Angelina Jolie dan Empati Pengungsi

(UNHCR)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Angelina Jolie, bintang film mantan istri  Brad Pitt, adalah seorang yang berempati kepada nasib para pengungsi dunia yang ‘terbuang dan merana’ hidupnya. Masalah mengurus pengungsi juga bagian cukup pelik bagi Indonesia yang ikut menampung pelarian dari negara-negara konflik dan miskin. Di Jakarta mereka demo membawa keranda, memrotes berlarutnya proses penempatan ke negara baru oleh UNHCR.  Di Medan seorang pengungsi Afghanistan luka parah karena aksi bakar diri. 

Angelina Jolie dilansir dari Reuters, bulan Juni lalu melangsungkan perjalanan khusus ke Burkina Faso untuk menjalankan perannya sebagai Special Envoy for the United Nations High Commission for Refugees. Mantan istri Brad Pitt ini mengunjungi sebuah kamp pengungsi di Burkina Faso. Kamp pengungsi yang ia kunjungi, menampung para pengungsi yang melarikan diri dari kekerasan para jihadis di Mali. Ibu 6 anak ini berpidato dalam rangka memperingati Hari Pengungsi Sedunia.

Angelina Jolie menunjukan rasa empati dan solidaritasnya kepada para pengungsi di Burkina Faso yang telantar dan mendapat serangan.

Ia  mengucapkan rasa terimakasih kepada para pengungsi yang telah mengizinkannya berada di lokasi tersebut. "Terima kasih telah mengizinkan saya berada di sini. Saya sangat terhormat dan bersyukur berada di antara kalian, dan menundukkan kepala untuk menghormati keberanian dan kekuatan kalian," ucap Angelina Jolie.

Protes ke Kantor UNHCR

Di Jakarta, pencari suaka mendirikan tenda di dalam gedung bekas Markas Kodim, Kalideres. Karena statusnya sebagai pengungsi, ia tidak boleh bekerja di Indonesia. Banyak pengungsi yang awalnya hidup bergantung dari bekal uang yang dibawanya. Namun itu tak cukup untuk menyewa kos-kosan sederhana dan membiayai hidupnya. 

Tak tahan lagi, sekitar 400 pengungsi akhirnya pindah ke trotoar di depan gedung UNHCR di Kebon Sirih, Jakarta, sebagai bentuk protes. Tenda didirikan jelang malam, siang hari mereka beratapkan langit. Para pengungsi bergantung pada uluran tangan warga, yang memberikan uang, minuman, pakaian pantas pakai, atau nasi bungkus. Sebaliknya sebagian warga lainnya menolak kehadiran pengungsi.

Kisah pilu terungkap dari seorang pengungsi asal Afghanistan,  Farzad Hussaini. Pria 21 tahun ini terpaksa sangat membatasi  makan dan minum karena takut sering ke toilet. Sebisa mungkin ia menghindari toilet. Sekali masuk harus bayar Rp 5.000. Itu terlalu mahal buat kantongnya. Sambil mandi ia sering menumpang cuci baju yang hanya sekitar lima helai dan sudah kusam.  

Saat lari dari Afghanistan, usianya baru 17 tahun, Farzad tak pernah mengira bakal menggelandang di negeri orang. Sudah empat tahun ia di Indonesia, sejak November 2015, dengan status yang menggantung. Memang terdaftar di UNHCR, namun tak segera ditempatkan di negara penerima. 

Meski melarat, ia mengaku kehidupannya di Indonesia lebih baik daripada di kampung halamannya di Distrik Nawur, Ghazni. Di Afghanistan nyawanya terancam Taliban. Ia berasal dari etnis Hazara,  dari Pegunungan Hazarajat atau Hazaristan, Afghanistan tengah. Jumlah mereka sekitar 9 persen dari total populasi Afghanistan. Menurut World Factbook Badan Intelijen AS (CIA) pada 2018, mayoritas dari etnis Hazara adalah penganut Syiah. 

 "Negara kami selalu dilanda perang. Taliban, Al Qaeda, ISIS, koalisi NATO ...mereka membawa banyak luka dan kerugian. Kami tidak bisa bersekolah dan tidak bisa bekerja," kata dia.  Tak ada masa depan di sana. Dengan berat hati, ia meninggalkan ayah dan ibunya yang sudah sepuh dalam penjagaan dua saudara perempuannya. Hingga kini, Farzad tak tahu bagaimana nasibnya kelak. Para pengungsi ini di Jakarta juga menghadapi penolakan sebagian warga.

