Partisipasi Penuh Terhadap Disabilitas

KBRN, Medan: Manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Namun, manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk lain. Setiap manusia tidak menginginkan terlahir dengan fisik yang tidak sempurna. Namun, dikarenakan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memiliki hak segala hak atas ciptaanNya dan kita sebagai manusia tidak dapat membantah atas ciptaanNya. 

Melalui proses dalam perjalanan hidup dalam interaksi sosial-budaya dan lainnya, bahwa kondisi disabilitas memiliki hak yang sama dengan manusia yang normal. Persamaan hak tersebut harus dijunjung tinggi oleh keluarga, lingkungan sekitar dan bahkan pemerintah yang memiliki wewenang dalam mengatur warga negara.

Merujuk pada regulasi pemerintah dalam mengatur disabilitas dalam Undang-Undang No 8 Tahun 2016 dan pelaksanaan dan pemenuhan penyandang disabilitas berasaskan dapat dilihat pada pasal 2 bahwa: 1. Penghormatan terhadap martabat, 2. otonomi individu, 3.tanpa Diskriminasi, 4. partisipasi penuh, 5. keragaman manusia dan kemanusiaan, 6. Kesamaan Kesempatan, 7. Kesetaraan, 8. Aksesibilitas, 9. kapasitas yang terus berkembang dan identitas anak, 10. inklusif; dan terakhir 11. perlakuan khusus dan Pelindungan lebih.

Mengambil satu point dari asas di atas maka, tulisan ini membahas tentang partisipasi penuh terhadap diasbilitas. Adapun partisipasi kita penuh kepada mereka adalah bagaimana kepedulian kita kepada mereka tanpa meminta imbalan ataupun hal-hal yang menyangkut lainnya. Karena, dengan hadirnya kita di lingkungan mereka menjadikan mereka memiliki kekuatan dan juga semangat dalam mengapai cita-cita dan cintanya dalam menjalani kehidupan ini. Itulah yang dibutuhkannya karena melalui kebersaaman dalam interaksi sosial akan tercipta keindahan bersama dalam kehidupan. 

Mengenai partisipasi kita sebagai manusia normal dalam kehidupan ini bahwa apa yang kita korbankan dan juga pengorbanan kita akan menjadi kenangan bagi mereka, bahkan ini tidak akan hilang dalam catatan sejarah bagi mereka. Namun, tidak semua perjalanan yang dilakukan mulus seperti jalan tol yang tanpa hambatan, tanpa ada maksud menuduh kepada manusia normal, kadang masih ada juga manusia “yang mengesampingkan hak dan martabat mereka” demi kepentingan sesaat dengan tujuan dan maksud tertentu.

Berkembangnya ilmu dan pengetahuan di alam ini menjadikan kekurangan dan problematika bagi penyandang disabilitas secara perlahan-lahan ditemukan bagi peneliti. Menurut Hastuti, Rika, Rezanti dan Hariyanti (2020:32) dalam penelitiannya menyebutkan tidak ramahnya perilaku dan kurangnya pemahaman berbagai pemangku kepentingan, mulai dari keluarga hingga pemerintah, merupakan akar persoalan eksklusi penyandang disabilitas dalam pembangunan.  

Hasil penelitian ini dapat dijadikan suatu rancangan program kerja kita semua dalam bermasyarakat, bernegara. Untuk merancang program kerja kedepannya bagi penyandang disabilitas maka segala segmen yang terdapat di masyarakat, bernegara, bahkan masukan dari Internasional dapat dijadikan masukan yang bermanfaat dan berguna. Sebagai contoh, setiap manusia memiliki kompetensi dan juga keahlian di bidangnya masing-masing maka, karena kita sebagai manusia yang normal secara fisik wajib berbagi ilmu, pengetahuan, wawasan dan juga hal-hal yang mendukung untuk karir mereka ke puncak. Itulah tanggung jawab kita kepada mereka dan untuk bidang profesi serta peluang kerja bagi mereka sangat banyak yang dapat disampaikan kepada mereka. 

Sekarang, Bagaimana kita mengemas profesi tersebut kepada mereka? Dimulai dari alat teknologi, penggunaannya, manfaatnya, serta resiko yang akan mereka hadapi. Kita masih berlomba terus dalam menemukan teknologi baru, kadang kita lupa akan kebutuhan mereka. Sehingga, partisipasi kita belum secara maksimal hadir dalam lingkungan mereka. Selamat hari disabilitas Internasional, 3 Desember 2021. (Sabriandi Erdian)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar