Belajar ‘Merdeka Belajar’

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

KBRN, Jakarta: Sekitar tiga dasawarsa lalu pendidikan di Indonesia pernah termashur di Asia Tenggara. Beberapa negara tetangga khususnya Malaysia bahkan berguru kepada guru-guru Indonesia. Mereka mengimpor guru dan belajar langsung ke berbagai sekolah unggulan di sini.

Tapi lama kelamaan keadaan berbalik. Malaysia mampu merakit ilmu pengajaran Indonesia menjadi ramuan pedagogi baru yang lebih baik. Apalagi ditunjang sistem pendidikan negara-negara Persemakmuran protektorat Inggris yang sudah mapan, Malaysia mampu membangun sistem pendidikannya sendiri. Dan kini Indonesia berbalik menjadi muridnya.

Negeri pulau Singapura ternyata bergerak lebih sigap. Singapura dengan cepat menyalip semua negara di kawasan ini dan masuk ke jajaran negara terdepan di bidang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, sejajar dengan Jepang dan Korea Selatan.

Menyadari keteledoran ini Presiden Joko Widodo tak ingin tertinggal lebih jauh. Ia menginginkan sebuah sistem pendidikan yang khas Indonesia. Sebuah pendidikan inklusif dan berkualitas yang merata dan meluas hingga ke pelosok terpencil. Dan menurut Menteri Pendidikan dan Riset, Nabiel Makarim, lebih 12.000 pulau itu bisa dijangkau dengan teknologi informasi. Masa pandemi justru menghadirkan momentum membangun jejaring, di saat anak didik dan para guru jarang bertatap-muka.

Belajar  tidak harus di ruang kelas. Juga tidak semata-mata bergantung kepada guru, melainkan siswa bisa belajar dengan alam dan kehidupan nyata sehari-hari. Interaksi siswa dengan pengalaman empirik ini akan menciptakan kearifan sosial. Pihak swasta, korporasi, atau BUMN/D juga bisa mengambil peran melatih dan memberikan bekal tambahan, agar siswa kompatibel dengan kebutuhan industri dan pengembangan pengetahuan lainnya.

Nabiel, yang dipanggil Presiden dengan ‘’Mas Menteri”, akan memacu sekolah-sekolah dikelola secara atmosfer digital. Para guru dan siswa dibebaskan menciptakan pola pengajaran yang kreatif dan relevan dengan lingkungan dan budaya Indonesia yang amat beragam. Ada isyarat kurikulum nasional bukan harga mati dan berlaku rigid secara nasional. Sekolah terbuka melakukan berbagai inovasi.  Ini semua membutuhkan kapasitas dan kompetensi lebih, dari para pemimpin sekolah berikut para pengajarnya.  

Selanjutnya : Guru Tak Tergantikan

Halaman 1 dari 3

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00