Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Paparkan Strategi Keamanan Berbasis Poros Maritim Dunia

KBRN, Makassar : Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Laksamana Madya TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro, S.Sos, S.H, M.H, M.Tr. Opsla (Magister Terapan Strategi Operasi Laut) memaparkan “Strategi Keamanan Nasional dalam Rangka Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia” dalam kuliah umum di Universitas Hasanuddin. 

Kuliah umum berlangsung mulai pukul 10.30 Wita secara luring terbatas dengan penerapan protokol Covid-19 di Ruang Senat Akademik, Lt. 2 Gedung Rektorat, Kampus Tamalanrea. Acara juga terhubung secara virtual secara langsung melalui kanal Youtube Universitas Hasanuddin, Kamis (23/09). 

Dalam pemaparannya, Laksdya TNI Harjo Susmoro menjelaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kuat sebagai negara dengan kepulauan terbesar di dunia. Berdasarkan letak geografisnya, Indonesia berada di antara Benua Asia dan Australia serta di antara Samudera Hindia dan Pasifik. Sehingga wilayah Indonesia berada pada posisi silang yang memiliki arti penting dalam iklim dan perekonomian.

“Dari 9 titik strategis di dunia, terdapat 4 selat yang menjadi jalur transportasi dan perdagangan dunia yang berada pada wilayah kedaulatan Indonesia, yakni Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar,” jelas Laksdya TNI Harjo.

Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dengan cakupan wilayah bagian daratan dan lautan. Letak posisi yang strategis ini berpengaruh pada berbagai hal, mulai dari kegiatan ekonomi, seperti jalur lintas perdagangan, kekayaan alam, seperti tanah yang subur, hingga keberagaman budaya.

Lebih lanjut, dalam materinya Laksdya TNI Harjo Susmoro manuturkan bahwa dalam catatan sejarah terekam bukti-bukti bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah menguasai lautan Nusantara, bahkan mampu mengarungi samudera luas hingga ke pesisir Madagaskar dan Afrika Selatan.

“Kebesaran maritim Indonesia tercatat terjadi pada masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 sampai abad ke-13 Masehi yang pada saat itu pengendaliaan jalur perdagangan internasional melintasi selat Malaka dan di masa Kerajaan Majapahit di abad ke-13 hingga ke-15 Masehi yang menggunakan pasukan ekspedisi untuk menguasai wilayah lautan,” tambah Laksdya TNI Harjo.

Sementara itu, dalam upaya mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, pemerintah telah menetapkan lima pilar Indonesia, yakni (1) membangun kembali budaya maritim, (2) menjaga dan mengelola sumber daya laut, (3) prioritas pada pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim, (4) diplomasi maritim, dan (5) kewajiban untuk membangun kekuatan maritim.

Setelah memberikan pemaparannya, kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta yang didominasi oleh jajaran pimpinan maupun sivitas akademika Unhas secara aktif memberikan saran dan masukan. 

Kegiatan yang dipandu oleh Direktur Komunikasi Unhas (Ir. Suharman Hamzah, Ph.D) selaku moderator berlangsung lancar hingga pukul 13.00 Wita.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00