 

Paling Rentan Covid-19

Sejumlah lembaga swadaya masyarakat di Indonesia yang bergerak di bidang bantuan kemanusiaan bagi pengungsi asing prihatin atas kondisi pengungsi di tengah pandemi Covid-19. Tiba-tiba dukungan mereka terhenti dan mereka tidak memiliki akses ke mata pencaharian, membuatnya tak mungkin mandiri. Sistem respons Covid-19  di Indonesia pun tidak secara khusus menyebutkan pengungsi pada sistem layanan mereka. Karenanya para pengungsi berada dalam posisi paling rentan dibandingkan dengan penduduk lokal.

Penting bagi Indonesia untuk memiliki kebijakan yang lebih baik terhadap perlindungan pengungsi, terutama karena mereka kelompok paling rentan yang tinggal di Indonesia. Perpres tahun 2016 tentang Pengungsi masih merupakan satu-satunya kerangka hukum yang mengatur secara spesifik tentang pengungsi, tetapi lebih pada aspek administratif, masih kurang dalam aspek perlindungan hak-hak mereka. Namun Indonesia telah membuat beberapa kemajuan, seperti memiliki Satuan Tugas Pengungsi untuk mitigasi masalah pengungsi. Masalah klasiknya tumpang tindih kebijakan dan ketidakjelasan koordinasi, antara pemerintah pusat dan daerah.

Yang menyelamatkan perahu Rohingya di Aceh pada 2015, adalah nelayan yang mengutamakan rasa kemanusiaan. Inisiatif masyarakat sekitar mereka sebagai tetangga sangatlah dihargai. “Kami tidak pernah melupakan tetangga Indonesia kami, yang juga mengalami kelaparan seperti kami, berbagi  peduli. Kami hormat kepada mereka telah memberi kami kedamaian dan perlindungan.” kata Nimo Ali dari Somalia

Guru dan administrasi Community Learning Center (LC) di Cisarua, Bogor membantu siswa dengan program akademis melalui pembelajaran jarak jauh. Sedangkan Hakmat Zikari pendiri Skilled Migrants and Refugee Technicians (SMART),, menjelaskan bahwa SMART juga membantu komunitas berbahasa Farsi untuk membuat video pendek atau konten kreatif di media sosial untuk menjembatani hambatan bahasa mereka.

Realisa Masardi, Dosen Universitas Gajah Mada di Yogyakarta yang pertama kali berinteraksi dengan pengungsi pada 2012 saat melakukan penelitian ilmiah, menggalang bantuan untuk didistribusikan kepada komunitas pengungsi di Jakarta dan Cisarua.

Pengungsi Internal

WHO mengakui sejumlah kelompok orang yang jatuh dalam kategori tersebut, atau dikenal dengan istilah orang yang tercerabut secara paksa, sebagai berikut :

- Pengungsi, adalah seseorang yang melarikan diri dari rumah dan negaranya karena “ketakutan  akan penganiayaan karena ras, agama, kebangsaan, keanggotaan dalam kelompok sosial tertentu, atau pendapat politik.

- Pencari suaka, mereka adalah pengungsi dan telah meninggalkan rumah seperti halnya pengungsi, tetapi klaim status pengungsi belum dievaluasi secara definitif di negara tempat mereka melarikan diri.

- Pengungsi Internal, adalah orang-orang yang belum melintasi perbatasan internasional tetapi telah pindah ke wilayah yang berbeda dari yang mereka sebut rumah di negara mereka sendiri.

- Orang tanpa kewarganegaraan, tidak memiliki kewarganegaraan yang diakui dan tidak termasuk negara mana pun. Ini biasanya disebabkan oleh diskriminasi terhadap kelompok tertentu. Akibatnya mereka tak punya akses ke layanan pemerintah yang penting, termasuk perawatan kesehatan, pendidikan atau pekerjaan.

- Returnis, mereka yang kembali ke negara atau daerah asalnya setelah beberapa waktu dalam pengasingan. Mereka butuh dukungan dan bantuan reintegrasi untuk memastikan bahwa mereka dapat membangun kembali kehidupan mereka di rumah.

 

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar