Semarang Didera Jratunseluna

Sejumlah warga mendorong mobil mogok akibat menembus jalur Pantura Jalan Raya Kaligawe - Genuk yang terendam banjir di Genuk, Semarang, Jawa Tengah, Senin (8/2/2021). Banjir akibat intensitas hujan tinggi merendam jalur tersebut sejak Sabtu (6/2) dengan ketinggian bervariasi sekitar 30 cm - 1,2 meter sehingga menyebabkan lalu lintas dari Kota Semarang menuju Kabupaten Demak maupun sebaliknya terganggu. (ANTARA)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

KBRN, Jakarta: Di antara kota-kota besar lainnya di Jawa, Semarang sebagai Ibukota Jawa Tengah termasuk yang paling rutin kebanjiran. Awal Februari 2021 kemarin hampir separo kota tenggelam. Jalur KA Surabaya-Jakarta lumpuh total, stasiunnya tergenang. Jalan raya propinsi juga tak bisa ditembus. Bila tak ada hujan lebat, kawasan kota lama (down town) Semarang selalu tergenang rob. 

Lima sungai yang melintasi Semarang tergolong masih liar (wild) belum banyak tersentuh rekayasa pengelolaan. Tidak cukup ada bendungan besar yang mengendalikan, tidak juga dam dan pintu-pintu air. Hal ini ditambah dengan degradasi kawasan DAS (Daerah Aliran Sungai) akibat ubah- fungsi lahan.

Permukaan daratan Semarang juga mengalami penurunan, ditambah pembangunan kota yang masif, membuat daya dukung alam kedodoran. 

Lima sungai itu disebut ‘’Jratunseluna’’ terdiri atas dua DAS utama yaitu DAS Jratun (Sungai Jragung dan Tuntang) dan DAS Seluna (Sungai Serang, Lusi dan Juana). Daerah sepanjang aliran sungai Jratunseluna dari hulu ke hilir yang masih liar, sebenarnya berpotensi besar dijadikan sebagai lahan rumput gajah, rumput raja dan beberapa tanaman leguminosa. (Data: Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumberdaya Air, Bappenas)

 Terdapat tiga sistem DAS yaitu, DAS Ciliwung di Jawa Barat, DAS Jratunseluna di Jawa Tengah, dan DAS Batanghari di Jambi. Ketiga sistem DAS tersebut mewakili tiga kondisi pengelolaan. Walaupun karakteristiknya berbeda, tetapi kinerja mereka hampir sama. Ketiganya mewakili  gambaran umum kondisi DAS di Indonesia yang menunjukkan degradasi pengelolaan hutan dan lingkungan hidup.

Kinerja DAS tidak hanya dipengaruhi satu atau dua sektor tertentu.

Investasi di sektor pertanian cenderung memperburuk kondisi DAS, karena  menambah pembukaan lahan. Idealnya pengelolaan DAS dilakukan terpadu, melibatkan seluruh sektor dan kegiatan di dalam sistem DAS. Perencanaan DAS tidak dapat dilakukan sektoral saja. Berpegang pada prinsip ‘one river one management’, diperlukan keterkaitan antarsektor meliputi perencanaan APBN, perencanaan sektor/program/proyek hingga pada tingkat koordinasi semua instansi atau lembaga terkait dalam pengelolaan DAS.

Sungai sebagai bagian dari wilayah DAS merupakan sumberdaya yang mengalir (flowing resources), dimana pemanfaatan di daerah hulu akan mengurangi manfaat di hilirnya. Sebaliknya perbaikan di daerah hulu manfaatnya akan diterima di hilirnya. Itu sebabnya diperlukan perencanaan terpadu.

Peternakan sapi potong cocok dikembangkan di DAS Jratunseluna. Populasi sapi potong di sini sangat tinggi yaitu sekitar 54,4% dari populasi ternak sapi potong di Jawa Tengah. Contoh Kabupaten Blora yang dilalui Kali Lusi, dikenal sebagai daerah penghasil sapi potong terbesar kedua di Indonesia setelah Sumenep, Madura.

Kabupaten Semarang memiliki jumlah populasi ternak sapi potong 51.901 ekor dan  Kabupaten Pati 93.227 ekor. Penyediaan pakan yang berkualitas, murah, dan mudah dicari merupakan faktor penentu dalam pemilihan dan pengadaan pakan.

Selanjutnya : Permukaan Tanah Turun

Halaman 1 dari 2

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00