Faktor Geografis Redam Gerak Omicron

(Unsplash)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Mau tak mau, suka tak suka kita harus ekstra waspada menghadapi omicron. Virus baru yang lebih mematikan ini telah menghentak di negara-negara maju Eropa. Indonesia sendiri belajar dari penanganan di tiga negara yakni Inggris, Denmark dan Afrika Selatan. Ketiganya telah menerapkan karantina dan pembatasan pelaku perjalanan internasional. Namun, saat ini ketiganya menghadapi tantangan Omicron dalam jumlah besar.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menjelaskan, dibandingkan negara di Eropa, kondisi geografis Indonesia lebih menguntungkan dalam menerapkan karantina dan pembatasan pelaku perjalanan.  Bentuk negara kepulauan dapat menerapkan kebijakan perjalanan internasional dan karantina dengan lebih mudah.

Dalam keterangan pers yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, dikatakan Eropa mengalami peningkatan kasus Omicron akibat dekatnya perbatasan antar negara dalam satu daratan, ketergantungan tinggi antarnegara dan mobilitas penduduk lintas negara. 

Inggris mengalami kenaikan kasus sebesar 51,5% dalam sebulan terakhir, di saat adanya penurunan kasus. Inggris pun menerapkan kebijakan perjalanan internasional. Pelaku perjalanan dosis lengkap diwajibkan RT-PCR pada hari kedua paska kedatangannya,  dan jika positif  maka ia wajib karantina 10 hari yang dilakukan secara mandiri. 

Sementara bagi yang belum dosis lengkap, wajib karantina 10 hari dan testing di hari ke 2 dan 8. Proses karantina dilakukan secara mandiri. Bagi Pelaku perjalanan berasal dari negara daftar merah dilarang masuk. Hal yang sama diberlakukan kepada yang bukan warga negara dan tidak memiliki izin tinggal. Sementara warga negara Inggris yang berasal dari negara ‘redlist’, wajib karantina 10 hari dengan RT-PCR wajib pada hari ke-1 dan ke-8.  Toh kebijakan yang ditetapkan Inggris ini tidak mampu menahan masuknya varian baru. Saat ini lebih dari 3 ribu kasus yang disebabkan Omicron.

Denmark  Juga Kebobolan

Denmark juga mengalami hal serupa dengan Inggris. Bedanya, ancaman Omicron di Denmark datang  saat kasus mengalami kenaikan signifikan dan melonjak hampir 2000% dalam 2,5 bulan.

Denmark menerapkan aturan setiap pelaku perjalanan yang berasal dari negara Uni Eropa dan negara dengan risiko Covid-19, tidak wajib melakukan karantina. Sebaliknya wajib tes PCR 1 x 24 jam setelah kedatangan dan telah divaksin menggunakan Pfizer, Johnson and Johnson, Moderna dan Astra Zeneca. 

Sementara bagi pelaku perjalanan yang berasal dari negara dengan varian Omicron dan risiko Covid-19 yang tinggi, wajib menyertakan RT-PCR R 3 x 24 jam sebelum kedatangan, tes anti agen atau PCR 1 x 24 jam paska kedatangan, dan melakukan karantina selama 10 hari dan karantina yang dilakukan secara mandiri. Toh Denmark juga belum mampu mencegah masuknya varian Omicron. Ada 2.471 kasus positif covid 19 yang diidentifikasi disebabkan oleh varian omicron.

Afrika Selatan juga sedang mengalami lonjakan kasus ketika varian Omicron ditemukan. Kasus yang sudah sempat mencapai level sangat rendah sontak melejit 7000 persen dalam waktu 1 bulan. Kebijakan pelaku perjalanan internasional yang diterapkan oleh Afrika Selatan berlaku sama bagi semua negara. Yaitu wajib tes PCR 3x24 jam sebelum kedatangan, pada saat kedatangan diwajibkan melakukan tes antigen. Jika positif maka pelaku perjalanan wajib melakukan karantina selama 10 hari. Saat ini kasus konfirmasi varian omicron di Afrika Selatan sudah mencapai 779 kasus.

Tanggung Jawab Setiap Individu

Jika, dibandingkan dengan negara-negara tersebut Indonesia dikatakan cenderung terkendali oleh ancaman varian Omicron. Selama 5 bulan berturut-turut Indonesia telah mengalami penurunan kasus hingga 99,5% dari puncak kasus kedua. Tentunya kondisi yang sudah dicapai dengan susah payah ini seyogyanya dijadikan semangat dalam menjaga kasus tetap rendah dan terhindar dari masuknya varian baru.

"Sejatinya setiap individu warga negara Indonesia ikut bertanggung jawab dengan kondisi kasus ini. Jadilah contoh yang baik untuk sesama warga negara Indonesia, agar kebijakan yang disusun sedemikian rupa guna mencegah berkembangnya varian Omicron dapat terwujud dengan baik," Wiku menegaskan. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sendiri menyampaikan perkembangan  varian Omicron di dunia mengalami kenaikan pesat. Dibandingkan minggu lalu, ada kenaikan dari 941 kasus menjadi 7.900 kasus. Dari hampir 8.000 kasus COVID-19 varian Omicron itu, paling banyak di Inggris dan Denmark. Ada penambahan 5.000 kasus dalam 1 minggu di dua negara tersebut.

Kasus terbanyak sekarang bukan di Afrika Selatan, tapi di Inggris dan Denmark. Jumlah negara yang terkena Omicron Minggu lalu 45, Minggu ini 72 bahkan 77 negara.

Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, juga minta masyarakat terus mewaspadai penularan Covid-19.  Kesalahan kecil bisa membawa Indonesia kembali ke masa kelam beberapa waktu lalu. Di tengah euforia masa Natal dan tahun baru ia terus mengimbau masyarakat untuk terus mengingat bahwa pandemi belum usai. Ia mengimbau masyarakat tidak pergi ke luar negeri karena penyebaran Omicron di negara lain sudah meluas. Kurangi dulu pergi ke luar negeri. Semua pihak harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Kelalaian atau kecerobohan kecil apa pun bisa menimbulkan masalah.

Sedangkan angka vaksinasi di Indonesia saat ini sudah 250 juta vaksin disuntikkan. Sebanyak 103 juta orang  sudah mendapat vaksinasi penuh.  Target WHO 40 persen jumlah penduduk divaksinasi hingga akhir tahun ini akan tercapai. ‘’Itu sekitar 38 persen dari total penduduk kita. Jadi kalau target WHO 40 persen sampai akhir tahun. Insyaallah sebelum Natal harusnya angka itu bisa kita capai," kata Budi.

Sangat Serius

Pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman sebelumnya memprediksi Indonesia sudah mencatat satu hingga tiga kasus Omicron, tetapi belum terdeteksi karena kemampuan ‘’whole genome sequencing’’ rendah. Prediksi tersebut dibuktikan saat Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan kasus pertama varian Omicron dari pekerja pembersih Wisma Atlet. Pasien dinyatakan positif meski tanpa riwayat perjalanan luar negeri.

"Sekali lagi tidak usah terkejut, tidak usah juga panik, tidak usah juga kita berlebihan dalam menyikapi ini, yang harus dilakukan adalah keseriusan dalam merespons situasi Omicron ini," kata Dicky kepada detikcom. Varian Omicron sebelumnya kerap disepelekan usai pasien COVID-19 hanya mengalami gejala ringan. Kita perlu sangat serius, ancamannya bisa melebihi Delta. Kecepatan penularan Omicron jauh lebih cepat ketimbang Delta. Terlebih saat mereka bereplikasi di saluran pernapasan, 70 kali kemampuan replikasi dari pada Delta.

Menurut Menkes, kasus Omicron pada seorang pekerja pembersih di Wisma Atlet berawal dari temuan tiga pekerja yang terdeteksi positif Covid-19. "Ada tiga orang pekerja pembersih, tanggal 8 Desember PCR positif, tanggal 10 sampel dikirim ke Litbangkes untuk genome sequencing, tanggal 15 keluar. Dari tiga orang, satu adalah Omicron, dua bukan," kata Menkes .

Pekerja tersebut dikabarkan tidak mengalami gejala. Ia dan dua rekannya sudah kembali menjalani tes PCR dengan hasil negatif. "Mereka bertiga sudah dites PCR kembali. Tes PCR-nya sudah negatif," pungkas Menkes Budi.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) menyebut  Omicron bakal mendominasi Eropa di dua bulan pertama 2022, 'mengalahkan' varian Delta. Dikhawatirkan, kondisi tersebut bakal meningkatkan jumlah rawat inap dan kasus kematian . ECDC mengakui, belum ada cukup data untuk menilai tingkat keparahan penyakit akibat infeksi varian Omicron.  Tingginya kemampuan penularan varian Omicron tetap dikhawatirkan. Tanpa tindakan percepatan vaskinasi dan pembatasan kontak sosial, penyebaran varian Omicron bakal menekan sistem kesehatan.

Komisioner Kesehatan Eropa, Stella Kyriakides, mengatakan negara-negara Uni Eropa harus segera merencanakan peningkatan kapasitas perawatan kesehatan.

Omicron bakal menyebabkan gelombang besar selama beberapa bulan mendatang. Namun vaksinasi  booster akan mampu menjadi 'pemecah gelombang'. Lebih dari 66 persen warga Eropa telah menerima vaksinasi, namun masih ada yang tertinggal seperti Bulgaria, Rumania, dan Slovakia.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar