Setahun Taliban Berkuasa di Afghanistan: Bertahan Meski Suram

Tidak sedikit warga Afghanistan memilih bertahan setelah Taliban kembali berkuasa. Mereka berharap ada perubahan, meski sampai sekarang belum merasakannya. (Foto: asianews.it)

KBRN, Kabul: Seorang hakim dan profesor mengatakan mereka memutuskan tetap tinggal, meski ada ancaman dan kondisi buruk. Misinya tidak lain untuk membantu warga Afghanistan lainnya.

Mina Alimi, bukan nama sebenarnya, tidak pernah meninggalkan Kabul, tempat dia dilahirkan. Dia tidak pergi, bahkan selama perang, termasuk saat Taliban kembali berkuasa.

Rekan-rekannya memilih melarikan diri karena takut terhadap rezim baru rasa lama itu. Mina Alimi adalah satu di antara 270 hakim perempuan yang dimiliki Afghanistan.

Namanya sengaja dikaburkan, karena secara nyata masih ada ancaman. Identitasnya harus ditutup rapat, seperti laporan yang ditulis Al Jazeera ini.

"Saya punya banyak kesempatan untuk meninggalkan Afghanistan. Namun itu berarti harus meninggalkan orangtua, ipar, dan saudara lain yang telah lanjut usia. Mereka adalah pendukung kehidupan saya," tutur Mina Alimi.

"Mereka punya risiko yang sama besar, karena profesi saya sebagai hakim. Jadi bagaimana saya bisa membiarkan mereka dalam kekuasaan Taliban? Termasuk para penjahat yang telah mereka bebaskan," Mina Alimi, menambahkan dalam reportase Al Jazeera.

Ancaman dan serangan bersenjata bukan hal yang aneh dalam pekerjaannya. Pada tahun sebelum pengambilalihan, beberapa hakim perempuan jadi sasaran percobaan pembunuhan. 

Mina Alimi juga menerima ancaman dari Taliban dan kelompok bersenjata lainnya. Namun dia mengabaikannya karena yakin dan teguh terhadap aturan hukum.

"Mereka Mencari Saya"

Ketika pasukan Taliban berbaris memasuki kota-kota di Afghanistan pada Agustus tahun lalu, mereka mulai membebaskan tahanan dari penjara. Beberapa dari mereka adalah penjahat yang telah divonis bersalah oleh Mina Alimi.

"Saya bekerja di pengadilan divisi kriminal dan menjadi bagian dari persidangan yang menghukum banyak pejuang Taliban. Tentu saja dengan penjahat lainnya," ujar Mina Alimi.

"Nama saya adalah bagian dari vonis resmi yang menempatkan banyak pemberontak berbahaya ke balik jeruji besi. Sejak mereka dibebaskan, saya selalu dicari-cari," dia mengungkapkan.

Situasi itu membuatnya terbayang apa yang akan dialami, baik dirinya sendiri maupun keluarga. Maka bersembunyi adalah pilihan terbaik, sampai sejauh ini.

Di Afghanistan telah terjadi eksodus hampir setengah juta orang sejak Taliban mengambil-alih. PBB mengungkapkan ada sebanyak 2,6 juta pencari suaka dari Afghanistan ke berbagai negara.

Sementara Mina Alimi tetap tinggal untuk melindungi keluarganya. Harapannya adalah membangun kembali kehidupan yang lebih baik, setelah perang usai.

Marzia, 52 tahun, yang juga nama samaran, punya nasib serupa dengan Mina Alimi. Wanita dengan gelar profesor itu bertahan di Afghanistan bersama murid-muridnya.

"Saya memiliki banyak harapan untuk generasi berikutnya. Para pemuda yang kami didik, akan mengambil peran di Afghanistan," kata Marzia.

Ketika Taliban datang lagi, Marzia mengungkapkan punya banyak kesempatan untuk pergi. Namun itu tidak dilakukannya.

"Negara telah berinvestasi banyak buat saya. Jadi saya tumbuh, mendidik, dan bekerja di sini. Tidak bisa saya tinggalkan semua ini begitu saja," Marzia, menuturkan.

"Situasinya Menyedihkan"

Setelah menghabiskan satu tahun terakhir hidup di bawah rezim Taliban, Mina Alimi dan Marzia sama-sama mengungkapkan kekecewaannya. Bahkan kekecewaan yang luar biasa.

Marzia punya harapan meski pemerintah dan ekonominya runtuh, berakhirnya perang berarti terhentinya pula kekerasan serta pertumpahan darah. Hal itu diharapkan bisa memberi stabilitas bagi warga Afghanistan untuk bangkit. "Tapi situasinya menyedihkan," ucap Marzia.

Dia mengatakan keluarganya sangat terpukul oleh krisis ekonomi. Begitu berat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Orang-orang kelaparan dan Taliban malah menghentikan saya karena alasan pakaian tidak sesuai aturan. Atau jika saya pergi tidak bersama mahram. Ini menyebalkan," katanya.

Fakta lainnya adalah universitas menyuruhnya mengeluarkan siswa dari kelas, jika memakai pakaian dengan warna-warna cerah. "Bagaimana pemerintah ini?" ujarnya, bertanya.

Mina Alimi juga menyayangkan absennya perempuan dari badan peradilan. Padahal kebutuhan hakim wanita terbilang nyata.

"Kami mengawasi begitu banyak kasus, misalnya kekerasan terhadap perempuan atau masalah rumah tangga. Semua itu tidak bisa ditangani secara biasa, karena dalam masyarakat konservatif seperti Afghanistan, perempuan tidak merasa aman mendekati hakim laki-laki," ujar Mina Alimi.

Semua fakta itu membuka pikiran mereka, bagaimana dengan masa depan Afghanistan? Apakah akan seperti ini terus? Atau bisa melangkah lebih jauh, mengikuti perkembangan zaman.

Namun Mina dan Marzia tidak pernah menyesali keputusannya bertahan di negeri selimut debu ini. Sebab mereka mencintai Afghanistan apa adanya. Baik dulu, sekarang, atau nanti.*

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar