Misteri 20 Detik

sriwijaya

Deskripsi Infografis

  •   Diposting oleh : Andi Permadi
  •   Tanggal : 10 Jan 2021

Setiap tragedi jatuhnya pesawat udara pasti menyisakan misteri penyebab celaka hingga dibukanya kotak hitam dari bangkai pesawat. 

Misteri yang sama juga meliputi kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak dengan kode penerbangan SJY 182 pada Sabtu lalu (9/1/2021). 

Pesawat berusia 26 tahun ini hilang kontak setelah empat menit tinggal landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Pontianak, Kalimantan Barat. 

Catatan yang dirangkum oleh tim redaksi RRI.co.id menyebutkan paling tidak misteri jatuhnya pesawat Boeing 737-500 ini ada pada 20 detik terakhir setelah kehilangan kontak pada 14.40 WIB.

Pada waktu tersebut, pesawat mulai kehilangan kontak, turun perlahan dari ketinggian, melandai, lantas tiba-tiba dengan cepat menukik mencapai ketinggian rendah.

Keanehan perilaku pesawat mulai terlihat setelah pukul 14:40:05 WIB. 

Kala itu ketinggian pesawat adalah 10.900 feet dengan kecepatan 287 knot atau 530,9 Km/jam. 

Ketinggian dan kecepatan ini sudah dicapai tiga detik sebelumnya.  Pada pukul 14:40:09 WIB, ketinggiannya menurun ke 10.725 feet dengan kecepatan masih sama. 

Penurunan ketinggian berlanjut ke posisi 8.950 feet dan kecepatan mulai turun ke 224 knot, lalu turun lagi ke 8.125 feet dan kecepatan 192 knot.  

Pesawat seperti kehilangan tenaga. Kondisi pesawat seolah tanpa tenaga ini terus berlanjut hingga ketinggian 5.400 feet dan kecepatan mencapai 115 feet.  Beberapa detik kemudian, pada pukul 14.40:27, pesawat terindikasi stall. 

Pada kasus-kasus insiden penerbangan yang melibatkan stall, moncong pesawat mengangkat ke atas bahkan bisa tegak lurus ke atas. Puncaknya adalah ketika ketinggian pesawat terpantau radar tinggal 250 meter tetapi kecepatannya melejit hingga ke 359 knot. 

Sudah pasti ada yang tak beres dengan pesawat ini karena regulasi penerbangan mengatur pesawat pada ketinggian di bawah 10.000 feet tidak boleh memacu kecepatan di atas 250 knot. 

Artinya, ketika ketinggian berkurang dari 10.000 feet, kecepatan pun harus diturunkan. Pesawat ini sendiri diyakini dalam kondisi prima ketika meninggalkan bandara Cengkareng menuju Pontianak pada Sabtu lalu. 

Meski pesawat ini tergolong sebagai Boeing klasik, tercatat terbang perdana 13 Mei 1994, namun kelaikan terbangnya masih mumpuni. Beberapa catatan sebelum penerbangan pun tidak menorehkan bukti cacat pada pesawat. 

Pada hari itu pukul 13.24 WIB pesawat ini sempat mengalami delay di bandara selama satu jam karena cuaca buruk. 

Namun pesawat berhasil take off dari landas pacu pada pukul 14.36 WIB. Menara pengatur lalu lintas penerbangan (ATC) mencatat pada Pukul 14.37 WIB pesawat melewati ketinggian 1.700 kaki dan melakukan kontak dengan Jakarta approach. 

Lalu mereka meminta izin menambah ketinggian menuju ketinggian jelajah 29.000 feet Pada 14.39 WIB pesawat jatuh dari ketinggian 10.000 kaki. 

Sedetik kemudian, pukul 14.40 WIB, menara pengatur lalu lintas penerbangan (ATC) Jakarta melihat arah penerbangan pesawat bukan 0.75 derajat mengarah ke barat laut, seharusnya bila menuju Pontianak.  Menurut data penerbangan, pesawat tiba-tiba jatuh dari ketinggian 10.000 kaki ke permukaan laut dalam waktu sekitar 60 detik. 

Tingkat penurunan puncaknya tercatat pada -30.730 kaki per menit. 

Komunikasi pun lantas terputus dan hilang dari radar.  Pesawat ini mengangkut 43 penumpang dewasa, 7 penumpang anak, 3 penumpang bayi, dan 12 kru pesawat. 

Rinciannya, enam orang kru aktif dan enam orang extra crew yang duduk di kursi penumpang.  Harapan memecah misteri musibah ini cukup besar. 

Apalagi posisi pesawat terdeteksi di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, yang tergolong dangkal, yakni 20-23 meter. 

Hanya saja tim gabungan penyelamat harus berhadapan dengan lumpur, cuaca, dan arus bawah laut.  Tim SAR Gabungan telah mendeteksi lokasi kotak hitam (black box) pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di sekitar area pencarian di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (10/1/2021) sore. 

Kotak hitam itu terdeteksi di kedalaman 17-20 meter perairan itu. 

Semoga temuan ini menjadi awal titik terang untuk menjawab misteri sekaligus menambal duka keluarga korban.

Komentar

00:00:00 / 00:00:00