Banjir Rob Sulit Terkendali

Truk melintasi banjir rob di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Selasa (7/12/2021). Akibat banjir rob di pelabuhan tersebut sejumlah aktivitas bongkar muat barang menjadi terhenti. (ANTARA)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Banjir rob agaknya merupakan  ‘musuh lama’ kota-kota pesisir yang sulit dikendalikan. Bahkan tahun 2021 ini, akibat pengaruh anomali cuaca La Nina, banjir rob yang disebabkan naiknya air laut kian meluas dan menggila. Hampir seluruh pantai utara Jawa, pantai timur Pulau Sumatra, pantai barat dan selatan Kalimantan dan Sulawesi, terendam berhari-hari.

Pasang air laut sebenarnya hal yang biasa. Namun ia bukan penyebab tunggal banjir rob. Masih ada faktor yang lebih nyata dan krusial, yakni menurunnya permukaan tanah akibat beban pembangunan dan penyedotan air tanah berlebihan. Apabila sungai-sungai yang bermuara di laut juga sedang meluap, maka bertemulah air sungai dan laut ini di kawasan genangan.

Berita tentang kota-kota pesisir yang dilanda rob, sama banyaknya dengan berita banjir dari pegunungan. Penurunan muka tanah dan abrasi pantai dalam hal ini di daratan pesisir juga menjadi faktor yang meningkatkan intensitas banjir rob di beberapa wilayah pesisir pantai utara Pulau Jawa, terutama di DKI Jakarta, Bekasi, Karawang, Pekalongan, Semarang, Demak dan Gresik.

BMKG menyebutkan potensi rob di perairan utara Jawa masih cukup tinggi yang disebabkan fase bulan purnama atau full moon atau spring tide. Selain itu, ada faktor meteorologis berupa potensi gelombang tinggi yang diperkirakan terjadi mencapai 2,5 meter hingga 4,0 meter di Laut Jawa dibangkitkan oleh embusan angin kuat mencapai 25 knot.

Dikutip dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi, banjir rob juga melanda Pulau Pari, di Kepulauan Seribu.  Bencana ini yang kelima kalinya sepanjang tahun 2021 dan sekaligus menjadi yang terparah. Akibat rob itu, sumur warga di bagian barat Pulau Pari terendam air laut sehingga sampai hari ini tidak bisa digunakan. Warga Pulau Pari juga terpaksa mengeluarkan biaya tinggi untuk meninggikan rumah setiap kali banjir rob datang. 

Rob yang juga terjadi di pesisir Jakarta Utara ternyata lebih sering dibanding tahun sebelumnya.

Warga setempat berpendapat, banjir rob dan air pasang biasanya datang setiap tanggal 13 berdasarkan bulan kamariah. Namun banjir rob sudah melanda saat hitungannya baru memasuki tanggal 2 bulan kamariah. Pesisir dan pulau-pulau kecil adalah yang paling rentan terdampak perubahan iklim. Walhi mengkritik Conference of the Parties (COP) 26 yang digelar di Glasgow, Skotlandia. Pertemuan itu seharusnya menghasilkan solusi dan komitmen tegas untuk segera menekan laju perubahan iklim.  

Kabupaten Karawang

Di Kabupaten Karawang, gudang beras Jawa Barat di pantura Jawa ini banjir rob juga parah. Sedikitnya 20 rumah di Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang ambruk akibat diterjang banjir rob. Sudah empat malam banjir rob menerjang wilayah sepanjang pantai Karawang. Desa Cemarajaya menjadi salah satu yang terparah. Kali ini lebih dahsyat hingga merobohkan sedikitnya 20 rumah. Juga terdapat  lebih 140 rumah sepanjang Pantai Pisangan hingga Dusun Cemara I dan II, Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya rusak.

Banjir rob juga menggenangi badan jalan, sehingga akses dari Sungaibuntu menunju ke Dusun Pisangan terputus. Ketinggian air di badan jalan mencapai 75 sentimeter. Pemkab Karawang bahkan sampai mendirikan posko dapur umum dan memberikan bantuan beras. Warga yang rumahnya terdampak mengungsi ke kantor desa, sekolah, dan rumah kerabatnya.

Pemkab pun sudah berupaya mengatasi abrasi. Pada 2018, sepanjang 6,7 kilometer sabuk pantai dibangun dengan biaya sekitar Rp 30 miliar bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.   Pemkab Karawang juga telah membeli 3 hektar lahan untuk merelokasi warga Desa Cemarajaya. Lahan tersebut terletak di Dusun Sekom, sekitar satu kilometer dari lokasi semula. Hanya saja, saat ini baru 4.000 lahan yang dilakukan pematangan lantaran sebelumnya merupakan tambak. Pembangunan rumahnya dianggarkan di APBD.

  Semarang-Pekalongan Dari Semarang,  BPBD Jawa Tengah mencatat ada enam daerah di wilayah Jateng mengalami banjir rob dengan ketinggian mencapai 60 cm. Wilayah paling terdampak banjir rob adalah Demak dengan sembilan desa terendam. Enam daerah terdampak banjir rob itu adalah Kota Pekalongan, Kabupaten Tegal, Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Demak, dan Kabupaten Brebes. Sekitar  30 pengungsi warga Kota Pekalongan sempat ditampung di parkiran Rusunawa Slamaran dan 81 orang di Musala Al-Aqsa Slamaran. Sementara itu, sekitar 50 pengungsi di Kabupaten Tegal yang ditampung di Masjid Al-Ikhlas, Kelurahan Damyak. Di Kabupaten Pekalongan tercatat ada 123 pengungsi di Desa Semut. Upaya dilakukan dengan membuat tanggul sementara berupa karung pasir untuk menanggulangi rob di Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan. Karung pasir  dipakai untuk penguatan tanggul. Kota dan Kabupaten Pekalongan mendapat bantuan masing-masing 2.000 karung. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta bupati-wali kota daerah yang terdampak segera turun tangan. Dia pun memastikan Pemprov Jateng siap membantu. "Saya minta semua bupati-wali kota yang daerahnya terkena rob turun semuanya. Kita butuh kerja sama untuk menyelamatkan orangnya, sambil melakukan tindakan darurat," kata Ganjar .

Banjarmasin dan Jakarta

Menyeberang ke Pulau Kalimantan, hampir seluruh wilayah Kota Banjarmasin, juga terendam banjir rob akibat tingginya curah hujan yang dipengaruh La Lina. Rob melanda empat dari lima wilayah kecamatan di Kota Banjarmasin, meliputi Kecamatan Banjarmasin Selatan, Banjarmasin Barat, Banjarmasin Tengah dan Sebagian wilayah Banjarmasin Utara.

Ketinggian banjir berkisar 10-40 sentimeter  dan agaknya masih akan terus berlangsung hingga beberapa waktu ke depan. Rob terparah antara lain Kelurahan Sungai Jingah dan Pangeran di Kecamatan Banjarmasin Utara;  Kelurahan Kuin Cerucuk dan Belitung di Kecamatan Banjarmasin Barat. Kota Banjarmasin memang rawan banjir kiriman dari hulu sungai dan rob, karena wilayahnya sudah berada 16 cm di bawah permukaan laut. Wilayah ini juga merupakan daerah hilir berbatasan langsung dengan sungai besar  yakni Sungai Barito.

Kondisi serupa juga terjadi di wilayah pesisir lain di Kalsel seperti Kabupaten Tanah Laut, Banjar dan Barito Kuala. Dampak banjir besar awal tahun lalu juga belum pulih, sekarang petani dihadapkan pada kondisi rob yang mengancam tanaman petani.

Ibukota negara Jakarta juga tak luput. Sejak awal pekan lalu, terjadi pasang di beberapa area di utara Jakarta meliputi, Jl. Lodan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jl. RE Martadinata, Tanjung Priok, Muara Baru, dan Kawasan Si Pitung Marunda. Pemprov DKI mengakui banjir rob terjadi akibat air laut yang melimpas melewati tanggul, karena tinggi tanggul eksisting saat ini tidak dapat menahan gelombang pasang  jika tinggi muka air (TMA) laut melebihi +240 PP. Rata-rata tinggi genangan di kawasan ini  20-50 cm. 

Curah hujan tinggi di daratan yang menyebabkan air melambat mengalir ke laut,  mengakibatkan air tertahan dalam lama di daratan pesisir pantai. Fenomena ini juga diperparah oleh pasang air laut pada waktu tertentu, penurunan muka tanah dan abrasi pantai.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar