Penanganan Laporan Dugaan Pemalsuan Tanah di Polda Sulsel Diapresiasi Ketua Umum LPBB

KBRN, Makassar : Kinerja Tim Penyelidik Dit Reskrimum Polda Sulsel mendapat apresiasi dari Lembaga Patriot Bina Bangsa (LPBB) terkait penanganan kasus tindak pidana dugaan pemalsuan surat dan/ atau memberikan keterangan di bawah sumpah dan/ atau menempatkan keterangan palsu ke dalam akta autentik yang dilaporkan oleh H. Mustari Dg Ngago.

"Kita bersyukur, kasus klien saya berjalan sesuai harapan, apalagi pada  tanggal 25 Januari 2022 mendatang akan digelar perkaranya. Dan kami sangat mengapresiasi kinerja Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan ," urai Ketua Umum LPBB, H. Jamaluddin yang sekaligus merupakan pendamping hukum H. Mustari dalam perkara tersebut, Kamis (20/01/2022).

Diharapkan kedepan hasil gelar perkara kasus yang dilaporkan oleh H. Mustari sejak tanggal 10 November 2021 lalu, sesuai Laporan Polisi Nomor LP-B/347/X/2021/SPKT itu, memberikan kepastian hukum yang jelas dalam artian kasusnya segera ditingkatkan ke tahap penyidikan.

"Kami sangat yakin kasus ini, bisa meningkat ke tahap penyidikan. Pasalnya terdapat berbagai dukungan barang bukti yang cukup jelas, yang telah diserahkan pada awal pengaduan kasus ini," jelas Jamaluddin.

Sementara di tempat terpisah, H. Mustari Dg Ngago menuturkan, bahwasanya kasus yang dilaporkan ini berawal dari adanya temuan sejumlah bukti terkait perbuatan dugaan melawan hukum yang diduga dilakoni oleh terlapor inisial ABM.

Diduga, ABM memalsukan surat dan/atau memberikan keterangan di bawah sumpah dan/atau menempatkan keterangan palsu ke dalam akta autentik berupa keterangan kewarisan.

Seperti dalam keterangan kewarisan yang dibuat di Pengadilan Agama Kabupaten Bulukumba tersebut, yang bersangkutan menyatakan dirinya adalah ahli waris atau anak kandung dari Andi Tjintjing Karaeng Lengkese Daeng Matutu yang meninggal dunia tahun 1961.

"Faktanya, nama yang tertulis di batu nisan kuburan yang diakui oleh terlapor sebagai bapaknya itu, adalah Andi Tjintjing Karaeng Tutu," ujar Mustari via telepon.

Selain itu, terlapor juga mengaku punya saudara kandung seibu sebapak sebanyak 8 orang. Diantaranya Andi Sirajuddin dan Andi Hajrah.

"Sangat aneh, dimana bapaknya yang dia akui sebagai bapak kandungnya bernama Andi Tjintjing Karaeng Lengkese Daeng Matutu meninggal dunia tahun 1961. Namun saudara kandung yang juga disebutnya yakni bernama Andi Sirajuddin, justru lahir 22 Juli 1967. Dan seorang lagi bernama Andi Hajrah lahir 10 Maret 1969 itu faktanya bapaknya adalah Andi Tjintjing Karaeng Tutu," urai Mustari.

Anehnya lagi, pengakuan terlapor, ia juga memiliki saudara sebapak lain ibu bernama Andi Subaedah. 

"Namun faktanya jika Andi Subaedah itu, justru nama bapaknya bukan Andi Tjintjing Karaeng Lengkese Daeng Matutu, melainkan bernama Andi Tjintjing Karaeng Tutu," pungkas H. Mustari.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar