Serangan Virus Jelang Panen Raya Ternak

Infografis Serangan Virus Jelang Panen Raya Ternak Penyakit Mulut & Kuku (PMK) (Foto: Tjuk Suwarsono/RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

KBRN, Jakarta: Menjelang hari raya Idul Adha Sabtu, 9 Juli 2022 mendatang, masa panen raya kurban bagi para peternak terhentak munculnya Penyakit Mulut & Kuku (PMK).

Bagai hantu siang bolong, PMK tiba-tiba menyergap Aceh Tamiang dan Aceh Timur di Provinsi Banda Aceh, daerah ini bukan termasuk penghasil sapi nasional. Namun PMK dengan cepat menyerang sentra ternak besar di Jawa Timur, dan sebagian Jawa Tengah.

Pertama kali terdeteksi di Kabupaten Gresik, 402 ekor sapi potong terinveksi gejala yang mirip PMK pada 28 April 2022. Kemudian ditemukan pula di tiga kabupaten lain yaitu Lamongan, Mojokerto dan Sidoarjo. Temuan ini serupa dengan laporan sebelumnya di Kabupaten Aceh Tamiang pada 22 April 2022. 

Data terakhir dari Kementan per-10 Mei, tercatat  ada 10 Provinsi dan 36 Kabupaten di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan dengan ternak terinfeksi sebanyak 6.498 ekor. Jawa Timur merupakan sentra populasi sapi potong terbesar dengan populasi 4,61 juta ekor atau sekitar 28 persen total populasi sapi potong di Indonesia.

Bukan hanya sapi yang terancam, PMK dapat menyerang hewan berkuku belah baik hewan domestik maupun liar seperti sapi, kambing, domba, kerbau, babi, rusa dan onta. Lebih tepat penyebabnya virus Foot Mouth Disease (FMDV) yang termasuk dalam famili Picornaviridae dan genus Aphtovirus. Dilaporkan adanya temuan FMDV pada spesies hewan lain seperti kanguru, gajah, tapir dan beruang.

Ada Sejak 1887

PMK bukanlah penyakit baru di Indonesia, pertama kali menjangkit tahun 1887 dengan awal temuan pertama di Malang, dan menyebar di wilayah sekitar Pulau Jawa. Virus ini ditularkan melalui impor ternak hidup dari Belanda. 

Hingga tahun 1985 terjadi kematian masif ribuan sapi, terjadi di Kabupaten Blora, sentra sapi terbesar Jawa Tengah dan terbesar kedua di Indonesia. Upaya dilakukan dengan pencegahan besar-besaran, mengerahkan ribuan petugas.

Hasilnya tahun 1986, Indonesia dinyatakan bebas PMK dan pada 1990 mendapat pengakuan sebagai negara bebas PMK. Reputasi ini bertahan hingga 30 tahun, sehingga Indonesia bebas mengekspor ternak ke berbagai Negara. 

Impor ternak dibatasi ketat hanya dari Negara yang bebas PMK, antara lain Australia. Impor dari kawasan Asean sendiri sangat berisiko karena sebagian Negara tetangga masih belum terbebas PMK.

Di beberapa negara seperti Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan hingga Asia, penyakit ini dianggap endemik, artinya belum sepenuhnya hilang dan sewaktu-waktu bisa muncul kembali. 

Beberapa negara di Asia Tenggara juga berstatus endemik misalnya Kamboja, Laos, Malaysia (semenanjung), Myanmar, Thailand dan Vietnam. Sementara di Malaysia bagian timur (Sabah dan Sarawak), Filipina, Singapura dan Brunei berstatus bebas PMK.

Dampak ekononomi dari bebas PMK adalah Indonesia bebas mengekspor produk ternak dan turunannya ke berbagai negara. Indonesia mati-matian hanya mengimpor produk ternak dan turunannya hanya dari negara bebas PMK. 

Peraturan itu diubah pada 2016. Indonesia membuka keran impor daging murah dari India dan Brasil. Dua negara ini belum bebas PMK.

Dikutip dari Gatra 11/5-22, semua daging impor itu masuk Jakarta dan didistribusikan ke daerah, termasuk Jawa Timur dan Jawa Tengah (Boyolali) yang kini terjangkit PMK. 

Daging beku impor masuk pasar-pasar tradisional. Bercampur dengan produk dari pemotongan hewan lokal. Enam tahun sejak Indonesia membuka keran impor dari negara yang belum bebas PMK inilah yang berimbas buruk pada produk ternak domestik kita.

Bukan Zoonosis

Sampai Selasa 17 Mei Pemerintah belum menjelaskan darimana asal pertama PMK masuk kembali ke Indonesia, dan melalui cara apa. Secara umum virus PMK dapat menyebar pada suatu wilayah melalui transportasi ternak yang terinfeksi, produk hewan yang berpotensi sebagai sumber transmisi penularan (daging, kulit mentah, produk susu, semen, embrio hewan rentan) dan hewan karier (pembawa). 

Bisa juga akibat kontak langsung dengan alat atau barang yang terkontaminasi virus PMK, seperti tubuh peternak, kendaraan pengakut, dan sisa pakan ternak. Seorang peternak yang menyentuh sapi sakit, bisa membawa virus untuk ternaknya sendiri, sehingga PMK cepat menyebar. 

PMK bukan tergolong penyakit zoonosis yang dapat ditularkan ternak ke manusia, Namun kerugian ekonomi akibat PMK cukup besar, baik untuk negara maupun terlebih bagi peternak. 

Mortalitas PMK masih dikategorikan rendah berkisar 5-10 persen, namun tingkat morbiditas (kesakitan) mencapai 100 persen serta menimbulkan dampak ekonomi dengan kerugian triliun rupiah. 

Hewan terjangkit PMK dan tidak segera mendapat penanganan yang tepat, berangsur produktivitasnya turun karena sakit. Bobot tubuhnya merosot karena ternak tidak mau makan, dan akhirnya mati. 

Dampak lainnya produktivitas dan pertumbuhan ternak sakit akan buruk dan tidak mampu menghasilkan anak setiap tahun. Pada ternak perah, produksi susunya juga turun.

Sering Terlambat

Genangan air, sisa makanan mentah, dan suplemen pakan yang mengandung produk hewani yang terinfeksi juga dapat menjadi sumber penularan virus. Sapi betina dapat tertular dari air mani sapi jantan yang terinfeksi. Larangan keluar masuk dari kandang hewan terpapar PMK, harus diterapkan secara ketat.

Soal kecepatan penularan, sapi jauh lebih rentan daripada babi terhadap infeksi virus aerosol. Babi yang terinfeksi menghasilkan 30 kali jumlah virus aerosol dibandingkan dengan sapi dan domba yang terinfeksi. Juga, babi sangat rentan terhadap infeksi melalui oral. Virus juga aktif untuk waktu yang lama pada bahan pakan bungkil kedelai.

Peternak sering terlambat mengenali virus ini, karena penularan sudah terjadi sebelum hewan memiliki tanda-tanda penyakit yang jelas. Kondisi itu menjadi faktor yang meningkatkan risiko persebaran virus secara signifikan sebelum wabah terdeteksi. 

Diperkirakan periode sapi yang terinfeksi 1–7 hari, tetapi sapi dapat menularkan virus selama beberapa jam sebelum mereka mengalami demam atau lesi PMK.

Seperti saat menghadapi Covid 19 pada manusia, Pemerintah menyiapkan dana penanggulangan yang tidak kecil. Impor vaksin terpaksa dilakukan untuk penanganan lebih cepat. Pembuatan vaksin dalam negeri sesuai dengan sterotipe jenis virus yang ditemukan juga sedang dikebut agar ternak segera memperoleh kekebalan. 

Isolasi dilakukan terhadap wilayah wabah, pembatasan lalu lintas ternak, pengebalan hewan, isolasi hewan sakit, pemusnahan bangkai. Untuk ternak yang harus dimusnahkan, perlu penggantian bagi peternak. 

Pendampingan teknis dan peran Puskeswan sebagai unit pelayanan terdekat bagi peternak harus aktif. Daerah luar Pulau Jawa umumnya memiliki tenaga kesehatan hewan yang terbatas.

Demam Tubuh

Hewan terinfeksi PMK biasanya diawali demam dan panas tubuh 39 derajat Celsius. Napasnya terengah-engah, tidak nafsu makan, keluar liur berlebih dari mulut bahkan hingga berbusa. Muncul lesi-lesi atau lepuh pada lidah, mulut, gusi, keempat tracak kaki sehingga menyebabkan luka di kuku kaki hingga lepas dan pincang. 

Masa inkubasi virus PMK bervariasi antar spesies, rata-rata berkisar antara 2-8 hari sejak ternak terinfeksi. Paling rentan pada kategori ternak usia muda dengan morbiditas (tingkat kesakitan) hampir 100 persen. Virus sangat mudah ditularkan melalui hembusan napas, saliva yang dikeluarkan dan lepuh pada tracak kaki, mulut, lidah dan gusi. 

Jika lepuh pecah, virus sangat cepat menyebar ke lingkungan. Pada ternak babi, virus yang dikeluarkan melalui pernapasan bisa tiga kali lebih banyak daripada sapi.

Virus PMK terus berevolusi dan bermutasi. Kesulitan dalam vaksinasi adalah besarnya variasi pada serotipe yang sama. Tidak ada perlindungan silang antara serotipe. Artinya, vaksin untuk satu serotipe tidak akan melindungi terhadap yang lain. 

Itu berarti vaksin PMK harus sangat spesifik untuk strain yang terlibat. Vaksinasi hanya memberikan kekebalan sementara yang berlangsung dari bulan ke tahun. Vaksinasi terbaik jika menggunakan virus lokal yang menyebabkan wabah PMK di daerah bersangkutan.

Kini para peternak berharap virus PMK segera dihentikan penyebarannya.  Hewan ternak umumnya masih dibudidayakan secara tradisional di desa, dan juga berfungsi sebagai ‘penyangga ekonomi’ keluarga. 

Ternak adalah benda ekonomi. Posisi ini berbeda dengan industri peternakan besar yang lebih mandiri segala hal. Tanpa perlindungan Pemerintah, peternak tradisional berada di sudut rawan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar