Kelistrikan, Masalah Baru 737 Max

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono
Belum rampung masalah jatuhnya dua Boeing 737 Max terurai dengan jernih, pabrik pesawat Boeing mengumumkan masalah baru pada sejumlah unit 737 Max. Pesawat tersebut mengalami masalah kelistrikan. Dilansir dari CNN, Boeing telah memberitahukan 16 maskapai penerbangan yang memiliki pesawat 737 Max bermasalah tersebut. Namun, tidak dirincikan maskapai terkait serta jumlah unit 737 Max yang bermasalah. Boeing telah merekomendasikan kepada 16 pelanggan bahwa ada potensi masalah kelistrikan pada pesawat ini. Boeing sedang bekerja dengan Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) untuk mengatasi masalah tersebut. Semua pesawat Boeing 737 Max di seluruh dunia terpaksa dikandangkan alias grounded selama 20 bulan, terhitung sejak Maret 2019 hingga November 2020.  FAA akhirnya memberikan izin terbang kembali pada Max 737 usai perbaikan yang dilakukan Boeing pada sistem keselamatan yang sebelumnya tidak berfungsi.   Akibat grounded Boeing terpaksa mengeluarkan biaya perawatan lebih dari US$20 miliar. Analis Keamanan Penerbangan CNN David Soucie meyakini masalah baru 737 Max melibatkan cadangan ke sistem tenaga utama yang memberi daya pada semua bagian listrik pesawat. Empat maskapai penerbangan AS memiliki pesawat 737 Max, yakni Southwest , United, American, dan Alaska Air. Southwest dan United telah memesan 737 Max tambahan sejak larangan terbang tersebut dicabut. Diakui masalah ini memengaruhi 30 dari 58 armada 737 Max milik maskapai.  Southwest akan menggantikan pesawat-pesawat tersebut dengan pesawat lain untuk mengantisipasi gangguan pada operasionalnya.Sementara itu, United mengatakan masalah ini mempengaruhi 16 dari 30 pesawat 737 Max. Senada dengan Southwest, United juga sedang berupaya menukar pesawat guna meminimalkan dampak terhadap pelanggan.

Cacat  Membahayakan

Dikutip dari BBC dan Suara.com  Pesawat Boeing 737 MAX kembali bermasalah. Setelah bermasalah pada sistem kendali MCAS, kini pesawat teranyar milik Boeing itu bermasalah pada sistem kelistrikan. FAA kembali mengawasi ketat pesawat tersebut, setelah selama enam bulan memberikan izin operasional.Menurut Boeing dan FAA, masalah pertama kali terlihat selama pengujian 737 Max 8 yang baru diproduksi ditemukan bahwa sistem tenaga listrik di pesawat tidak berfungsi dengan benar.

Gangguan ini memengaruhi pengoperasian sistem tertentu, termasuk perlindungan mesin, dan mengakibatkan hilangnya fungsi kritis, atau beberapa efek penerbangan secara bersamaan, yang dapat membahayakan penerbangan dan pendaratan yang aman. Menurut FAA cacat itu, sangat berbahaya. FAA khawatir bahwa seiring waktu, pesawat lain yang sudah beroperasi dapat mengalaminya. Pesawat yang terkena masalah ini harus diperbaiki dulu sebelum diizinkan terbang lagi.

Belum ada yang bisa mengaitkan kekurangan ini dengan perangkat lunak pengendali penerbangan atau dikenal sebagai MCAS yang memicu jatuhnya pesawat itu di Indonesia dan Ethiopia, merenggut 346 nyawa. Gagal sensor mendorong MCAS memaksa hidung pesawat turun berulang kali, ketika pilot mencoba menambah ketinggian, akhirnya menyebabkan jatuh.

Muncul Keluhan Baru Dilansir BBC, pada 14 Oktober lalu pesawat Boeing 737 Max lepas landas dari bandara Boeing Field di Seattle menuju Brussel,  merupakan penerbangan pengiriman pesawat  baru untuk grup perjalanan Tui. Setelah beberapa menit  terbang, pilot melaporkan adanya masalah pada kontrol pesawat yang mendesak dan harus kembali. Untung pesawat berhasil mendarat dengan selamat.

Usai diperbaiki, pesawat kembali berangkat ke Brussel pada hari berikutnya dan telah terbang secara teratur sejak saat itu. Namun, kejadian ini bukanlah insiden satu-satunya yang terjadi setelah Boeing 737 Max kembali diterbangkan.

Sejak Boeing 737 Max kembali beroperasi, ada lebih dari 180 laporan keamanan seperti yang terjadi dalam penerbangan menuju Brussel tersebut. Selain itu, sejumlah pilot AS juga mengalami keadaan darurat karena terjadinya kegagalan mesin. Sejumlah pesawat  pun dilarang terbang setelah ditemukannya masalah listrik. Tidak heran bila sejumlah pakar merasa khawatir dengan kondisi ini. Sementara Boeing tidak menanggapi kegagalan yang ditampilkan dalam laporan FAA tersebut.  Boeing menegaskan kalau pesawat itu aman dan dapat diandalkan. Sejak 737 MAX kembali beroperasi, maskapai telah menerbangkan hampir 240.000 penerbangan di seluruh dunia, dan melakukan lebih dari 1.300 penerbangan setiap hari.

  Berikan Ganti Rugi Terhadap kecelakaan Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 penumpang, Boeing bertanggung jawab dan setuju memberi ganti rugi. Diberitakan CNN, Boeing setuju bertanggung jawab atas ganti rugi dalam tuntutan hukum yang diajukan oleh keluarga penumpang. Gugatan para keluarga penumpang itu diajukan di Pengadilan Distrik Illinois, AS. Sebagai hasil dari kesepakatan, Boeing tidak akan menentang tuntutan hukum yang sedang diajukan. Menurut pengacara para korban  Boeing mengakui bahwa pesawat 737 Max memiliki kondisi yang tidak aman, dan tidak akan berusaha menyalahkan orang lain atas kecelakaan itu. Ini adalah tonggak penting bagi keluarga dalam mengejar keadilan terhadap Boeing. Mereka berharap diperlakukan secara adil di bawah hukum Illinois. Pesawat kembali beroperasi setelah Boeing melakukan perbaikan dan peningkatan pada sistem perangkat lunak dan pelatihan pilot secara signifikan. Kecelakaan itu telah merugikan Boeing USD 20 miliar atau sekitar Rp 285 triliun. Boeing menyetujui tuntutan yang diberikan Departemen Kehakiman AS termasuk denda USD 2,5 miliar.

Sementara itu mantan pilot Boeing 737 Max, Mark Forkner, didakwa soal sistem kontrol penerbangan otomatis (MCAS) yang diyakini menyebabkan dua kecelakaan maut di Indonesia dan Ethiopia. Seperti dilansir detikTravel dari Associated Press, Forkner (49) resmi dijerat dua dakwaan penipuan terkait suku cadang pesawat dalam perdagangan antarnegara dan empat dakwaan penipuan telekomunikasi atau internet (wire fraud).  Jika terbukti bersalah atas seluruh dakwaan itu, Forkner terancam hukuman maksimum 100 tahun penjara. Forkner didakwa menyembunyikan informasi tentang sistem kontrol penerbangan yang diaktifkan secara keliru dan mendorong hidung pesawat  terus menukik.

    Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar