Bebas dari Belenggu Sekolah

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono
  • Apakah ada sekolah yang menyediakan ruang kebebasan kepada anak didiknya untuk berekspresi sesuai dengan bakat dan karakter dirinya?
  • Apakah ada sekolah yang tidak menggebyah-uyah (generalisasi, menyamaratakan) setiap pribadi siswa yang saling unik dan berbeda?
  • Apakah ada pula sekolah yang mengakomodasi berbagai strata sosial-ekonomi siswa dengan perlakuan yang adil dan setara?
  • Apakah ada sekolah yang mampu menyiapkan anak didik unggul di banyak bidang sekaligus?
  • Dan apakah mungkin pendidikan sejati dilakukan di luar tembok-tembok sekolah konvensional?   

KBRN, Jakarta: Sederet pertanyaan ‘’apakah…’’ ini masih bisa diperpanjang.

Sesudah kita terkaget-kaget dengan program baru Mendikbud Nabiel Makarim tentang ‘merdeka belajar’ , ada baiknya kita jenguk contoh sederhana praksis pendidikan di sebuah Sekolah Dasar Mangunan, di desa Berbah, Kab Sleman, DI Yogyakarta. Sekolah ini jauh dari kesan mentereng dan eksklusif. Pelatarannya tidak menyediakan lahan parkir mobil dan motor. Sepeda onthel pun hanya satu-dua tersandar di pagarnya. Banyak siswanya tak berseragam, bahkan tak beralas kaki. Padahal lokasinya di metropolitan Jogja.

Apa yang berbeda di sekolah ini adalah ‘pemberontakannya’. Bermula dari kegelisahan rohaniawan, Romo YB Mangunwijaya terhadap sosok pendidikan kita yang serba menyeragamkan saat itu. Romo Mangun yang dikenal berhasil menyulap kawasan kumuh Kali Code, membangun sekolah sendiri untuk anak-anak dengan nama SD Mangunan. Katanya,  sekarang tidak ada sekolah yang sejati. Yang ada hanya pabrik yang mengolah sumber daya manusia. Hasilnya, tidak ada anak yang sejati.

Itulah suasana sekitar tahun 90-an di saat kurikulum tahun 1994 yang identik dengan penyeragaman anak didik dan dehumanis. Selain itu sekolah-sekolah tidak mengakomodasi kaum miskin, sehingga Romo Mangun mengajak semua pihak yang berkemauan baik dalam bentuk SD Mangunan. Gerakan pembaharuan yang diinginkan Romo adalah melakukan evolusi, menggugah kesadaran lama yang ekploitatif-egoistik-hirarkis menuju ke kesadaran baru yang mencerdaskan, adil, dan makmur.

Selanjutnya : Bebas dari Belenggu

Halaman 1 dari 4

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00