FOKUS: #KUDETA MILITER MYANMAR

Belasan Jurnalis Myanmar Masuk Daftar Dicari Militer

(RSF)
(RSF)

KBRN, Paris: Belasan jurnalis Myanmar masuk dalam daftar orang paling dicari oleh junta militer, berdasarkan informasi yang diungkap Reporters Without Borders (RSF).

RSF menyerukan kepada komunitas internasional agar bereaksi terhadap upaya militer Myanmar terbaru yang memaksakan kendali penuh atas berita dan informasi, yang dalam dua minggu terakhir sudah menerbitkan daftar jurnalis-jurnalis yang dicari serta penangkapan jurnalis yang lebih sewenang-wenang.

"Di tengah protes yang terus berlanjut terhadap kudeta 1 Februari, militer mengambil tindakan keras mereka ke tingkat yang baru pada tanggal 4 April ketika mereka mulai menerbitkan daftar jurnalis yang dicari karena memberikan informasi tentang protes pro-demokrasi, bersama dengan tokoh-tokoh terkenal yang dicari yang secara terbuka menyuarakan dukungan untuk protes," bunyi pernyataan yang dikutip dari RSF, Rabu (21/4/2021)

Daftar terbaru dari "Mereka yang menyebarkan berita untuk mempengaruhi stabilitas negara" disiarkan setiap malam di program berita TV dan diterbitkan di media cetak. Mereka disebutkan "didakwa berdasarkan Bab 505 A" dari hukum pidana, yang menghukum penyebaran informasi yang bertentangan dengan kepentingan angkatan bersenjata dan diancam hukuman penjara tiga tahun.

"Setidaknya 19 jurnalis telah disebutkan. Mereka termasuk Mratt Kyaw Thu, seorang pekerja lepas terkenal yang baru-baru ini memberi tahu RSF tentang ancaman terhadap jurnalis sejak kudeta, Frontier Myanmar dan kolumnis VOA Sithu Aung Myint dan penyiar TV DVB Ye Wint Thu," tambah pernyataan tersebut.

Dua jurnalis ditambahkan ke daftar pada 17 April: Soe Zaya Tun dari Reuters dan freelancer Lumin Thuang Tun. Nay Zaw Naing dari Democratic Voice of Burma dan pekerja lepas Htoo Kyaw Win telah ditambahkan tiga hari sebelumnya. Bersama dengan pengumuman nama mereka, pihak berwenang mengungkap pula detail akun Facebook, foto profil, dan alamat.

Selain jurnalis, daftar tersebut juga mencakup sejumlah aktor dan penyanyi terkenal serta tokoh media sosial, yang harus bersembunyi atau melarikan diri dari negara untuk menghindari penangkapan. Salah satu jurnalis yang dicari oleh militer, editor Myanmar Post Zin Thaw Naing, tidak seberuntung itu. Dia ditangkap pada 5 April.

"Setelah menargetkan jurnalis yang meliput protes, militer telah melangkah lebih jauh dan sekarang dengan berani menangkap siapa pun dari dunia media dan siapa pun yang berani menentang propaganda yang mereka coba tunjukkan kepada publik," kata juru bicara RSF Pauline Adès-Mével. 

“Sudah saatnya masyarakat internasional bereaksi. Otoritas militer harus berhenti melanggar kebebasan pers dalam upaya untuk menyembunyikan pelanggaran terburuk mereka terhadap warga sipil dari dunia," tambahnya lagi.

Wartawan terakhir yang ditangkap adalah pekerja lepas Jepang Yuki Kitazumi, yang ditangkap 18 April dan dibawa melalui kantor polisi ke penjara Insein, yang terkenal pernah digunakan untuk memenjarakan tokoh media.

Mantan jurnalis juga masuk dalam persekusi junta militer. Meskipun telah berhenti bekerja setelah kudeta, Thin Thin Aung, salah satu pendiri kantor berita Mizzima, dan salah satu mantan karyawannya, James Phu Thoure, ditangkap pada 8 Maret dan sejak itu ditahan meskipun tidak ada dakwaan yang diajukan atas mereka.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00