Potret Banjir

Warga berjalan meniti tali saat banjir yang terjadi di kawasan Wijaya Timur, Petogogan, Jakarta, Sabtu (20/2/2021). Banjir yang terjadi akibat curah hujan tinggi serta drainase yang buruk membuat kawasan Petogogan banjir setinggi 1,5 meter. (ANTARA)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

KBRN, Jakarta: ‘’Bukan Jakarta kalau nggak banjir…’’ . Begitu celoteh sebagian warga Ibukota yang untuk kesekian kalinya kelelap direndam banjir rutin setiap musim basah.

Potret banjir Jakarta bukanlah satu-satunya. Berbagai kota besar di Indonesia tak cukup sakti melawan banjir. Kota Semarang minggu ini juga terendam hebat. Bandung, Solo, Jogja, Balikpapan, Makassar, tidak terjamin bebas banjir. Mungkin Surabaya yang paling lumayan nasibnya.

Kota Surabaya mewarisi anugerah besar yang menjauhkan dirinya dari banjir. Baik banjir domestik dalam kota, maupun kiriman dari hulu yang lebih terkendali dibandingkan Jakarta dan Semarang. Surabaya juga kebetulan memiliki sederet walikota Belanda sejak 21 Agustus 1916 yaitu A.Meijroos, kemudian digantikan Insinyur GJ Dijkerman, hingga WAH Fuchter yang jabatannya berakhir Februari 1942.  

Radjamin Nasution menjadi walikota Surabaya pertama, dan segera direbut Takashi Ichiro semasa pendudukan Jepang yang seumur jagung itu. Tepat 17 Agustus 1945 Ichiro kembali digantikan Radjamin. Tak lama kemudian orang Belanda lainnya CJG Becht mengambil alih dan memerintah hingga Desember 1945.   

Belanda sangat dikenal sebagai kiblat manajemen air. Sebagian daratannya berada di bawah permukaan air laut, tetapi nihil banjir. Tak heran tata-kelola air di Surabaya sudah terpikirkan jauh hari dan jauh pula ke hulu dan hilir. Kombinasi apik antara ‘sistem pematusan’ dan ‘irigasi’ yang berfungsi mengairi sawah, terbukti andal hingga hari ini.

Walikota Jepang satu-satunya, Takashi Ichiro mewariskan bagaimana mengendalikan sungai besar Kali Brantas yang melingkar di jantung Jawa Timur sejauh lebih 250 km.  Teknologi Jepanglah yang membangun bendungan besar Selorejo (Bendungan Ir. Soetami) di kawasan Pujon, Malang. Jepang pula yang mengatur Brantas dengan banyak katup pengendali banjir, termasuk membangun terowongan Neyama di Tulungagung selatan.  Terowongan ini membuang aliran Brantas ke Laut Selatan (Samudera Hindia) sebelum sungai merusak Blitar, Kediri, dan Kertosono.

Mendekati Surabaya, Kali Brantas juga terpecah menuju Porong dan Laut Jawa (Selat Madura). Dengan cara inilah arus besar Brantas berhasil diredam dan dijinakkan di bendungan Soetami; terowongan Neyama; dan Kali Porong. Arus tersisa yang lebih kecil di salurkan ke Kota Surabaya melalui Kali Surabaya.  Dan setelah melalui bendung Gunungsari dan Wonokromo, arus dialirkan ke Kalimas dan Kali Jagir yang mengalir di tengah kota Surabaya. Di kawasan Gubeng dibangun sebuah ‘pintu penghadang’ untuk mencegah pasang laut naik ke kota.

Tidaklah berlebihan jika manajemen Kali Brantas disebut yang terbaik di Indonesia di Asia dan bahkan di dunia. Bengawan Solo yang lebih panjang mengalir dari Wonogiri hingga Ujung Pangkah, Gresik, tak sebaik Brantas manajemennya. Itu sebabnya Bengawan Solo tetap menjadi ancaman bagi daerah-daerah mendekati hilir, seperti Bojonegoro, Lamongan, dan Gresik. Di beberapa tempat di Solo, Kertosono, dan Babat bahkan harus dibangun tanggul besar melindungi kota. Syahdan, setiap tahun Bengawan ini masih memperpanjang kisah pilu.

Selanjutnya : Ada Julukan ‘Walikota Got’

Halaman 1 dari 3

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00