Saat ‘Seroja Tak Berlalu’ di Adonara

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

KBRN, Jakarta: Sesuatu yang baru telah hadir dalam siklus iklim Nusantara. Seperti halnya kehidupan di darat yang kian mengglobal dan disruptif, langit di atas negeri kita juga sedang berubah. Dulu kita tak mengenal tornado seperti yang dahsyat tergambar di film ‘Twister’ (1996: Aksi para pemburu badai).

Kita paling-paling diusik oleh angin kencang, tiupan yang disebut puting beliung. Ada pula angin musiman dinamai angin ‘Gendhing’ di Probolinggo, atau angin ‘Kurima’ di Wamena. Semua angin ini adalah ‘produk lokal’ yang daya rusaknya terbatas. Jarang sekali ada korban manusia dibuatnya.

Kini pada era pemanasan global, saat temperatur suhu bumi kian meningkat dan es di kutub mencair, kita berkenalan dengan siklon tropis dan La Nina. Bahkan di beberapa tempat di Pulau Sumatera, pemandangan mirip tornado acapkali terlihat menyambangi.  

Masyarakat semula menganggap gejolak cuaca sebatas ala kadarnya. Tak tersirat rasa cemas berlebihan. Namun kini di abad milenial, informasi cuaca menjadi santapan sehari-hari yang penting. Cuaca telah memainkan peran menentukan terhadap kegiatan kelautan, kedirgantaraan, pertanian, bahkan pembangunan infrastruktur.

Dan yang terbaru adalah kehadiran Seroja, menyusul saudara kembarnya Cempaka yang menghantam Pacitan dan Jogjakarta 26 November-1 Desember 2017; . Esther (Sulawesi Selatan 18-20 Desember 1983); Kirrily (Maluku 17 April- 1 Mei 2009).  Satu lagi Dahlia, bertahan di Samudera India (26 November-4 Desember 2017.  Sementara itu nama-nama bunga lain bertaburan di samudra India selatan P.Jawa, antara lain Ilsa, Kay, Bonnie, Inigo, Alistair. Tak satupun yang mencapai daratan.

Nama Seroja sudah ada di daftar internasional. Apabila terjadi  siklon lagi di wilayah Indonesia selanjutnya dinamakan Teratai. Dampak siklon Seroja adalah potensi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat disertai kilat/petir serta angin kencang di wilayah NTT dan NTB. Sedangkan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat/petir serta angin kencang terjadi di wilayah Bali, Sulawesi Selatan, dan sebagian Sulawesi Tenggara.

 Gelombang laut hingga 2,5 meter terjadi di Selat Sumba bagian timur, Selat Sape, Laut Sumbawa, Perairan ara Sumbawa hingga Flores, Selat Wetar, Perairan Kep. Sabalana hingga Kep.Selayar, Perairan selatan Baubau - Kep.Wakatobi, Perairan Kep.Sermata - Leti, Laut Banda, Laut Arafuru bag. barat. Sedangkan gelombang yang lebih tinggi hingga 4 meter terjadi di Selat Sumba bagian barat, Laut Flores, Perairan selatan Flores, Perairan selatan P. Sumba, Selat Ombai. Gelombang laut hingga 6 meter saat itu berada  di Laut Sawu, Perairan P. Sawu, Perairan Kupang-P Rotte, dan Samudra Hindia selatan NTT.

Selanjutnya : Makin Sering Terjadi

Halaman 1 dari 4

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00