Menlu RI Dorong Vaksinasi untuk Afghanistan-Rohingya

KBRN, Jakarta: Pekan Pertemuan Tingkat Tinggi pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) ke-76 yang telah dimulai awal pekan ini, juga dirangkaikan dengan sejumlah pertemuan tambahan, seperti Pertemuan Menlu G20 dan Even Tingkat Tinggi mengenai Krisis Rohingya.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang hadir langsung ke Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat dalam dua pertemuan itu menitikberatkan perlunya pemberian bantuan vaksin COVID-19 bagi rakyat Afghanistan dan pengungsi Rohingya.

“Dunia internasional harus dapat membantu rakyat Afghanistan menghadapi COVID-19 dengan mempercepat vaksinasi melalui mekanisme dose-sharing dan memenuhi kebutuhan dasar rakyat Afghanistan,” ungkap Retno Marsudi dalam pengarahan pers Kamis (23/09/2021) secara daring.

Menlu RI mengatakan, bantuan vaksinasi merupakan salah satu kebutuhan mendesak di Afghanistan, yang bisa diberikan melalui mekanisme berbagi dosis.

Retno menekankan, bantuan untuk rakyat Afghanistan itu harus tepat sasaran.

“Semua bantuan internasional tentu harus menargetkan rakyat Afghanistan yang memerlukan. Pendekatan pembangunan harus menjadi bagian dari strategi nation-building di Afghanistan,” tegasnya.

Menlu RI mendorong agar negara-negara G20 ikut berkontribusi mengatasi krisis kemanusiaan yang terjadi di Afghanistan.

“Saya tekankan keselamatan dan wellbeing rakyat Afghanistan adalah prioritas utama,” jelas Retno Marsudi.

Perhatian Indonesia akan pentingnya pemberian bantuan vaksin COVID-19, juga tertuju bagi para pengungsi Rohingya di Cox’s Bazaar, Bangladesh.

“Kondisi pengungsi Rohingya sangat mengkhawatirkan terlebih di masa pandemi ini. Situasi di Cox’s Bazaar sangat rentan terpapar virus COVID dan tingkat vaksinasi masih rendah,” ungkap Menlu Retno dalam pertemuan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Bangladesh.

Menlu RI menyebut, penyaluran bantuan vaksinasi hingga peralatan kesehatan untuk penanganan COVID-19, perlu segera dilakukan bagi para pengungsi.

“Untuk itu, vaksinasi, alat kesehatan dan obat-obatan harus disalurkan ke Cox’s Bazaar. Masyarakat Internasional harus bekerja sama untuk pastikan pengungsi Rohingya dapat segera memperoleh akses vaksin,” tambahnya.

Di bagian lain Menlu Retno Marsudi secara khusus menekankan pentingnya masyarakat internasional, membantu menciptakan kondisi yang mendukung bagi kembalinya pengungsi Rohingnya ke Myanmar.

“Dalam konteks inilah, saya menekankan pentingnya segera diselesaikan krisis politik yang saat ini terjadi di Myanmar, antara lain melalui implementasi Five Points of Consensus,” terang Retno lagi.

Fokus mengenai distribusi vaksin dalam penanganan COVID-19 yang dinilai Indonesia masih dihadapkan dengan adanya diskriminasi, juga disampaikan Presiden Joko Widodo di dalam pidatonya di Debat Umum SMU PBB ke-76.

Presiden Joko Widodo mengatakan masih adanya diskriminasi dalam distribusi vaksin COVID-19, sehingga membuat penanganan COVID-19 terhambat.

"Kapasitas dan kecepatan antar negara dalam menangani COVID-19 termasuk dalam vaksinasi, sangat berbeda. Politisasi dan diskriminasi terhadap vaksin terus berlangsung. Kita harus menyelesaikan masalah ini dengan langkah-langkah konkret," kata Jokowi.

Sementara, terkait kondisi Afghanistan, Indonesia mengharapkan sejumlah hal dapat terealisasi.

Meski, terdapat kekhawatiran terhadap kemajuan yang selama ini telah dicapai di Afghanistan dapat mengalami kemunduran, termasuk di bidang pembangunan dan pemberdayaan perempuan.

“Saya tekankan masyarakat internasional harus bersatu menyampaikan harapan yang sama yaitu, terbentuknya pemerintahan inklusif di Afghanistan, penghormatan HAM, khususnya hak-hak perempuan, dan memastikan agar wilayah Afghanistan tidak dijadikan breeding dan training ground untuk kegiatan terorisme,” tutup Menlu RI. (Foto: Kemlu RI)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00