Inspirasi Baru dari Gunung Semeru

Foto udara kondisi pemukiman di Dusun Curah Kobokan, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (8/12/2021). Dusun Curah Kobokan merupakan salah satu lokasi terparah terdampak awan panas guguran Gunung Semeru dan salah satu dusun terdekat dengan kawah Gunung Semeru (ANTARA)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Ada banyak pelajaran penting yang bisa kita petik pada erupsi G. Semeru Sabtu sore lalu. Pelajaran itu sekalipun mahal dan memilukan, namun bisa menjadi inspirasi baru mitigasi gunung berapi di mana saja. Semeru memiliki penampilan yang gagah sempurna. Mirip Fujiyama di Jepang. Puncaknya sedikit terbuka tetapi kedua lerengnya nyaris simetris. Para pelukis sangat menyukai bentuk ini, termasuk anak-anak yang gemar menggambar di sekolah dasar.

Meski tergolong aktif dengan letusan dan bau belerangnya, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini sangat populer di kalangan pecinta gunung. Tiap tahun ribuan pendaki mengunjunginya.  Semeru  memiliki letusan bertipe vulkanian dan strombolian yang terjadi selama 3-4 kali setiap jam. Letusan vulkanian memiliki ciri letusan eksplosif dan kadang-kadang menghancurkan kubah dan lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya.

Sedangkan tipe stombolian biasanya diikuti dengan pembentukan kubah dan lidah lava baru. Bila terjadi letusan eksplosif biasanya diikuti dengan aliran awan panas yang mengalir ke lembah-lembah yang lebih rendah. Pola letusan yg rapat selain menyajikan pemandangan elok, juga membuat warga di jalur bahaya merasa akrab dan nyaman belaka. Mereka tak menyangka bisa terjadi erupsi besar, sehingga rata-rata warga terlambat menghindar. 

Petugas pemantau Semeru di Gunung Sawur agaknya juga tak mendapat sinyal aneh dari dalam gunung. Bahkan tidak tercatat eskalasi kegempaan yang mengkhawatirkan. Akibatnya tidak ada peringatan yang perlu disampaikan kepada warga sekitar gunung. Peralatan seismik memang bekerja mendeteksi gerakan magma di perut gunung. Lazim disebut bahaya primer.

Masih Sebatas Bahaya Primer

Teknologi mitigasi kita sebatas primer. Yang belum terdeteksi adalah kemungkinan datangnya bahaya sekunder oleh cuaca, dalam hal Semeru adalah hujan lebat di kawasan puncaknya. Soal hujan tentu menjadi ranah pengamatan BMKG. Mungkin hujan lebat di gunung ‘kurang mendapat perhatian’ seperti ramalan cuaca di kota-kota besar yang rutin saban waktu.

Mengapa bahaya sekunder berupa hujan lebat mengubah skenario Semeru? Inilah salah satu materi ujian paling penting bagi sistem kebencanaan nasional.

Ahli Vulkanologi Institut Teknologi Bandung Dr.Eng. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T., mengatakan, material aliran lahar yang terjadi dari letusan sebelumnya,  menutupi kawah gunung tersebut. Membentuk semacam mangkuk di sekeliling kawah. Hujan lebat mengakibatkan terkikisnya material abu vulkanik itu, menyebabkan beban (semacam dinding penahan) Semeru hilang sehingga gunung mengalami erupsi.

Dikutip dari Magma Indonesia, visual letusan tidak teramati akan tetapi erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi 5.160 detik. Menurut Dr. Mirzam, saat terjadi erupsi warga cenderung tidak merasakan adanya gempa. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya material yang berada di dalam dapur magma.

Ada tiga hal yang menyebabkan sebuah gunung api bisa meletus. Pertama karena volume di dapur magmanya sudah penuh. Kedua karena ada longsoran di dapur magma yang disebabkan terjadinya pengkristalan magma. Yang ketiga tergerusnya dinding penahan di atas dapur magma.

“Faktor yang ketiga ini sepertinya yang terjadi di Semeru. Ketika curah hujannya cukup tinggi, abu vulkanik yang menahan di puncaknya baik dari akumulasi letusan sebelumnya, terkikis oleh air, sehingga gunung api kehilangan beban. Meskipun isi dapur magmanya sedikit yang bisa dilihat dari aktivitas kegempaan yang sedikit (hanya bisa diditeksi oleh alat namun tidak dirasakan oleh orang yang tinggal di sekitarnya), Semeru tetap bisa erupsi,” jelasnya.

Selalu Mengarah ke Selatan

Dosen pada Kelompok Keahlian Petrologi, Vulkanologi, dan Geokimia, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) itu mengatakan, Gunung Semeru merupakan salah satu gunung api aktif tipe A.  Mirzam berkesimpulan Semeru memiliki interval letusan jangka pendeknya 1-2 tahun. Terakhir  mengalami letusan di tahun 2020 juga di bulan Desember.  Tetapi pada letusan kali ini, volume magmanya sebetulnya tidak besar. Abu vulkaniknya banyak disebabkan akumulasi dari letusan sebelumnya.

Beruntung arah letusan bisa diprediksi selalu mengarah ke selatan dan tenggara. Begitu juga  aliran laharnya karena semua sungai yang berhulu ke puncak Semeru mengalir ke arah selatan dan tenggara. Pada letusan-letusan sebelumnya terjadi, abu vulkaniknya jatuh menumpuk di hanya  sekitar area puncak gunung. Inilah bukti melimpahnya material lahar letusan 2021.

Dikatakan bahaya dari gunung api secara umum ada dua, primer dan sekunder. Bahaya primer berkaitan dengan saat gunung meletus dan bahaya sekunder setelah gunung api tersebut meletus. Bahaya primer dari letusan ialah aliran lava, wedus gembel, dan abu vulkanik. Sementara bahaya sekunder salah satunya terjadinya banjir bandang atau pun lahar. Dua-duanya sama-sama berbahaya.

Pakar vulkanologi di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogja, Wahyudi kepada rri co.id mengatakan status waspada Semeru sebenarnya sudah dimulai sejak 2012 lalu. Wahyudi pun menyebutkan faktor hujan lebat di puncak mengakibatkan runtuhnya ‘lava dome’ atau kubah lava yang terbentuk oleh letusan-letusan sebelumnya.  Material di kubah itu meluncur deras ke lereng didukung air hujan yang berlimpah. Dinding Semeru menjadi lebih licin, sehingga luncuran lava yang diperkirakan hanya 5 kilometer, ternyata menjangkau desa-desa jauh di bawahnya.

Dua pakar UGM lainnya, Herlan Dermawan dan Sandy Budi Wibowo, menambahkan faktor air hujanlah yang mengubah perilaku dan dampak erupsi Semeru. Fakta-fakta ini penting sebagai bekal melakukan kesiapan bencana berikutnya. 

Ragam Vegetasinya

Letusan Semeru pada tahun 1994 sendiri merupakan letusan yang cukup besar. Pada tahun 2020, gunung ini juga mengeluarkan awan panas dan guguran lava. Ia pernah meletus tahun 2004, 2005, 2007, 2011, 2016, 2018, dan 2019.  Semeru atau Mahameru merupakan bagian dari pengelolaan taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang mencakup lembah dan gunung seluas 50.273,3 hektar.

Di dalam kompleks Taman Nasional ini, terdapat Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Kursi, Gunung Watangan, dan Gunung Widodaren. Mencakup pula Danau Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, dan Ranu Darungan.

Tumbuhan di sini berupa pohon-pohon besar berumur ratusan tahun, berbagai jenis anggrek, rumput langka, edelweiss, jamuju, dan cemara gunung. Di sini ada beberapa hewan dilindungi, yaitu luwak, rusa, kera ekor panjang, kijang, ayam hutan merah, macan tutul, ajag, alap-alap burung, elang ular bido, burung rangkong, burung srigunting hitam, elang bondol, dan belibis yang hidup di Danau Ranu Pani, Ranu Kumbolo, dan Ranu Regulo. Suhu di puncak Mahameru berkisar antara 0 hingga 4 derajat celsius. Sedangkan suhu rata-rata di 3-8 derajat celsius di malam hari, 15-21 derajat celsius di siang hari.

Korban Bertambah

Sementara itu jumlah korban  bertambah menjadi 34 orang, 16 orang warga lainnya masih dalam pencarian.Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Surabaya, I Wayan Suyatna mengatakan, ada empat tim evakuasi yang melakukan operasi pencarian di Curah Kobokan, Kampung Renteng, dan lokasi penambangan pasir.

Tim evakuasi paling banyak menemukan jenasah korban di dua lokasi yakni Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, dan Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh. Korban lebih banyak ditemukan tertimbun material abu vulkanik dan awan panas guguran, namun ada juga yang ditemukan di dalam reruntuhan rumah. Cuaca cukup cerah selama evakuasi, namun angin kencang dan sesekali hujan masih terjadi.

Jenazah yang ditemukan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haryoto dan RSUD Bhayangkara Lumajang. Data Basarnas Surabaya, jumlah korban yang mengalami luka berat 26 orang dan luka ringan 82 orang  sudah dirawat di Puskesmas dan rumah sakit.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar