Publik dikejutkan aksi bakar diri seorang pengungsi Afghanistan di Medan, karena putus asa menunggu penempatan permanen yang tak kunjung tiba. Faktanya dalam tiga tahun terakhir, 13 pengungsi tercatat tewas bunuh diri dengan berbagai cara.

Pengungsi di Medan itu bernama Ahmad Syah. Sebelum melakukan aksi bakar diri, ia sempat menyayat tangan dan memotong alat vitalnya. Dia masuk Indonesia saat  umurnya 16 tahun.Tahun 2016 ia lakukan sayat tangan;  2020 dia potong alat kelaminnya; 2021 dia bakar diri. Dia putus asa karena berulang kali minta bantuan soal kesehatannya, tetapi tak pernah digubris. Ahmad Syah kini berada di ruang ICU salah satu rumah sakit di Kota Medan.

Kondisinya memprihatinkan, 75 persen tubuhnya sudah luka bakar. Selama lima tahun ia mengalami hidup tidakjelas, depresi dan stres. Kalau diperiksa semua pengungsi di sini 75 atau 80 persen lagi mengalami depresi.

Para pengungsi itu telah berada di Indonesia sejak enam hingga sepuluh tahun lalu, menanti Badan Pengungsi PBB (UNHCR) memberikan permukiman permanen. Kebanyakan mereka berusia dua puluhan tahun. Dikutip dari BBC World Service, tercatat 2,7 juta warga Afghanistan terdaftar sebagai pengungsi, membuat negara itu sebagai penyumbang pengungsi terbanyak ketiga di dunia.

Minimnya keamanan setelah invasi AS ke Afghanistan pada 2001 telah berkontribusi pada eksodus tersebut. Hampir 8.000 pengungsi dan pencari suaka Afghanistan terdaftar di UNHCR Indonesia pada Desember 2020. Namun pemerintah hingga kini belum menandatangani konvensi pengungsi PBB, dan melarang mereka bermukim secara permanen dan bekerja di Indonesia.

Di tempat lain, pengungsi yang menanti permukiman selama bertahun-tahun menghadapi kesulitan yang sama. Ada 1,4 juta pengungsi di seluruh dunia yang membutuhkan permukiman permanen di negara selain tempat mereka saat ini memiliki suaka.

Menurut UNHCR  di seluruh dunia, ada 26 juta pengungsi dan lebih dari empat juta pencari suaka pada 2019, sebelum pandemi virus corona dimulai. Kementerian Luar Negeri Indonesia mencatat tahun 2016, sebanyak 1.271 pengungsi mendapatkan permukiman permanen dari negara lain. Tapi pada 2018 hanya 509 pengungsi yang tertampung.

Cemaskan Masa Depan

Mujtaba Qalandari, pria berusia 42 tahun dengan tiga anak, bermigrasi ke Indonesia pada tahun 2015 untuk menghindari perang  Afghanistan.Istrinya, Gulsum, melahirkan bayi perempuan dan laki-laki di Indonesia. Ia menuturkan penantian yang mereka jalani telah menyebabkan depresi parah

"Kami mendaftarkan keluarga kami ke UNHCR pada 2015. Tapi kami tak pernah dihubungi sejak itu. Kami telah dilupakan," ujar perempuan berusia 34 tahun itu.

Karena minimnya komunikasi, keluarga itu tak yakin apakah mereka masih dianggap sebagai pengungsi atau pencari suaka. Kasus bunuh diri pengungsi terus meningkat. Alasannya proses penempatan permukiman oleh UNHCR yang lama. Mereka harus menunggu sedikitnya enam tahun. Masalah keuangan, kekhawatiran akan masa depan, dan kecemasan adalah faktor pendorong bunuh diri.

Pengungsi lain, Mujtaba Hossain juga kehilangan teman dekat  sekamarnya  Abdul, yang  telah berada di Indonesia selama tujuh tahun.  Abdul, pria berusia 36 tahun, bulan Desember tahun lalu menyerah dan mengakhiri hidupnya. Kematiannya sangat menghancurkan Mujtaba - mengingat almarhum adalah teman dekat satu-satunya di Indonesia. "Ia orang yang sangat energik, bercanda sepanjang waktu, dan hobinya pergi ke gym.  Tapi ia meninggalkan saya sendirian, "   kata Mujtaba yang masih tinggal di Tangerang, di kamar yang sempit dengan satu jendela kecil. Sepertiga hidupnya dihabiskan di kamar itu.

Perwakilan UNHCR di Indonesia, Ann Maymann, kepada BBC mengatakan UNHCR akan meningkatkan layanan kesehatan mental, seperti konseling, untuk pengungsi, dan berupaya agar mereka bisa berbaur dengan masyarakat lokal.

Kementerian Luar Negeri Indonesia mencatat tahun 2016, sebanyak 1.271 pengungsi mendapatkan permukiman permanen dari negara lain. Tapi pada 2018 hanya 509 pengungsi yang tertampung.

Jurnalis TV Selamatkan Diri

Akan halnya kisah Musa Sazawar, seorang jurnalis TV berusia 42 tahun dari Afghanistan, merasakan pahitnya hidup. Ketika meninggalkan keluarganya di provinsi Ghazni di barat daya Afghanistan, istrinya tengah hamil. Keluarga Musa memaksanya meninggalkan Afghanistan setelah ancaman dari kelompok pemberontak lokal atas profesinya sebagai jurnalis. Istrinya berkata, ‘'lebih baik anak-anak tumbuh dewasa dan tahu bahwa ayah mereka jauh tetapi masih hidup. Aku tidak ingin kamu mati dan mereka tumbuh sebagai yatim piatu.'"

Setahun setelah ia meninggalkan negaranya, NATO mengakhiri misi di Afghanistan dan AS menarik pasukannya dengan jumlah signifikan dan kekerasan meningkat di negara itu. Ratusan ribu warga Afghanistan yang lain terpaksa melarikan diri. Kini Musa hanya bisa bergantung pada panggilan video via ponsel agar bisa bertemu keluarganya. Setelah pergi meninggalkan keluarganya, ia merasakan hanya kesedihan dan frustrasi.

Ditolak Warga Kalideres

BBC News Indonesia memberitakan, lebih dari 1.000 pengungsi asing kini mendiami gedung milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, di tengah penolakan warga sekitar yang mencemaskan masalah keamanan dan kesehatan. ‘’Pengungsi di sini ada yang sudah tinggal 5-7 tahun di negara transit. Cobalah mengerti permasalahan kami,"" ujar seorang pengungsi asal Afganistan, Zakir Hussain, menanggapi penolakan warga terhadap keberadaan para pengungsi.

Zakir menginjakkan kaki di Indonesia dua tahun lalu, setelah sebelumnya mengungsi di Pakistan, kini bernaung di tempat penampungan pengungsi sementara di Kalideres, Jakarta Barat. Bersama dengan ibu dan sejumlah saudaranya, mereka berbagi ruang dengan lebih dari 1.000 pengungsi di penampungan.

Sejumlah warga sekitar penampungan menolak keberadaan para pengungsi, yang berpindah ke tempat penampungan itu, dengan alasan keamanan dan kesehatan. Penolakan itu diekspresikan dengan dipasangnya sejumlah spanduk penolakan di sekitar tempat penampungan.  Ketua RT Perumahan Daan Mogot Baru, Jantoni, mengakui menerima banyak keluhan dari ibu rumah tangga yang khawatir dengan keberadaan pengungsi itu. Takutnya ada virus yang menular. Warga mengkhawatirkan aspek keamanan juga kemacetan akibat keberadaan para pengungsi.

Zakir, yang sempat menjadi guru bahasa Inggris di Pakistan, mengatakan dia tidak menyalahkan warga yang menolak mereka. Ia mengatakan Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) lah yang seharusnya mencarikan tempat tinggal yang layak bagi mereka. Zakir  baru pindah ke Jakarta setelah sebelumnya menetap di sebuah rumah sewaan di Bogor. Tabungannya untuk hidup di Indonesia selama tiga tahun sudah habis karena sebagai pengungsi, dia tidak boleh bekerja. "Saya tidak merasa seperti manusia seutuhnya. Saya tidak punya hak bekerja atau bahkan membuka rekening bank. Kami hanya makan dan tidur. Ini tidak bisa disebut kehidupan,"  katanya. Kembali ke Afganistan juga bukan pilihan, kata Zakir, karena ia takut diserang Taliban. Zakir akhirnya menduduki trotoar sekitar Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, tepatnya di depan kantor UNHCR selama beberapa hari untuk menuntut kejelasan nasibnya.

Beberapa hari kemudian, ia bersama ratusan pengungsi di trotoar, dipindahkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ke sebuah gedung eks Komando Distrik Militer (Kodim) di Kalideres, Jakarta Barat.

Berbondong ke Jakarta

Mengapa tiba-tiba pengungsi berkumpul di Jakarta? Sebelumnya, sejumlah pengungsi asing tinggal tersebar di berbagai tempat, seperti trotoar depan Rumah Detensi Imigrasi, Kalideres, hingga di rumah kontrakan di beberapa daerah di Jakarta hingga Bogor, Jawa Barat. Di awal Juli lalu, mereka berbondong-bondong menuju ke depan kantor UNHCR untuk bernaung, sebelum akhirnya dipindahkan ke Kalideres. GAMBAR,ANTARA

Penyebabnya adalah informasi di kalangan para pengungsi bahwa UNHCR akan memberi mereka bantuan dan memindahkan mereka ke tempat lain.  Gumilang Putra, organisasi yang fokus mengadvokasi pengungsi, mengatakan perpindahan banyak pengungsi ke Jakarta tidak semata-mata terjadi karena informasi yang simpang siur. Kita berhadapan dengan kelompok pengungsi yang cukup rentan dan tidak tahu akan masa depannya.  Hal  itu terjadi karena akumulasi ketakutan pengungsi atas ketidakjelasan nasib mereka.

Indonesia adalah rumah bagi sekitar 14.000 pengungsi dari berbagai negara. Pengurangan kuota pengungsi di negara-negara ketiga, seperti Amerika dan Australia, membuat pengungsi yang singgah di Indonesia harus bertahan di negara ini selama bertahun-tahun.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar