Saat ‘Seroja Tak Berlalu’ di Adonara

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Makin Sering Terjadi

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan munculnya Seroja membuktikan perubahan iklim global itu nyata adanya. Ini ditandai meningkatnya suhu udara dan muka air laut. Fenomena ini jarang terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia. Namun sejak sepuluh tahun terakhir, siklon tropis semakin sering terjadi. Bahkan pada 2017, dalam satu pekan bisa terjadi dua kali siklon tropis.

Seroja diawali peringatan dini BMKG pada 2 April, bibit siklon terbentuk saat suhu muka laut yang semakin hangat di wilayah Samudera Hindia mencapai 26,5 hingga 29 derajat celcius di atas rata-rata.

Kemudian suhu udara di lapisan atmosfer menengah juga semakin hangat lebih dari 7 derajat celcius. Ini meningkatkan kelembapan udara dan tekanan udara. Akibatnya terjadi aliran angin karena sifatnya siklonik, artinya ada pusat kemudian di kelilingi oleh suhu udara yang lebih dingin. Siklon itu masih terjadi hingga Selasa 6 April, selanjutnya pelan-pelan menjauh dan melemah.

Bibit siklon tropis Seroja terlihat sejak 2 April 2021. Hari Senin 5 April sejak pukul 01.00 tengah malam berubah menjadi siklon tropis karena kecepatan anginnya telah melewati 35 knot/jam yang merupakan ambang batas siklon. BMKG sendiri mendeteksi ada dua bibit siklon, yakni 90S di Samudera Hindia Selatan Lampung-Banten, dan 99S di sekitar NTT yang mulai terbentuk di sekitar Laut Sawu, NTT. Ternyata bibit 99S inilah yang menjadi penyebab cuaca ekstrem dan banjir bandang Adonara. Sedangkan  bibit 90S hanya memberikan dampak tidak langsung.

Peneliti Sains dan Teknologi Atmosfer LAPAN, Trismidianto, kepada tirto.id menjelaskan badai terjadi akibat perbedaan tekanan yang ekstrem dalam sirkulasi udara panas bertemu udara sangat dingin akan terjadi kondensasi. Proses kondensasi inilah yang membuat uap air akan mengeluarkan energi panas yang menjadi energi penggerak terjadinya angin kencang. Disebut badai bila pusaran anginnya sudah  mencapai kecepatan 119 km/jam. Kecepatan angin pun dibagi dalam lima kategori. Badai tertinggi kategori lima, disebut destruktif karena kecepatan anginnya lebih dari 252 km/jam.

Teori cuaca membuktikan bahwa tumbuh dan gerakan siklon tropis umumnya terjadi di atas lautan luas. Ia jarang sekali mencapai daratan seperti di Adonara. Siklon ini tumbuh akibat permukaan laut yang menghangat di atas 26 derajat celcius, dan baru melemah saat mendekati daratan. Logikanya wilayah NTT yang dikelilingi laut pun aman dari siklon tropis. NTT memang belum pernah mengalami bencana  sehebat minggu lalu, yang juga merenggut puluhan nyawa.

Selanjutnya : Badai Tidak Berlalu

Halaman 2 dari 4

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00