Badai Mematikan Kian Mengintai

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

KBRN, Jakarta: Siklon tropis lazimnya bergerak 10 derajat di utara garis khatulistiwa. Beberapa bibit siklon yang muncul mendekati Indonesia, umumnya juga berangsur pergi menjauh. Batas ekuator seolah menjadi garis majis (magic) yang meredam dan bahkan mengusir arah gerakan siklon, menjauhi Indonesia.

Tak heran negara –negara Asia di utara khatulistiwa paling sering terlanda topan besar. Bahkan kini intensitasnya cenderung bertambah banyak. Taiwan misalnya pada Agustus 2019,  badai tropis menewaskan dua orang. Pada bulan berikutnya topan berkekuatan rendah menyapu pantai timur laut. Pulau-pulau di Pasifik barat terhempas tiga sampai empat topan setiap tahun, dari Juni hingga Oktober. Korbannya 5 hingga 10 orang setiap peristiwa dan menghancurkan infrastruktur. Namun selama tiga tahun terakhir, Taiwan dan Filipina mendapatkan lebih banyak topan.

Dalam setahun Filipina bisa diterjang hingga 20 badai. Samudra Hindia dan di Pasifik lebih hangat dari biasanya dan pemanasan global mungkin ada hubungannya dengan itu, kata Jason Nicholls, ahli meteorologi senior di AccuWeather. Temperatur di Samudra Pasifik tengah dan timur telah memanas sejak 2017, menyebabkan topan terbentuk relatif jauh dari Taiwan dan Filipina. Tetapi angin  mendorong ke utara sehingga memengaruhi Jepang, Korea Selatan, dan Cina timur.

Badai paling mematikan di Asia yang terjadi pada setiap tahun, termasuk topan super 2013 yang menewaskan 6.340 orang, sering mencapai Filipina. Sebagian besar dari 21 topan di Asia pada 2019 telah mencapai Jepang, Korea Selatan dan Cina karena tren pergerakan ke utara. Siklon paling parah, Topan Hagibis, menewaskan 80 orang di Jepang timur pada awal Oktober 2020.

Laporan ilmiah lainnya mengatakan, suhu lautan akan membuat badai lebih kuat. Temperatur laut naik karena air menyerap panas dari peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, terutama akibat polusi bahan bakar fosil.

Selanjutnya : Langganan Tornado

Halaman 1 dari 3

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00