Rusia-Tiongkok Serius Tanggapi AUKUS

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, dalam momentum pembentukan kerja sama trilateral bersama Inggris dan Australia dengan nama AUKUS pekan lalu. Hingga kini, hal itu masih menuai berbagai tanggapan dari sejumlah negara. Pasalnya, dalam kemitraan itu juga disepakati adanya transfer teknologi untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir bagi Australia oleh Amerika dan Inggris (Dok. Istimewa)

KBRN, Jakarta: Pembentukan kerja sama trilateral antara Amerika Serikat, Inggris dan Australia dengan nama AUKUS pekan lalu, masih menuai berbagai tanggapan dari sejumlah negara.

Pasalnya, dalam kemitraan itu juga disepakati adanya transfer teknologi untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir bagi Australia oleh Amerika dan Inggris.

Rusia melalui Duta Besarnya di Jakarta, Lyudmila Vorobieva, mengatakan, pembentukan AUKUS dipandang sebagai sebuah organisasi eksklusif, yang tidak mengarah pada penguatan stabilitas dan perdamaian di Asia Pasifik.

“Karena, ini bukan organisasi atau struktur inklusif yang dapat diikuti oleh semua negara. Ini semacam klub eksklusif atau hanya beberapa negara dan tentu saja struktur semacam ini tidak membawa perdamaian dan keamanan di kawasan ini,” ujar Vorobieva dalam pengarahan pers, seperti dikutip RRI.co.id, Rabu (22/09/2021).

Adanya proses transfer teknologi pembuatan kapal selam bertenaga nuklir dalam AUKUS, Rusia berharap Australia akan mempertimbangkan aspek risiko terkait proliferasi.

“Aspek lainnya adalah rezim non-proliferasi. Kami melanjutkan dari perjanjian tenaga non nuklir dan perasaan penuh dengan itikad baik, bahwa nuklir bukanlah perjanjian proliferasi. Australia, akan menghormati komitmennya dan dokumen-dokumen ini. Serta, perjanjian penjaga yang aman badan energi atom internasional bersama dengan protokol ini. Kami berharap Canberra memastikan tingkat kerjasama yang diperlukan dengan agensi untuk mengatasi risiko terkait proliferasi,” paparnya.

Menurut Vorobiera pembentukan kerja sama trilateral AUKUS dipandang tidak sejalan dengan cita-cita dan “Sentralitas ASEAN”, yaitu agar kawasan Asia Tenggara bebas dari senjata nuklir.

“Kita tahu tentang pendirian negara-negara ASEAN dan keinginan mereka untuk melihat Asia Tenggara bebas dari senjata nuklir. Tentu saja pembentukan kemitraan ini tidak akan membantu untuk memastikan Sentralitas ASEAN dengan urusan regional,” terangnya.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian menyatakan, ekspor teknologi kapal selam bertenaga nuklir oleh Amerika dan Inggris, merupakan standar ganda serta tidak bertanggung jawab.

“Tingginya rasa untuk mengekspor teknologi kapal selam bertenaga nuklir oleh Amerika dan Inggris ke Australia, menunjukkan sekali lagi mereka akan menggunakan ekspor nuklir sebagai bagian dari permainan geopolitik. Ini standar ganda dan sangat tidak bertanggung jawab,” ujar Lijian.

Dalam Debat Umum di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) ke-76, Selasa (21/09/2021), Presiden Joe Biden mengatakan, Amerika akan membela sekutu dan menentang dominasi negara-negara kuat terhadap negara-negara yang lebih lemah.

“Amerika Serikat akan bersaing dan akan bersaing dengan penuh semangat serta meninggalkan nilai-nilai dan kekuatan kita. Akan membela sekutu dan teman-teman kita serta menentang upaya negara-negara yang lebih kuat telah mendominasi negara-negara yang lebih lemah. Baik melalui perubahan wilayah dengan kekuatan, paksaan ekonomi, eksploitasi teknis atau disinformasi,” tegas Biden di hari pertama Debat Umum.

Presiden Amerika ke-46 itu turut memastikan, berbagai komitmen untuk berdiri bersama para sekutu bukan sebagai upaya untuk memulai perang dingin.

“Tapi, kami tidak berusaha, saya mengatakannya lagi kami tidak mencari perang dingin baru atau dunia yang terbelah dalam balok-balok kaku,” ucap Biden.

Kemitraan AUKUS diumumkan oleh ketiga pemimpin negara pada Selasa (14/09/2021) secara daring.

Adanya pakta pembangunan kapal selam bertenaga nuklir bagi Australia, artinya untuk pertama kalinya Amerika Serikat melalukan hal itu dalam 60 tahun terakhir.

Setelah, hal serupa dilakukan Amerika kepada Inggris.

Walau tidak menyebut Tiongkok secara langsung, namun ketiga pemimpin negara berulang kali merujuk pada masalah keamanan regional yang disebutkan “tumbuh secara signifikan”.

Bagi Amerika Serikat, Inggris dan Australia, kemitraan AUKUS merupakan kesempatan bersejarah bagi tiga negara, dengan sekutu dan mitra yang berpikiran sama.

Yaitu, untuk melindungi nilai-nilai bersama dan mempromosikan keamanan dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik.

Sementara, pasca penandatanganan pakta AUKUS untuk pembangunan kapal selam bertenaga nuklir, Paris marah kepada Australia sebab menarik keluar dari kontrak besar dengan Prancis dalam prosesnya. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00