ICRC Soroti Kemiskinan Melalui Bali Democracy Forum

Bali Democracy Forum (BDF) ke -14 dimulai Kamis (09/12/2021), secara campuran di Nusa Dua, Bali. Selain perwakilan negara-negara sahabat, forum yang digelar oleh Kementerian Luar Negeri RI itu turut mengundang organisasi internasional. Wakil Presiden Komite Palang Merah Internasional (ICRC) Gilles Carbonnier, menjadi salah satu perwakilan organisasi internasional yang akan hadir dalam sesi panel BDF. Carbonnier menyebut, pihaknya akan menyampaikan isu mengenai kemiskinan yang diakibatkan pandemi COVID-19. (Dok. ICRC)

KBRN, Jakarta: Bali Democracy Forum (BDF) ke -14 dimulai Kamis (09/12/2021), secara campuran di Nusa Dua, Bali.

Selain perwakilan negara-negara sahabat, forum yang digelar oleh Kementerian Luar Negeri RI itu turut mengundang organisasi internasional.

Wakil Presiden Komite Palang Merah Internasional (ICRC) Gilles Carbonnier, menjadi salah satu perwakilan organisasi internasional yang akan hadir dalam sesi panel BDF.

Carbonnier menyebut, pihaknya akan menyampaikan isu mengenai kemiskinan yang diakibatkan pandemi COVID-19.

“Karena, kami melihat dengan adanya COVID-19 jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan meningkat secara besar-besaran. Kami melihat peningkatan orang tidak cukup makan, menjadi rawan pangan,” ujar Carbonnier ketika dikonfirmasi RRI.co.id, Rabu (08/12/2021) di Jakarta.

Dikatakan Gilles, seluruh peserta termasuk pemangku kepentingan yang hadir dalam BDF ke – 14, bisa memberikan sumbangsih ide dalam melakukan aksi kemanusiaan mengatasi kemiskinan yang diakibatkan pandemi.

“Saya pikir salah satu tantangan hari ini adalah bagaimana bangkit kembali dari pandemi, terutama dampak sosial dan ekonomi dari pandemi COVID-19 dan bagaimana mengurangi meningkatnya tingkat orang menjadi sangat miskin. Dan, orang-orang bahkan tidak memiliki cukup makanan,” terang Wapres ICRC.

“Jadi, menurut saya dalam panel ini ada beberapa ide segar yang pasti akan muncul. Saya akan membawa beberapa ide bagaimana kita berinovasi dalam melakukan aksi kemanusiaan. Untuk mendapatkan lebih banyak dampak melalui sarana yang terbatas, kita harus mencoba memenuhi kebutuhan populasi yang paling rentan,” tambahnya.

Kemiskinan yang terjadi di belahan dunia bahkan menjadi buruk, dengan adanya konflik bersenjata dan kekerasan bersenjata.

“Kami menyaksikan kombinasi dari banyak tempat, di mana Anda mengalami kekerasan bersenjata dan konflik bersenjata yang dilanda pandemi. Dan, juga terkena dampak perubahan iklim membuat sangat sulit bagi yang paling rentan untuk mempertahankan mata pencaharian mereka. Jadi itu mendesak. Sangat mendesak untuk membawa solusi. Sangat mendesak untuk menanggapi kebutuhan yang meningkat banyak akhir-akhir ini,” tegas Gilles.

Dikatakan, Gilles secara khusus menilai tepat penyelenggaraan BDF memberikan ruang kepada para pihak, untuk bisa berkontribusi menyampaikan berbagai ide untuk penanganan kemiskinan.

“Pengorganisasian forum oleh Kementerian Luar Negeri menekankan pada masalah kritis hari ini dan membawa para pemangku kepentingan untuk mendiskusikan apa yang harus dilakukan secara konkret dan praktis. Untuk memperbaiki situasi mulai dari tingkat kebijakan hingga tingkat operasional,” pungkasnya.

Tahun ini BDF mengusung tema “Democracy for Humanity: Advancing Economic and Social Justice during the Pandemic”.

Sebanyak 50 perwakilan negara dan organisasi internasional diundang untuk menghadiri BDF ke – 14 secara fisik, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Sebagian besar adalah perwakilan negara-negara Asia Pasifik, yang merupakan kawasan esensial bagi penyelenggaraan BDF. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar