Omicron Menyusup Dua Pekan Lalu?

(Unsplash)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Tak ada pintu negara yang sanggup menghadang kehadiran varian baru Omicron. Tidak juga pintu-pintu Indonesia yang sudah disekat begitu rapat. Pada akhirnya  Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) Kamis 16 Desember kemarin mengungkapkan sudah mendeteksi virus corona varian omicron di tanah air. Ada seorang pasien N terkonfirmasi omicron pada tanggal 15 Desember.  Data sequencing membenarkan virus itu adalah omicron, yang diyakini berkembang 70 kali lebih cepat dari versi asli corona dan varian Delta dalam 24 jam.

Varian Omicron ini pertama kali terdeteksi akhir November di Afrika Selatan (Afsel). WHO memasukkannya ke dalam "varian of concern", yang perlu diwaspadai bersama Delta. Kini sudah lebih dari 77 negara terinfeksi. Meski hanya bergejala ringan, Inggris melaporkan adanya kematian pertama Omicron awal pekan ini di negaranya.

Sudah Ada Dua Minggu Lalu

Menkes mengatakan kasus ini ditemukan pada petugas kebersihan yang bertugas di Wisma Atlet. Padahal ia  tidak memiliki riwayat bepergian ke luar negeri. Melihat ini, pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono meyakini bahwa ini bukanlah kasus varian Omicron yang pertama. Bisa disimpulkan petugas kebersihan Wisma Atlet  itu tidak mungkin dirinya sendiri menularkan omicron. Sangat mungkin ada orang lain yang menularkan ke petugas kebersihan itu.

Miko mengungkapkan dalam epidemiologi, petugas kebersihan itu merupakan kasus primer atau kasus penularan pertama dari manusia ke manusia. Sementara kasus indeks atau sumber dari kasus pertama Omicron ini masih belum ditemukan, tetapi sudah masuk ke Indonesia.

Kasus indeks ini kemungkinan sudah menularkan virus varian Omicron ke orang lain, selain petugas kebersihan. Sebab, laporan ini sudah ditemukan sekitar dua minggu yang lalu. Dan karena kasus primer itu bukan yang pertama, harus ditemukan kasus indeksnya. Jadi  kasus indeksnya itu sudah masuk ke Indonesia  dua minggu yang lalu.

"Dan pasti kalau dia sudah menularkan ke salah satu petugas kebersihan di Wisma Atlet, berarti dia sudah menularkan (virusnya) selama 2 minggu. Apalagi kalau ini terlambat, ya berarti sudah 3 minggu yang lalu," katanya kepada detik.com.

Kini pemerintah sedang  mencoba ‘melonggarkan’ kewaspadaan dengan mencabut PPKM level 3 menjelang keramaian pada Natal dan tahun baru. Bila pergerakan dan kerumunan masyarakat meningkat, bahaya omicron akan sangat fatal.

Cepat Sekali Menyebar

Sebelum terdeteksi di Indonesia, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengungkapkan, varian Omicron memang sudah menyebar ke 77 negara.  “Dan kenyataannya, Omicron mungkin ada di sebagian besar negara, meskipun belum terdeteksi,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Selasa (14/12), seperti dikutip Al Jazeera.

Menkes menyebutkan Omicron menyebar pada tingkat yang belum pernah terlihat sebelumnya. Omicron menyebar dengan kecepatan yang belum pernah kita lihat dari varian sebelumnya. Berdasarkan bukti terbatas saat ini, Omicron tampaknya memiliki keunggulan pertumbuhan dibanding Delta, ungkap WHO dalam Pembaruan Epidemiologis Mingguan tentang Covid-19 yang terbit Selasa. 

Omicron menyebar lebih cepat dari varian Delta di Afrika Selatan, di saat sirkulasi Delta sedang merendah. Tapi virus baru ini menyebar lebih cepat dari varian Delta di negara-negara di mana insiden Delta tinggi, seperti di Inggris. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) melaporkan 43 kasus varian Omicron 

Gejala yang paling sering dilaporkan adalah batuk, kelelahan, dan hidung tersumbat atau pilek. Akibatnya beberapa orang menganggap enteng varian Omicron lantaran hanya menimbulkan gejala ringan.  Dicemaskan,  jumlah kasus yang banyak sekali, bisa membanjiri sistem kesehatan yang tidak siap.

Sinovac Ampuh Atau Tidak?

Studi terbaru yang dilakukan Sinovac BioTech menemukan suntikan ketiga (booster) vaksin perusahaan dapat menghasilkan lebih dari dua kali lipat tingkat antibodi penetralisir guna melawan varian Omicron. Penelitian ini melibatkan 20 orang yang sudah divaksin penuh (dua dosis) CoronaVac (vaksin Covid-19 buatan Sinovac) dan 48 orang lainnya yang menerima tiga dosis vaksin.

Tujuh dari 20 orang kelompok pertama dan 45 orang dari kelompok kedua memiliki antibodi penetralisir untuk melawan varian Omicron, ujar Sinovac dalam pernyataan resminya seperti dikutip dari Global Times, Kamis 16 Desember. Sinovac mengungkapkan vaksin booster dapat secara efektif meningkatkan kapasitas penetralan vaksin terhadap serangan omicron.

Para Peneliti University of Hong Kong menemukan kebanyakan individu yang disuntik dua dosis (vaksin penuh) vaksin Sinovac tidak menghasilkan tingkat serum antibodi yang cukup untuk melawan  Omicron. Hasil yang sama juga ditemukan pada mereka yang mendapatkan dua dosis vaksin Pfizer.

Penelitian tersebut menyarankan kepada masyarakat yang mendapatkan vaksin Sinovac dan Pfizer untuk sesegera mungkin untuk mendapatkan booster vaksin (vaksin ketiga) sambil menunggu ditemukan vaksin yang lebih cocok untuk mengatasi Omicron, seperti dikutip CNBC dari situs University of Hong Kong.

Penelitian ini dilakukan pada 50 relawan, 25 relawan penerima vaksin Sinovac dan sisanya adalah penerima vaksin Pfizer. Penelitian ini untuk menguji kemampuan serum antibodi penerima vaksin menetralkan varian omicron. Pengujian ini juga menggunakan dua varian omicron, dari Afrika Selatan dan Nigeria.

Dari penelitian tersebut diketahui tak satupun dari 25 penerima vaksin Covid-19 Sinovac CoronaVac memiliki serum antibodi yang cukup untuk menetralkan varian Omicron.

Pada grup lainnya terdapat 5 dari 25 orang yang sudah disuntik vaksin Pfizer memiliki kemampuan menetralisir varian omicron, dan efisiensi vaksin berkurang secara signifikan menjadi 20-24%. Dibandingkan dengan strain asli Covid-19, titer antibodi penawar terhadap varian Omicron telah menurun 36 - 40 kali lipat. Penelitian ini  dipimpin oleh Yuen Kwok Yung, salah satu profesor yang sangat dihormati di University of Hong Kong. Penelitian ini juga telah dipublikasikan dalam jurnal medis Clinical Infectious Diseases.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar