FOKUS: #TANGGAP BENCANA

Indonesia 'Skakmat' Narasi Palsu Karhutla David Gaveau

Foto Ilustrasi Karhutla / Pemerintah Indonesia menegaskan penelitian yang dilakukan terkait kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia harus betul-betul berdasarkan data, bukan narasi palsu belaka. Hal ini mengacu pada artikel di The Conversation yang ditulis oleh David Gaveau pada 17 Desember 2021 (https://theconversation.com/alternative-data-setting-the-record-straight-on-the-scale-of-indonesias-2019- fires-173593) yang menyebutkan tentang peristiwa yang terjadi dua tahun sebelumnya. Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri (KLN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dida Migfar Ridha, menjelaskan, persoalan ini dimulai saat David Gaveau menerbitkan laporan yang keliru sesaat sebelum COP25. (Foto: Dok. Antara)

KBRN, Jakarta: Pemerintah Indonesia menegaskan penelitian yang dilakukan terkait kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia harus betul-betul berdasarkan data, bukan narasi palsu belaka.

Hal ini mengacu pada artikel di The Conversation yang ditulis oleh David Gaveau pada 17 Desember 2021 (https://theconversation.com/alternative-data-setting-the-record-straight-on-the-scale-of-indonesias-2019- fires-173593) yang menyebutkan tentang peristiwa yang terjadi dua tahun sebelumnya.

Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri (KLN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dida Migfar Ridha, menjelaskan, persoalan ini dimulai saat David Gaveau menerbitkan laporan yang keliru sesaat sebelum COP25.

"Jika dilihat dari waktunya, jelas dimaksudkan untuk melemahkan kredibilitas upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah deforestasi dan kebakaran hutan dan lahan," kata Dida melalui keterangan resmi yang dikutip RRI.co.id, Senin (17/01/2022).

Setelah publikasi laporan ini, NGO yang menaungi David Gaveau, menyatakan telah menyesali waktu dan terjadi salah langkah dalam mempublikasikan analisis kebakaran tahun ini secara prematur.

CIFOR juga menyatakan penelitian yang dimaksud belum mematuhi proses yang disebut “pengawasan normal dari proses peer-review yang dilakukan oleh jurnal ilmiah”, dan “bahwa kerusakan hutan primer sangat rendah” di Indonesia.

Terkait hal ini, Dida menyampaikan agar dalam mengatasi tantangan terhadap lingkungan, penting untuk membedakan antara narasi palsu dan penelitian berbasis sains.

"Pemerintah Indonesia dengan hormat menyarankan agar David Gaveau mencari panduan tentang praktik terbaik di bidang ilmiah," tegasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar